@ DPRD Diminta Bentuk Pansus
@ Dinas Kehutanan Jangan Jadi Penonton
@ Menteri Kehutanan Diminta Turun Tangan
@ Disertifikatkan Atas Nama Krismanto Tobing ?
Tarutung,
Badan Pertahanan Nasional Tapanuli Utara diminta proaktif dan songsong bola dalam menangani kasus penggarapan kawasan hutan di Siarang-arang Kecamatan Tarutung, kata Ramlo R Hutabarat seorang perantau asal Tapanuli Utara yang bermukim di Pematangsiantar. Hal ini katanya, karena perkembangan terakhir diketahui kawasan hutan yang dijadikan areal pertanian itu ternyata sudah diterbitkan sertifikatnya.
“Jadi, Badan Pertanahan Nasional Tapanuli Utara, sudah tersangkut dalam kasus ini”, katanya kepada sejumlah wartawan di Tarutung pekan lalu.
Berdasarkan investigasi yang dilakukannya katanya lagi, ternyata kawasan hutan yang sudah dirubah fungsi menjadi lahan pertanian itu disertifikatkan atas nama Krismanto Tobing yang tak jelas identitasnya siapa. Hal ini dilakukan boleh jadi untuk mengelabui pihak berwajib agar terhindar dari kelebihan batas maksimum atas tanah pertanian, katanya lagi. Untuk itulah dia meminta semua pihak di Tapanuli Utara agar cerdas dan cermat melihat masalah yang ada. Sehingga, fungsi sosial tanah bisa terwujud sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Seperti yang sudah berkali-kali diberitakan, belasan hektar kawasan hutan di Siarangarang Kecamatan Tarutung beberapa tahun ini dirubah fungsinya menjadi areal pertanian. Dalam berbagai kesempatan, Torang Lumban Tobing yang sekarang Bupati Tapanuli Utara mengatakan, areal pertanian itu merupakan miliknya. Dia mengusahakan lahan itu selain untuk membudidayakan berbagai komoditas, juga digunakan untuk peternakan dan arena permainan anak-anak. Padahal, menurut penjelasan pihak Dinas Kehutanan Sumatera Utara, kawasan itu jelas dan pasti merupakan kawasan hutan.
Kepala Dinas Kehutanan Tapanuli Utara pun, Alboin Siregar membenarkan areal pertanian yang sekarang diduduki, dikerjakan dan diusahai Torang Lumban Tobing tadi merupakan kawasan hutan seperti yang dimaksud oleh Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 44 Tahun 2005. Tapi Alboin berdalih pihaknya tidak bisa melakukan tindakan karena selain lahan yang di Siarangarang itu masih banyak kawasan hutan di daerah itu yang juga digarap oleh pihak lain. Alboin memang tidak menyebut apakah lahan milik Sanggam Hutagalung di Kecamatan Siatas Barita juga merupakan kawasan hutan.
“Kalau kami melakukan tindakan terhadap kawasan hutan yang digarap Torang Lumbantobing di Siarangarang, tentunya kami juga harus melakukan tindakan terhadap pihak lain yang juga telah menggarap kawasan hutan lainnya di Tapanuli Utara ini”, kata Alboin Siregar.
Berdasarkan investigasi yang dilakukan wartawan memang, ternyata masih banyak kawasan hutan di Tapanuli Utara yang telah digarap oleh oknum-oknum tertentu. Umumnya oknum-oknum itu adalah pejabat Pemkab Tapanuli Utara atau mantan pejabat di daerah itu. Torang Lumbantobing sendiri, kabarnya selain telah menggarap kawasan hutan di daerah Siarangarang, juga melakukan hal yang sama di daerah Kecamatan Siatas Barita . Luasnya juga belasan hektar dan diyakini perlakuan serta tindakannya ini justru telah melanggar batas kepemilikan seperti yang dimaksud oleh peraturan perundangan.
Ramlo meminta agar DPRD Tapanuli Utara melakukan penyelidikan atas kepemilikan tanah oknum-oknum pejabat pemkab daerah ini. Selain telah melanggar batas kepemilikan , termasuk juga tentang kepemilikan tanah secara absentie, katanya. Selain, dan ini yang lebih parah katanya, lahan-lahan pertanian yang diusahai dan dikuasai para oknum pejabat tadi merupakan kawasan hutan.
“Kalau dirasa perlu, DPRD bisa membentuk Panitia Khusus untuk meneliti kepemilikan tanah sekaligus penggarapan hutan itu”, katanya.
Tentang sertifikasi tanah pertanian khususnya yang di Siarangarang dan dikenal sebagai Vanana Garden, Ramlo meminta Badan Pertanahan Nasional Tapanuli Utara untuk mengambil sikap tegas dan jelas. Sekiranya sertifikasi tanah itu dilakukan sebelum 2009 ketika Peta Kawasan Hutan sesuai SK Menhut belum sampai kepada pihak BPN, tapi sekarang pihak BPN harus mencabut dan membatalkannya. Tidak ada yang paku mati menurut Ramlo, meski pun sertifikat tadi merupakan Sertifikat Hak Milik. Artinya, katanya, Sertifikat Hak Milik pun bisa dibatalkan kalau belakangan ternyata terdapat kekeliruan.
Kata Ramlo, dengan situasi yang begitu gawat di Tapanuli Utara khususnya soal penggarapan-penggarapan kawasan hutan, agaknya sudah masanya Menteri Kehutanan memberi perhatian yang serius. Dia memberi misal kawasan hutan di daerah Kecamatan Siborongborong yang sekarang sudah dirubah menjadi berbagai keperluan, termasuk dijadikan sebagai pabrik dan galon minyak (SBPU) Kalau dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin bencana alam banjir bandang misalnya bisa suatu masa mengancam daerah ini.
“SBPU yang sekarang ada di kawasan Kecamatan Sipoholon milik salah seorang pengusaha di Tarutung, barangkali pun merupakan kawasan hutan juga”, katanya.
Di sisi lain, Ramlo juga meminta pihak Dinas Kehutanan Tapanuli Utara yang sekarang dipimpin Alboin Siregar supaya bekerja dengan secara songsong bola, tidak bagai terpaku dan menjadi penonton. Kalau dirasa perlu kata dia, Alboin digantikan saja dengan orang lain yang paham dan mengerti hutan. Apalagi, Alboin menurut Ramlo merupakan orang yang berlatarbelakangkan pertanian.
Ketidakpahaman Alboin Siregar di bidang kehutanan, menurut Ramlo dapat dicatat pada kinerjanya selama menjadi Kepala Dinas Kehutanan Tapanuli Utara belakangan ini. Berbagai persoalan muncul di daerah itu yang menyangkut ketidak beresan pengelolaan hutan. Dia menunjuk beberapa dugaan kasus yang katanya akan segera diungkap dalam waktu dekat.
“Ini kelak akan diungkapkan untuk membuktikan bahwa Alboin Siregar memang tidak memiliki kecakapan dalam bidang kehutanan”, katanya.
Menurut investigasi yang dilakukan pihaknya, katanya, pembibitan-pembitan kayu-kayuan yang ditangani Dinas Kehutanan Tapanuli Utara tahun anggaran 2010 lalu misalnya, sarat dengan dugaan kasus korupsi yang mengakibatkan kerugian pada keuangan negara. Termasuk, pencurian kayu di beberapa kawasan yang terkesan tidak mampu diatasi dan diberantas Alboin Siregar selaku Kepala Dinas. Diduga kata Ramlo, beberapa oknum staf Dinas Kehutanan telah bermain, namun karena keterbatasan profesionalisme Alboin di bidang kehutanan, semua itu tidak mampu dicegah Alboin dan tidak mampu ditanggulanginya.
Di sisi lain Ramlo meminta perhatian putra daerah Tapanuli Utara yang banyak sekali tinggal di perantauan. Secara khusus, hutan Tapanuli Utara sudah porak poranda akibat pengelolaannya yang tidak profesional oleh Alboin Siregar yang sekarang dipercaya Torang Lumbantobing sebagai Kepala Dinas Kehutanan. Karenanya dia meminta agar putra daeran yang berada di perantauan mau memberi waktu, tenaga, pikiran termasuk uang, untuk pembangunan di sektor kehutanan di daerah ini.
“Hutan Tapanuli Utara sekarang harus dilola secara profesional. Kalau tidak, bukan tak mungkin daerah ini suatu masa akan menjadi rawan bencana”, katanya.(erha)
____________________________________________________________________
Ramlo R Hutabarat
0813 6170 6993
____________________________________________________________________
Sabtu, 21 Mei 2011
Kamis, 19 Mei 2011
Melanglang Sebagai Jurnalis (Cuplikan Bukuku : Orang Pinggiran yang Selalu di Tengah)
Ramlo R Hutabarat
Aku bangga dan senang sekali menjadi jurnalis. Sebagai jurnalis, aku punya kesempatan untuk bepergian kemana-mana, berkenalan dengan siapa-siapa, bahkan berbuat apa-apa. Aku pernah ke kawasan Sionom Hudon di pedalaman Kabupaten Humbang Hasundutan, yang berbatasan dengan Kabupaten Pakpak Bharat, pernah pula ke Sihulambu di Tapanuli Selatan melintasi Ramba Siala di Kecamatan Garoga Tapanuli Utara. Aku pernah ke Ibukota Jakarta Raya, Bandung, Semarang hingga ke Surabaya. Boleh jadi pada suatu malam aku ngomong-ngomong dengan lonte di lokalisasi pelacuran, tapi siangnya aku ngobrol ngalor ngidul dengan seorang pimpinan sinode suatu Gereja.
Waktu di Pekanbaru dulu, 1980, sebenarnya namanya saja aku tinggal di kota minyak itu. Aku tak kerasan seperti banyak kawanku, yang ongkang-ongkang di Balai Kota atau Gebernuran entah ngapain saja. Karena aku suka menulis terutama reportase, aku cenderung suka ke berbagai daerah di wilayah Propinsi Riau. Hari-hari berlalu seiring lembaran-lembaran kalender yang disobek, aku melanglang antara lain ke Bangkinang (Kabupaten Kampar), Tembilahan, Rengat, Tanjung Pinang, juga ke Pulau Kijang. Bahkan, aku juga menyambangi Lirik, Taluk Kuantan, dan entah apa-apa lagi kecamatan atau desa di bumi Lancang Kuning itu.
Pada era 1980-an, jarak tempuh Pekanbaru – Rengat harus dilalui selama satu malam penuh dengan bus umum. Berangkat sore dari Terminal di Jalan Arengka Pekanbaru, dan tiba besok paginya antara pukul 05.00 – 06.00 WIB di Rengat. Suatu perjalanan panjang yang melelahkan dan membosankan, membelah malam yang gelap dan pekat. Gelap yang menyimpan beribu kerahasiaan. Kerahasiaan yang diliputi dan berselimutkan misteri. Misteri yang sulit untuk dikuak.
Perjalanan panjang dan melelahkan antara Pekanbaru – Rengat waktu itu, dikarenakan belum dibangunnya jembatan di beberapa sungai besar yang ada di daerah itu. Kalau aku tak salah, ada lima sungai. Kendaraan sekaligus penumpang, harus diseberangkan dengan getek yang orang orang disana menyebutnya pelayangan. Barangkali, karena bagai melayang di atas air, disebut jadi pelayangan Kalau air sungai sedang pasang, getek tak bisa diseberangkan karena tak ada pendaratannya di tepian. Tapi kalau air sungai pun tengah surut, getek juga tak bisa diseberangkan karena bisa kandas dan tersangkut di dasar sungai. Oalah..
Pernah waktu aku menuju Rengat, sungai di Pasar Ringgit banjir bandang. Kami menunggu air surut di tepian sungai, pada gelapnya malam yang sunyi mencekam. Tapi yang datang, banjir bandang makin menerjang menghadang. Ketika penumpang lainnya terlelap di dalam bus yang kami tumpangi, aku turun dan memasuki warung kecil di pinggir sungai. Pelayannya seorang dara Melayu pedalaman yang menurutku cantik menarik. Dia menyuguhiku teh manis dengan senyumnya yang khas dan berkesan. Pada pandangan pertama saja, aku sudah mengatakan dalam hatiku bahwa dara itu cantik. Pada pandangan kedua, aku tidak meragukannya lagi bahwa dia memang cantik. Dan aku suka (melihat) perempuan cantik.
Ketika hingga sore besoknya air tak juga surut, aku masih saja berada di warung tadi. Waktu yang lowong kumanfaatkan untuk membaca dan menulis. Juga, tentu menerawang entah kemana saja, apalagi kalau hanya menerawang tak pernah dilarang. Aku menerawang pada perusahaanku tempatku bekerja. Juga menerawang pada tanah leluhurku di Tapanuli Utara, juga menerawang pada dara Malayu pelayan warung itu yang cantik jelita.
Tengah menerawang, pelayan warung itu mendekatiku, menghampiriku, dan duduk di sampingku. Dia menatapku dalam dan tajam. Dipandanginya begitu, aku bagai terpaku di tempat dudukku. Pandangan dan tatapannya terasa dalam sekali sampai bagai menucuk jantungku. Aju jadi serba salah.
“Air tak surut-surut”, katanya dengan dialek Melayu yang kental. Aku diam saja, merasa kalimat itu tidak ditujukannya padaku. Dilemparkannya pandangannya ke arah air di lantai warungnya yang melimpah. Angin nakal menyibakkan roknya yang lebar. Jantungku pun berdebar. Dadaku bergetar.
“Lapar ?”. katanya tiba-tiba dan secara tiba-tiba pula aku marasa lapar. Aku menggangguk dan segera disiapkannya penganan untukku. Kepala mayung lebih sebesar kelapa disuguhkannya untukku. Digulai dengan lemak santan, dan aku pun melahapnya dengan nikmat.
“Ayahku sekarang di Medan”, katanya sambil mencoba merapikan cara duduknya dan semakin mendekat ke arahku. Aku memandangnya dalam-dalam.
“Di Medan ?”
“Ya. Beberapa tahun lalu ayahku merantau ke Medan dan tak pernah pulang. Kabarnya dia sudah kawin lagi disana. Aku ingin menjenguknya kesana”, katanya seperti tak mengalamatkan kepada siapa-siapa. Aku diam saja. Aku tak paham waktu itu, mengapa ada seorang ayah, seorang suami yang kawin lagi.
Ketika sampai besoknya air tak juga surut , aku diajaknya mengambil buah rambe ke kebunnya. Kami menggunakan sampan kecil dan aku mengkayuhnya menyusur perkampungan yang sunyi dan sepi. Aku memang tergolong mahir mengkayuh sampan karena waktu di Sungai Liput dulu aku kerap mengkayuh sampan untuk menyeberangi Sungai Simpang Kanan. Kami pun ngobrol entah tentang apa saja. Dan entah siapa pula yang memulai, kami bicara tentang cinta yang kata orang buta. Tak mengenal suku, latar belakang dan agama. Sesekali, aku harus menghindarkan sampan dari terjangan kayu-kayu balok yang dihanyutkan air.
Di kebun rambenya, aku memetik buahnya. Kupetik pelan dan perlahan, dan dia memasukkanya ke mulutnya yang mungil. Dilumatnya buah rambe itu di bibirnya juga dengan pelan dan perlahan. Wajahnya berbinar menikmati buah itu, dan dadaku bergetar sementara jantungku pun berdebar. Aku memetik buah rambe setelah memanjat pohonnya di atas, dan dia menampungnya di bawah. Sunyi. Sunyi sekali. Sepi. Dan sunyi serta sepi sering membuat kita lupa pada segala. Lupa pada diri sendiri. Aku lupa aku. Dia pun lupa dia. Kami lupa kami.
Lantas pada suatu waktu pun, aku pernah berkunjung ke kawasan di sekitar Taluk Kuantan. Sekarang aku tak ingat lagi apa nama daerah itu, tapi merupakan daerah baru perluasan kebun PTP V. Aku kesana karena harus menagih uang koran SIB yang sudah tertunggak beberapa bulan. Aku tak tahu sebelumnya, kalau setelah sore tak ada lagi kendaraan umum dari sana ke Taluk Kuantan.
Aku harus memilih jalan kaki ke Taluk Kuantan sore itu juga yang jaraknya sekira 12 kilometer karena tak ada pilihan lain. Aku susuri jalan khas perkebunan yang khas tidak beraspal dan senja pun mulai diusir malam. Sesekali ketika gelap telah menyelimuti perjalananku, aku harus nyalakan korek api agar lumpur yang menghempang perjalananku dapat kuhindari. Tapi apa itu ?
Refleks aku berhenti dan memasang mata serta telinga. Jantungku berdebar keras. Seekor raja hutan melompati sisi ruas jalan dari sebelah kiriku ke sebelah kananku. Tubuhku gemetaran bahkan menggigil. Tapi perjalanan aku lanjutkan dengan bernyanyi-nyanyi kecil. “… Sepanjang jalan Tuhan pimpin, itu cukup bagiku. RakhmatMu kutak sangsikan karena Engkau sertaku …”
Di tengah perjalanan aku temukan orang banyak berkumpul. Ternyata disana ada layar tancap untuk karyawan perusahaan perkebunan, yang katanya dilakukan sekali sebulan. Aku ikut nimbrung nonton dan pulangnya bersama awak yang memutar film itu ke Taluk Kuantan. Karena di tempat duduk bagian depan truk itu tak muat lagi, aku pun menumpang truk tadi di bagian belakang bercampur bersama beberapa ekor kerbau. Ketika hujan berderai dan kerbau-kerbau itu pun berak, kotorannya membersit ke wajahku. Kuhapus wajahku yang penuh kotoran kerbau dengan air hujan yang mengguyur seluruh tubuhku. Di penginapan darurat Taluk Kuantan, kubuka seluruh pakaianku yang berselemak taik kerbau. Kucuci, dan malam itu aku tidur dengan bugil. Bertelanjang ria.
Di Rengat, aku punya seorang kawan marga Sitompul. Dia wartawan SIB yang barangkali paling cerdas di Riau waktu itu. Sebelumnya, dia mahasiswa di Jakarta, tapi karena terlibat Malari dia melarikan diri ke Rengat dan menikah dengan Boru Gultom dari Pahae. Sekarang aku lupa namanya, karena sudah lama sekali kami tak pernah (lagi) berkomunikasi.
Pernah dia menunggak uang koran banyak sekali. Lantas aku mendatanginya ke Rengat untuk menagih uang korannya. Sialnya, ketika aku baru tiba di Reengat, kata istrinya dia baru saja berangkat ke Pulau Kijang. Aku menunggunya beberapa hari, dan selama beberapa hari di Rengat pun sementara aku menginap di penginapan murahan uangku habis sama sekali.
Ketika Sitompul yang satu ini tak juga pulang-pulang dari Pulau Kijang, aku pun jadi tak makan. Lapar dan lapar sekali, hingga membuatku pada malam harinya mengendap-endap ke dapur pemilik penginapan untuk mencari apa yang bisa dimakan. Udang halus yang ada, udang halus mentah itu pun kulahap. Ada terlihatku kelapa yang sudah dibelah, kelapa tadi kulahap. Udang halus mentah campur kelapa, enak dan nikmat kalau teengah lapar. Tak percaya, sudah kucoba.
Gobloknya, ketika besoknya aku mengkomfirmasi informasi yang kudapat kepada Kepada Kepala Bagaian Pembangunan Setdakab Indragiri Hilir tentang dugaan korupsi pengadaan pertapakan kantor bupati, aku disuguhi segepol uang yang jumlahnya tak aku tahu berapa. Dasar goblok, dungu dan bodoh, aku menolak peemberian si pejabat sampai dia menelepon seseorang.
Beberapa saat kemudian, seseorang berpakaian jaksa datang dan segera kubaca nama yang yang tertera di dada sebelah kirinya. Dari nama itu aku tahu pasti dia orang Batak, apalagi marganya sama dengan margaku. Dia memberi tahu aku bahwa dia Kepala Seksi Intelijen pada Kejaksaan Negeri Rengat. Segera aku diajaknya ke kantornya yang jaraknya dengan Kantor Bupati Indragiri Hilir waktu itu cuma sepengusapan rokok putih.
“Cuma dua kutub. Basah dan kering. Dan karena kau marga Hutabarat, aku katakan supaya kau pilih basah”, katanya garang setibanya aku di kantornya.
Kami berdialog keras-keras di ruangan kantornya yang tergolong mewah. Dia marah. Aku juga marah. Dia bilang bahwa dia marga Hutabarat yang gampang marah, aku bilang kami sama-sama marga Hutabarat. Jadi satu pabrik. Tak beda. Kau keras sekali, katanya semakin marah, aku pun semakin marah karena menurutku kami sama-sama marga Hutabarat. Kalau dia pemarah, apa aku tak boleh juga pemarah.
Aku bertahan, wartawan harus berani dan mampu menguak misteri korupsi seperti yang kuduga dilakukan Kepala Bagian Pembangunan tadi. Kalau dugaan tindakan korupsi yang dilakukan okmum tadi tidak diberitakan, itu artinya tindak pidana korupsi akan tumbuh subur dan semakin marajalela, kataku.
Dia marah sekali Malam itu aku dimintanyatidur di rumahnya, dengan alasan ingin berbincang-bincang tntang kampung halaman kami di Tarutung . Aku menurut dan aku diperkenalkannya kepada istrinya yang cantik. Kalau aku tak salah ingat, itrinya Boru Siburian.
Menjelang tengah malam, pintu rumahnya diketuk pelan dan perlahan serta berirama. Sekejab bagai berkelabat, jaksa itu masuk kekamarnya dan keluar dengan sepucuk pistol yang digenggamnya di tangan. Daun pintu dikuakkaannya sedikit dan menjulurkan pistol tadi kepada orang yang meengetuk pintu itu. Aku terpelongo. Seperti tak yakin apa yang barusan kusaksikan denegan mata kepala sendiri.
“Kalau tidak begitu, mana bisa aku hidup layak. Lihat itu. Sana. Ini”, kaatanya sambil menunjuk barang-barang miliknya di ruangan depan rumahnya. Aku terpelongo sekali lagi. Betul, ada bertengger sebuah pesawat teve berwarna disana, yang waktu itu masih merupakan barang mewah dan mahal. Ai rumah panggungnya pun, dilapis ambal yang sanking tebalnya kupikir lebih tepat kalau kusebut permadani. Segala macam barang dan peralatan, memang tergolong wah dan mewah memang di rumhanya, yang ada ada hanya dalam mimpi masyarakat biasa.
Sampai dini hari jaksa itu nyeroocos kepadaku, yang katanya menasehati agar aku bisa menjadi orang. Dia bilang, di tanah leluhur kami, di kampung kami umumnya sepupu kami hidup dengan miskin dan penuh keterbatasan. Maka ketika kita punya peluang dan kesempatan, manfaatkanlah itu dengan baik. Sebab, menurut dia, kemiskinan itu menyakitkan. . Orang miskin tak bisa melakukan-apa-apa. Jangan miskin, sebab kalau kita miskin tak akan ada kawan apalagi sahabat, katanya nyerocos kayak burung betet.
Dasar begok juga bandal, aku tentang ucapan dan pendapat – pendapat jaksa yang menurut tarombo harus kupanggil dengan sebutan amang tua itu. Aku bicara kepadanya, tidak sebagai seorang anak pada seorang bapak yang menjadi tradisi Batak. Aku sadari itu tidak sesuai tradisi Batak, meski pun aku orang Batak. Aku percaya pada kalimat yang menyebut : Ompunta ijolo martungkot siala gundi. Napinungka ni na parjolo, siihuthon ni naumpudi. Tapi aku juga percaya pada kalimat yang menyebut : Mumpat talutuk sega gadu-gadu. Salpu uhum na buruk, ro uhum na imbaru.
Maka dengan garang aku katakan kepada amangtuaku itu, bahwa hidup miskin memang tidak baik dan juga tidak bagus. Manusia kataku, harus kaya bahkan harus makmur dalam hidupnya. Manusia harus bekerja keras agar terhindar dari kemiskinan dan kemelaratan. Aju setuju kataku, dan karena itu ketika peluang ada, manausia harus memanfaatkannya dengan baik dan benar. Kukatakan dengan tegas dan garang pada jaksa itu, manusia harus mencari uang, mencari harta sampai sebanyak-banyaknya. Tapi, jangan lakukan itu melalui kejahatan. Menjadi kaya boleh menjadi harapan dan idaman, tapi jangan lakukan lewat kejahatan, kataku garang.
“Akh. Ndang tarpodaan ho hape. Modom ma hita”, katanya dengan wajah kusut dan kusam. Padahal, aku senang sekali mampu mengucapkan kata-lata itu secara laangsung kepadanya, yang secara adat Batak tak boleh kutentang.
Suatu masa, aku pernah membeli vespa tua dan butut daro seorang Minang yang tak kukenal, Vespa Konggo pembuatan tahun 1960 warna biru. Besoknya langsung kupacu ke Bangkinang, untuk mengunjungi kebun pembibitan buah-buahan. Aku berangkat dari Pekanbaru pagi-pagi sekali, dengan perasaan bangga karena baru kemarinnya membeli vespa butut yang sudah digigit usia itu.
Beberapa kilometer menjelang tiba di kebun pembibitan buah-buahan tadi, aku berhenti karena terdesak ingin kencing. Kiri kanan jalan sepi, dan pepohonan liar tumbuh satu-satu tak beraturan. Bergidik juga tengkukku ketika haarus berhenti disitu, tapi apa mau dikata nafsuku untuk kencing tak terbendung.
Waktu aku mau berangkat lagi, mesin vespa celaka itu tak mau bergerak meski pun kuengkol berulang-ulang. Kuengkol berulang-ulang, dan berulang-ulang pula ngadat tak karu-karuan. Aku periksa busi, bagus. Karbulator, bagus. Bahkan platinanya pun kuperiksa, juga bagus. Aku paham bahkan mahir memang dalam soal mesin vespa, sebab mulai mengenal kendaraan roda dua bermesin aku menggunakan vespa. Vespa tua pula. (waktu bekerja di Kantor Pusat GMI di Jalan Hang Tuah Medan, aku pun diberi kendaraan dinas vespa tua)
Ketika tubuhku sudah bersimbah peluh apalagi matahari sudah mulai menyengat, seseorang bertelaanjang dada datang entah dari arah mana. Tiba-tiba saja dia kulihat ada di sampingku. Tak sempat dia kutanya siapa dan dari mana koq tiba-tiba ada disampingku, dia mengengkol vespaku ringan dan enteng. Dan mesinnya pun bergetar. Bergetar dengan suara yang datar tak kurang suatu apa pun.
“Disini tempat keramat. Tak boleh orang kencing memang”, katanya singkat sekali dan segera pergi dan hilang si celah-celah pepohonan. Sekejab aku terpelongo. Setengah kejab berikutnya darahku berdesir. Seperempat kejab berikutnya lagi bulu kudukku berdiri. Aku cicing lari sahirang arah Bangkinan.
Selama di Riau, aku pun banayak melihat orang Batak dengan segala macam bunga rampainya. Banyak orang Batak yang masih muda-muda merantau ke Riau dari Tapanuli, waktu itu.Mereka bermaksud mendapatkan pekerjaan disana walau Cuma tamatan SMA plus tidak punya keterampilan apa saja. Diberangkatkan orang tua serta sanak saudara dari Tapanuli, dengan doa dan pengharapan. Juga diberangkatkan dengan cinta dan air mata. Hidup di Tapanuli dirasa bagai di neraka, sedang Riau dianggap sebagai sorga.
Tapi faktanya, Riau tidak seperti yang dibayangkan. Sama dengan di belahan lain di muka bumi ini, tanpa ilmu tanpa pengetahuan tanpa keterampilan mau jadi apa ? Kehidupan, sungguh teramat kompetitif. Siapa cerdas dan mampu bekerja keras saja belum tentu berhasil. Resep yang paling jitu aku kira, harus mampu bekerja keras dan berhemat. Itu pun, tentu dengan modal ilmu dan pengetahuan. Juga keterampilan. Dan untuk semua itu hanaya jalan jalan, lewat dan melalui pendidikan. Makanya, aku sebenarnya tidak sependapat dengan janji-janji politisi soal pendidikan gratis. Cuma satu jalan mencapai sukses, lewat pendidikan. Koq gratis pula ?
.Pemuda-pemuda Batak yang datang dari Tapanuli ke Riau dengan modal cuma ijazah SMA dan minus keterampilan itu, akhirnya harus menjadi pekerja kasar.
Ada yang masuk hutan bekerja pada perusahaan-perusahaan HPH (Hak Pengusaha Hutan) yang sememang banyak di Riau sampai ke Jambi sana. Di tengah belantara yang tak ada lagi di peta, nereka bekerja keras dan kasar serta bersahabat dengan maut. Boleh jadi pepohonan ditebang dan menimpa tubuh si pemuda Batak Cuma kabar saja yang sampai ke Tapanuli beberapa bulan kemudian yang menyebut sia sudah alfatiha. Boleh jadi pula, pada suatu malam yang pekat tubuh si pemuda Batak hilang setelah raja hutan mampir di base camp (perkemahan) Segala macam binatang mau tak mau senang tak senang harus disahabati. Mulai dari ular, kalajengking, lipan selebar papan sampai binatang buas. Jangan tanya bagaimana kalau menderita suatu penyakit di belantara. Hari-hari saja tak ddiketahui lagi, yang mana Senin yang mana pula Selasa apalagi Minggu. Golap. Ada juga yang nekad bercampur frustrasi, akhirnya masuk hutan di kawasan Taluk Kuantan untuk mencari getah jelatang. Boleh jadi naas menimpa, getah jelatang mengenai tubuh. Aku pernah menjumpai seorang pemuda Batak di Taluk Kuantan yang kena getah kelatang. Tubuhnya malala dikerubuti lalat dan aku cuma bisa memberinya sedikit uang untuk berobat.
Di belantara, sesungguhnya pemuda-pemuda Batak itu diberi gaji dalam jumlah yang cukup besar. Tapi dasar kurang ilmu minus pengetahuan mereka umumnya gandrung main judi dan mencandui minuman keras. Aku kaget setengah hidup ketika menegetahui ada yang menenggak minuman keras bagai minum air putih saja. Dan toke biasanya, dengan gembira memberikan mereka segala macam jenis minuman keras bahkan diberi modal untuk main judi di tengah hutan denegan catatan semua diperhitungkan ketika gajian.
Sesekali pemuda-pemuda Batak itu mendapat cuti dan keluar dari hutan. Sudah tentu, mereka memebawa uang yang cukup banyak yang boleh jadi termasuk gajinya untuk beberapa bulan ke depan. Kembali pada dasarnya mereka tidak memiliki ilmu apalagi pengetahuan, di Pekanbaru pun mereka hidup beberapa bulan dengan over acting. Segala seolah gampang apalagi bertemu dengan kawan sekampung atau anak boru. Pakaian pundibeli di pusat-pusat perbelanjaan yang sudah tentu haraganya melangit. Mentraktir siapa saja mangalllangi apalagi minum minuman keras kapan dan dimana saja. Mereka mencoba agar terkesan tampil perlente dengan pakaian yang mahal dan mewah, padahal tetap saja gaya Humbangnya masih saja kentara. Kerja akeras di belantara menyabung nyawa, tapi ketika uang didapat dihambur-hamburkan seolah tak berharga,
Tapi banyak juga kulihat pemuda Batak di Pekanbaru yang pintar, cerdas dan cerdik. Biar tak memiliki pendidikan memadai bahkan SMP pun tak tamat, tapi mampu berkompetisi dengan orang lain yang berpendidikan lumayan. Kerja keras dan berhemat antara lain resepnya. Tekun, ulet, cermat dan berdisiplin. Taat dan cekatan, dan kadang kalau diperlukan haarus pajago-jagohon.Dan tentunya, doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Di Pekanbaru waktu itu, ada seorang putra Batak bernama Jack Marbun yang menjadi wartawan. Barangkali, waktu di kampungnya di Humbang Hasundutan dulu, namanya Ojak, berasal dari kata Marojahan. Sosoknya pendek kurus nyaris semekot. Ada yang bilang, sebelum jadi wartawan dia adalah anggota CPM yang dipecat karena disersi dari kesatuannya. Aku tak tahu persis soal kebenaran cerita ini, apalagi aku tak percaya ada anggota CPM yang semekot.
Kelak, Jack menjadi Kepala Perwakilan Harian Angkatan Bersenjata yang waktu itu terbit di Medan, milik Kowilhan I (Komando Wilayah Pertahanan) Dia pekerja keras, pekerja ulung dan penuh percaya diri. Sering pajago-jagohon, karena kata dia awalnya adalah pajago-jagohon kemudian baru bisa jago. Bagaimana bisa jago katanya kepadaku suatu hari, kalau pajago-jagohon saja tak pernah. Dan dengan modal semua tadi, Harian Angkatan Bersenjata pun pernah memiliki tiras terbesar di Propinsi Riau.
Status Jack sebagai Kepala Perwakilan Harian Angkatan Bersenjata, dimanfaatkannya dengan baik sekali. Dia pun mendapatkan borongan banyak proyek pemerintah baik yang lewat tender mapun Penghunjukan Langsung. Proyej dari PTP V pun yang barus membuka arealnya di Riau banyak yang dikerjakan Jack. Waktu itu aku ingat, ada Drs BV Harianja, salah seorang ADM PTP V yang menjadi sahabat Jack. Melalui Harianja, Jack mendapatkan borongan itu.
Jack pun jadi kaya raya. Kaya raya. Awalnya dia hanya mengontrak rumah sederhana di Jalan Melati Sukajadi, tapi belakangan memiliki rumah sendiri yang mewah dan wah. Beberapa saudara sepupunya dari Humbang Hasubdutan dibawanya ke Pekanbaru, termasuk beberapa kawan sekampungnya. Semua mereka dipekerjakan Jack di perusahaan kontraktornya, tapi kalau proyek tidak ada dipekerjakannya di Haarian Angkatan Bersenjata. Semua mengaku wartawan, biar tak punya pendidikan apa-apa.. “Kenapa rupanya. Kita yang ngatur”. Katanya ketika kutanya bagaimana orang yang tak berpendidikan dijadikan wartawan. Siapa saja bisa menjadi wartawan menurut Jack, yang penting dia bisa marganjang ni dila dan sesekali mangogapi. Aku senyum, Jack juga senyum. Yang pasti, Jack belakangan terpilih menjadi Bendahara PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Riau. Mana bisa orang yang tidak kaya menjadi bendahara sebuah organisasi. Bendahara Serikat Tolong Menolong (STM) saja harus orang kaya. Termasuk bendahara lumpulan marga.
Lantas ada lagi kawanku bernama Oberlin Marbun. Kalau aku tak salah, SMP saja dia tak ppernah selesai di kampung asal leluhurnya juga di Humbang Hasundutan. Dia datang dari kampungnya hanya deengan tekad mau jadi orang kaya. Sepaanjang hari, dia naik motor Honda CB butut kelililing Pekanbaru menjual koran Sinar Peembangunan (sekarang Medan Pos) milik Ibrahim Sinik. Aku dekat dan akrab dengannya karena kami kerap ongkang-ongkang di kios milik Omriky Lumbangaol di Jalan Arengka sambil menunggu pesawat Garuda yang datang dari Medan membawa koran. Ada juga disana Saut Sinaga tapi di Pekanbaru dikenal orang sebagai DR Lupina Sinaga. Sinaga yang satu ini termasuk orang yang sangat jago karena pernah menjadi Sekretarsis DPW Pemuda Pancasila yang waktu itu dipimpin Djufri Hasan Basri yang pengusaha hutan. Oh ya, pernah jugaa beberapa bulan Bangun Tobing datang kesana, waktu dia sporing dari Siantar. Pareman Tarutung ini waktu itu menikam seseorang di Terminal Sukadame Siantar, lalu di DPO-kan polisi dan minggat ke Pekanbaru.
Oberlin kukenal sebagai orang yang gigih, tekun dan perkasa. Kalau memang jalan uang, kemana pun dia mau pergi biar ke lobang buaya. Lobang hantu saja didatanginya kalau memang disitu ada uang. Aku mengenal Oberlin sebagai rajanya raja ogap sekaligus rajanya raja olah. Makanya nama lengkap Oberlin menurut versikuku adalah Oberlin Marbun RO, RO.
“Hei Cina ! Aku kapala di Pekanbaru ini. Mana bagianku”, katanya jelas dan tegas kepada seorang pengusaha HPH suatu hari ketika aku diajaknya ke kantor pengusaha hutan itu. Dasar penakut, waktu itu aku gemetaran. Betapa tidak.Waktu itu kami berada di markas atau kantor pengusaha HPH itu yang sebenarnya menurutku bagai markas mafia saja. Bisa masuk kedalam pun kami, setelah melewati banayak lorong yang berliku-liku dan gelap. Di beberapa sudut sebelum kami bisa berttemu dengan Cina tadi, ada pengawal-pengawal yang berpenampilan seram dan angker. Kalau saja waktu itu kami digonikan dan dibuang ke Sungai Siak, tentu saja ceritaku ini tak akan pernah kutulis.
Sekarang, Oberlin sudah menjadi seorang multi jutawan kalau tak bisa kusebut multi miliuner. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya, tapi aku tetap mendenegar kabarnya dari beberpa kawanku yang sekarang masih (tetap) di Pekanbaru. Oberlin sekarang memiliki perusahaan pers yang diberinya nama Horas Plus. Ada beberapa perusahaan pers kudeengar miliknya, yang seperti perusahaan pers milik orang Batak lainnya hanya bagai kerakap tumbuh di batu saja. Sesekali sampai sekarang, aku menelepon Oberlin sekadar say hello. Lewat telepon kudengar nada suaranya sudah berwibawa dan penuh kharisma. Aku belum pernah (lagi) bertemu dengannya, tapi dari suaranya yang bernada bariton itu aku mendapat kesan dia memang sudah kaya sekali. Meski pun, Bahasa Indonesia-nya masih marpasir-pasir, dan karena itu aku lebih suka berkomunikasi dengannya menggunakan Bahasa Indonesia.
Waktu di Pekanbaru sebenarnya, aku pernah jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang Boru Simamora yang namanya Elfride (aku tak ngerti kenapa namanya tidak Elfrida saja) Dia orang Matapao karena orang tuanya tinggal di Serdang Bedagai itu (waktu itu masih Deli Serdang) Elfride tinggal di Pekanbaru karena dia bekerja di sana sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah. Sekarang tentunya dia sudah menikah. Menikah dengan seorang laki-laki yang aku tak tahu siapa secara pasti. Yang pasti kutahu, laki-laki suami Elfride sekarang bukan aku.
Sesungguhnya, aku suka pada Elfride. Cuma, sampai saat itu aku tidak tahu bagaimana caranya bercinta. Datang ke rumahnya bercengkerama, sudah jelas aku tak punya waktu. Nyaris setiap hari aku sibuk sekali dan menikmati semua pekerjaan dan tanggung jawab perusahaan yang ditimpakan ke pundakku. Aku enjoy sekali bekerja memang waktu itu, sebab selain menangani bidang keredaksian aku juga menangani pemasaran sekaligus ketatausahaan dan penagihan. Juga, pendistribusian. Aku senang sekali dengan segala macam pekerjaan itu dan itulah barangkali sebabnya mengapa aku tak pernah sempat menyambangi Elfride le rumahnya.
Beberapa kawanku kerap menyampaikan pesan Elfride, agar aku datang ke rumahnya. Tapi kalau malam tiba aku harus memilih, ke rumah Elfride atau menulis. Aku pilih yang terakhir, sebab kalau menulis aku akan dapat tidur dengan nyenyak. Sedang kupikir, kalau aku ke rumah Elfride, ngapain pula aku dan apa pula yang kami percakapkan. Anehnya, beberapa kali Elfride datang ke rumahku, beberapa kali pula aku cueki. Padahal, seperti yang sudah kukatakan tadi, aku suka Elfride.
Beberapa waktu kemudian, Elfride tak pernah lagi nitip salam kepadaku lewat siapa saja. Juga, tidak lewat Itoku Verny atau Nerva – Boruni Amangudaku yang tinggal di Jalan Durian. Sampai suatu malam Minggu aku tiba-tiba nongol ke rumah Elfride. Aku datang mendadak dan tiba-tiba, menegendap-endap pula mendekati teras rumahnya yang samar samar didterangi lampu pijar, persis teroris yang ingin meledakkan bom dengan cara bunuh diri.
Dari jarak tak lebih sepuluh meter, aku melihat Elfride tengah duduk berdampingan dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu pun kukenal pula, seorag marga Panjaitan yang bekerja di Kantor PUPN (Panitia Utang Piutang Negara) Beberapa jenak aku perhatikan dengan seksama. Beberapa jenak pula keduanya tidak lagi duduk berdampingan. Tapi sudah bertindihan akhirnya berdempetan.Dengan jelas sekali aku dengar suara Elfride merintih. Aku tak bisa membedakan mana rintihan karena kesakitan mana pula rintihan karena kenikmatan. Aku segera berlari mengendap dari samping rumahnya. Berlari melewati beberapa pot bunga yang satu-satu bertumbangan karena kutabrak. Dua ekor anjing Elfride menyalak dengan garangnya menegejarku. Kemejaku robek tak jelas kutahu kena kawat tiang jemuran atau kena paku di tiang jemuran.
Beberapa waktu kemudian menjelang tahun baru, aku diajak Elfride mudik ke kampungnya ke Matapao. Aku membeli dua tiket bus Makmur jurusan Medan, lengkap dengan segala macam keperluan yang dibutuhkan dalam perjalanan. Dia berwajah cerah ketika kami berangkat pada senja yang temaram. Bus bergerak melaju lewat lintas Barat melalui Bukit Tinggi. Malam pun beranjak dengan damainya.
Ketika bus terus melaju, aku diam saja bagai batang pisang di tempat dudukku di sebelah Elfride. Aku diam saja kecuali menjawab sepatah kata kalau Elfride bertanya soal tetek bengek. Wajahku waktu itu pasti ceria. Berbeda dengan wajah Elfride yang kusut mengusut mirip kulit jeruk purut.
Menjelang Payakumbuh, badan bus yang kami tompangi terseok-seok di permukaan jalan beraspal yang penuh lobang. Mesinnya pun, kadang mengerang. Aku berpegang pada bahu kursi, dan Elfride berusaha berpegang pada pundakku. Wajahnya memelas memandangku.
“Pening aku Ram”, katanya pelan hampir tak terdengar. Aku pura-pura tak mendengar.Menurut keyakinanku, Elfride hanya sekadar pura-pura, dan aku tak suka pada siapa pun yang pura-pura. Makan daging kura-kura saja aku tak suka. Selintas kupandang wajahnya, yang terlintas justru pemandangan tempo hari ketika dia saling berdampingan, berdempetan bahkan bertindihan dengan kawanku marga Panjaitan.
“Sakit perutku, Ram”, katanya kemudian berlagak manja. Aku suka perempuan manja memang, tapi tak ssuka pada perempuan yang pura-pura manja.
“Ram !”, katanya da memandangku.
“Apa ?”, kataku dan mengarahkan pandangan ke arah luar. Bus masih saja menembus malam dan pepohonan kulihat seolaj kejar kejaran. Permukaan jalan beraspal memang sudah dalam kondisi baik. Hening. Sepi. Sesekali kulihat rumah penduduk yang dditerangi lampu teplok. Pikirku, sudah barang tentu penghuni rumah-rumah itu sudah nyenyak di peraduannya.
“Ram !”, katanya lagi.
“Ya”, kataku tapi mataku masih mengarah keluar.
“Perutku sakit”
“Oh ya”
“Masuk angin mungkin Ram”, katanya dan sekejab kucuri pandang juga ke arah wajahnya. Aku kuatir dia benar-benar sakit perut.
Di Lubuk Sikaping bus kami berhenti. Penumpang turun untuk makan dan minum. Berak, kencing atau apa saja. Aku pun turun, dan refleks seperti kerbau dicucuk hidungnya Elfride pun turun mengikutiku. Dia memegang bahuku ketika menuruni tangga bus yang memang agak tinggi. Aku hampir muntah barangkali karena barusan jalan berkelok-kelok. Usai makan, dia beli balsem Afitson dan segera memberikannya padaku sebegitu bus melaju lagi menembus malam.
“Tolong oleskan di perutku”, katanya masih tetap pura-pura manja.
Aku diam saja tak bereaksi apa pun. Mataku kututup seo;ah aku sudah tertidur lelap. Sekejab berikutnya, jendela bus dibukanya. Angin berhembus kencang hingga menimbulkan dingin mencekam. Dicampakkannya balsem itu keluar dengan wajah kesal tapi garang dan sadis. Aku tertawa ngakak. Tapi tawa ngakakku Cuma dalam hati. Waktu itu kan aku tengah pura-pura tidur.
Di Simpang Matapao lewat Tebingtinggi, bus Makmur berhenti.
“Matapao …! Matakao …!”, teriak kerneknya berkelakar.
Elfride menatapku.
Aku menatapnya.
Kami saling menatap. Tatap tatapan.
` “Kita disini”, katanya sambil bergegas, tapi aku tetap menghenyakkan pantatku di jok bus. Dia memandangku dalam-dalam dan tajam.
“Kita disini Ram. Kota sudah sampai”, katanaya lagi masih tetap memandangku dengan dalam dan tajam.
“Ya. Kau disini. Kau sudah sampai. Aku belum”, kataku dengan datar dan enteng. Terasa longgar sekali dadaku setelah mengucapkan kalimat itu. Aku katakan pada Elfride, aku masih harus menerukan perjalanan sampai ke Medan. Aku ingin bertahun baru dengan Mamakku di Medan, kataku lagi masih dengan enteng, tenang dan kalem. Tak ada beban apa pun, tak ada beban sedikit pun ketika akata-kata itu meluncur dari mulutku. Dia menangis. Air matanya menetes perlahan. Dan aku menerawang lagi pada peristiwa beberapa waktu lalu ketika kulihat dia berdampingan, berdempetan dan akhirnya bertindihan dengan maarga Panjaitan.
“Tarik …. !”, kernek bus Makmur berteriak keras sebegitu Elfride menuuruni tangga bus. Sendiri menenteng dua tas besar. Supir pun menginjak gas dengan keras. Bus meluncur mulus di atas aspal mulus yang baru selesai dikerjakan PT Kuk Dong dari Korea.
“Ai boasa gabe sundat hamu managalua Lae ?”, tanya seorang penumpang di sebelahku. Aku diam saja pura-pura tak mendengar celotehnya. (Bersambung)
Ramlo R Hutabarat
HP : 0813 6170 6993
____________________________________________________________________
`
Aku bangga dan senang sekali menjadi jurnalis. Sebagai jurnalis, aku punya kesempatan untuk bepergian kemana-mana, berkenalan dengan siapa-siapa, bahkan berbuat apa-apa. Aku pernah ke kawasan Sionom Hudon di pedalaman Kabupaten Humbang Hasundutan, yang berbatasan dengan Kabupaten Pakpak Bharat, pernah pula ke Sihulambu di Tapanuli Selatan melintasi Ramba Siala di Kecamatan Garoga Tapanuli Utara. Aku pernah ke Ibukota Jakarta Raya, Bandung, Semarang hingga ke Surabaya. Boleh jadi pada suatu malam aku ngomong-ngomong dengan lonte di lokalisasi pelacuran, tapi siangnya aku ngobrol ngalor ngidul dengan seorang pimpinan sinode suatu Gereja.
Waktu di Pekanbaru dulu, 1980, sebenarnya namanya saja aku tinggal di kota minyak itu. Aku tak kerasan seperti banyak kawanku, yang ongkang-ongkang di Balai Kota atau Gebernuran entah ngapain saja. Karena aku suka menulis terutama reportase, aku cenderung suka ke berbagai daerah di wilayah Propinsi Riau. Hari-hari berlalu seiring lembaran-lembaran kalender yang disobek, aku melanglang antara lain ke Bangkinang (Kabupaten Kampar), Tembilahan, Rengat, Tanjung Pinang, juga ke Pulau Kijang. Bahkan, aku juga menyambangi Lirik, Taluk Kuantan, dan entah apa-apa lagi kecamatan atau desa di bumi Lancang Kuning itu.
Pada era 1980-an, jarak tempuh Pekanbaru – Rengat harus dilalui selama satu malam penuh dengan bus umum. Berangkat sore dari Terminal di Jalan Arengka Pekanbaru, dan tiba besok paginya antara pukul 05.00 – 06.00 WIB di Rengat. Suatu perjalanan panjang yang melelahkan dan membosankan, membelah malam yang gelap dan pekat. Gelap yang menyimpan beribu kerahasiaan. Kerahasiaan yang diliputi dan berselimutkan misteri. Misteri yang sulit untuk dikuak.
Perjalanan panjang dan melelahkan antara Pekanbaru – Rengat waktu itu, dikarenakan belum dibangunnya jembatan di beberapa sungai besar yang ada di daerah itu. Kalau aku tak salah, ada lima sungai. Kendaraan sekaligus penumpang, harus diseberangkan dengan getek yang orang orang disana menyebutnya pelayangan. Barangkali, karena bagai melayang di atas air, disebut jadi pelayangan Kalau air sungai sedang pasang, getek tak bisa diseberangkan karena tak ada pendaratannya di tepian. Tapi kalau air sungai pun tengah surut, getek juga tak bisa diseberangkan karena bisa kandas dan tersangkut di dasar sungai. Oalah..
Pernah waktu aku menuju Rengat, sungai di Pasar Ringgit banjir bandang. Kami menunggu air surut di tepian sungai, pada gelapnya malam yang sunyi mencekam. Tapi yang datang, banjir bandang makin menerjang menghadang. Ketika penumpang lainnya terlelap di dalam bus yang kami tumpangi, aku turun dan memasuki warung kecil di pinggir sungai. Pelayannya seorang dara Melayu pedalaman yang menurutku cantik menarik. Dia menyuguhiku teh manis dengan senyumnya yang khas dan berkesan. Pada pandangan pertama saja, aku sudah mengatakan dalam hatiku bahwa dara itu cantik. Pada pandangan kedua, aku tidak meragukannya lagi bahwa dia memang cantik. Dan aku suka (melihat) perempuan cantik.
Ketika hingga sore besoknya air tak juga surut, aku masih saja berada di warung tadi. Waktu yang lowong kumanfaatkan untuk membaca dan menulis. Juga, tentu menerawang entah kemana saja, apalagi kalau hanya menerawang tak pernah dilarang. Aku menerawang pada perusahaanku tempatku bekerja. Juga menerawang pada tanah leluhurku di Tapanuli Utara, juga menerawang pada dara Malayu pelayan warung itu yang cantik jelita.
Tengah menerawang, pelayan warung itu mendekatiku, menghampiriku, dan duduk di sampingku. Dia menatapku dalam dan tajam. Dipandanginya begitu, aku bagai terpaku di tempat dudukku. Pandangan dan tatapannya terasa dalam sekali sampai bagai menucuk jantungku. Aju jadi serba salah.
“Air tak surut-surut”, katanya dengan dialek Melayu yang kental. Aku diam saja, merasa kalimat itu tidak ditujukannya padaku. Dilemparkannya pandangannya ke arah air di lantai warungnya yang melimpah. Angin nakal menyibakkan roknya yang lebar. Jantungku pun berdebar. Dadaku bergetar.
“Lapar ?”. katanya tiba-tiba dan secara tiba-tiba pula aku marasa lapar. Aku menggangguk dan segera disiapkannya penganan untukku. Kepala mayung lebih sebesar kelapa disuguhkannya untukku. Digulai dengan lemak santan, dan aku pun melahapnya dengan nikmat.
“Ayahku sekarang di Medan”, katanya sambil mencoba merapikan cara duduknya dan semakin mendekat ke arahku. Aku memandangnya dalam-dalam.
“Di Medan ?”
“Ya. Beberapa tahun lalu ayahku merantau ke Medan dan tak pernah pulang. Kabarnya dia sudah kawin lagi disana. Aku ingin menjenguknya kesana”, katanya seperti tak mengalamatkan kepada siapa-siapa. Aku diam saja. Aku tak paham waktu itu, mengapa ada seorang ayah, seorang suami yang kawin lagi.
Ketika sampai besoknya air tak juga surut , aku diajaknya mengambil buah rambe ke kebunnya. Kami menggunakan sampan kecil dan aku mengkayuhnya menyusur perkampungan yang sunyi dan sepi. Aku memang tergolong mahir mengkayuh sampan karena waktu di Sungai Liput dulu aku kerap mengkayuh sampan untuk menyeberangi Sungai Simpang Kanan. Kami pun ngobrol entah tentang apa saja. Dan entah siapa pula yang memulai, kami bicara tentang cinta yang kata orang buta. Tak mengenal suku, latar belakang dan agama. Sesekali, aku harus menghindarkan sampan dari terjangan kayu-kayu balok yang dihanyutkan air.
Di kebun rambenya, aku memetik buahnya. Kupetik pelan dan perlahan, dan dia memasukkanya ke mulutnya yang mungil. Dilumatnya buah rambe itu di bibirnya juga dengan pelan dan perlahan. Wajahnya berbinar menikmati buah itu, dan dadaku bergetar sementara jantungku pun berdebar. Aku memetik buah rambe setelah memanjat pohonnya di atas, dan dia menampungnya di bawah. Sunyi. Sunyi sekali. Sepi. Dan sunyi serta sepi sering membuat kita lupa pada segala. Lupa pada diri sendiri. Aku lupa aku. Dia pun lupa dia. Kami lupa kami.
Lantas pada suatu waktu pun, aku pernah berkunjung ke kawasan di sekitar Taluk Kuantan. Sekarang aku tak ingat lagi apa nama daerah itu, tapi merupakan daerah baru perluasan kebun PTP V. Aku kesana karena harus menagih uang koran SIB yang sudah tertunggak beberapa bulan. Aku tak tahu sebelumnya, kalau setelah sore tak ada lagi kendaraan umum dari sana ke Taluk Kuantan.
Aku harus memilih jalan kaki ke Taluk Kuantan sore itu juga yang jaraknya sekira 12 kilometer karena tak ada pilihan lain. Aku susuri jalan khas perkebunan yang khas tidak beraspal dan senja pun mulai diusir malam. Sesekali ketika gelap telah menyelimuti perjalananku, aku harus nyalakan korek api agar lumpur yang menghempang perjalananku dapat kuhindari. Tapi apa itu ?
Refleks aku berhenti dan memasang mata serta telinga. Jantungku berdebar keras. Seekor raja hutan melompati sisi ruas jalan dari sebelah kiriku ke sebelah kananku. Tubuhku gemetaran bahkan menggigil. Tapi perjalanan aku lanjutkan dengan bernyanyi-nyanyi kecil. “… Sepanjang jalan Tuhan pimpin, itu cukup bagiku. RakhmatMu kutak sangsikan karena Engkau sertaku …”
Di tengah perjalanan aku temukan orang banyak berkumpul. Ternyata disana ada layar tancap untuk karyawan perusahaan perkebunan, yang katanya dilakukan sekali sebulan. Aku ikut nimbrung nonton dan pulangnya bersama awak yang memutar film itu ke Taluk Kuantan. Karena di tempat duduk bagian depan truk itu tak muat lagi, aku pun menumpang truk tadi di bagian belakang bercampur bersama beberapa ekor kerbau. Ketika hujan berderai dan kerbau-kerbau itu pun berak, kotorannya membersit ke wajahku. Kuhapus wajahku yang penuh kotoran kerbau dengan air hujan yang mengguyur seluruh tubuhku. Di penginapan darurat Taluk Kuantan, kubuka seluruh pakaianku yang berselemak taik kerbau. Kucuci, dan malam itu aku tidur dengan bugil. Bertelanjang ria.
Di Rengat, aku punya seorang kawan marga Sitompul. Dia wartawan SIB yang barangkali paling cerdas di Riau waktu itu. Sebelumnya, dia mahasiswa di Jakarta, tapi karena terlibat Malari dia melarikan diri ke Rengat dan menikah dengan Boru Gultom dari Pahae. Sekarang aku lupa namanya, karena sudah lama sekali kami tak pernah (lagi) berkomunikasi.
Pernah dia menunggak uang koran banyak sekali. Lantas aku mendatanginya ke Rengat untuk menagih uang korannya. Sialnya, ketika aku baru tiba di Reengat, kata istrinya dia baru saja berangkat ke Pulau Kijang. Aku menunggunya beberapa hari, dan selama beberapa hari di Rengat pun sementara aku menginap di penginapan murahan uangku habis sama sekali.
Ketika Sitompul yang satu ini tak juga pulang-pulang dari Pulau Kijang, aku pun jadi tak makan. Lapar dan lapar sekali, hingga membuatku pada malam harinya mengendap-endap ke dapur pemilik penginapan untuk mencari apa yang bisa dimakan. Udang halus yang ada, udang halus mentah itu pun kulahap. Ada terlihatku kelapa yang sudah dibelah, kelapa tadi kulahap. Udang halus mentah campur kelapa, enak dan nikmat kalau teengah lapar. Tak percaya, sudah kucoba.
Gobloknya, ketika besoknya aku mengkomfirmasi informasi yang kudapat kepada Kepada Kepala Bagaian Pembangunan Setdakab Indragiri Hilir tentang dugaan korupsi pengadaan pertapakan kantor bupati, aku disuguhi segepol uang yang jumlahnya tak aku tahu berapa. Dasar goblok, dungu dan bodoh, aku menolak peemberian si pejabat sampai dia menelepon seseorang.
Beberapa saat kemudian, seseorang berpakaian jaksa datang dan segera kubaca nama yang yang tertera di dada sebelah kirinya. Dari nama itu aku tahu pasti dia orang Batak, apalagi marganya sama dengan margaku. Dia memberi tahu aku bahwa dia Kepala Seksi Intelijen pada Kejaksaan Negeri Rengat. Segera aku diajaknya ke kantornya yang jaraknya dengan Kantor Bupati Indragiri Hilir waktu itu cuma sepengusapan rokok putih.
“Cuma dua kutub. Basah dan kering. Dan karena kau marga Hutabarat, aku katakan supaya kau pilih basah”, katanya garang setibanya aku di kantornya.
Kami berdialog keras-keras di ruangan kantornya yang tergolong mewah. Dia marah. Aku juga marah. Dia bilang bahwa dia marga Hutabarat yang gampang marah, aku bilang kami sama-sama marga Hutabarat. Jadi satu pabrik. Tak beda. Kau keras sekali, katanya semakin marah, aku pun semakin marah karena menurutku kami sama-sama marga Hutabarat. Kalau dia pemarah, apa aku tak boleh juga pemarah.
Aku bertahan, wartawan harus berani dan mampu menguak misteri korupsi seperti yang kuduga dilakukan Kepala Bagian Pembangunan tadi. Kalau dugaan tindakan korupsi yang dilakukan okmum tadi tidak diberitakan, itu artinya tindak pidana korupsi akan tumbuh subur dan semakin marajalela, kataku.
Dia marah sekali Malam itu aku dimintanyatidur di rumahnya, dengan alasan ingin berbincang-bincang tntang kampung halaman kami di Tarutung . Aku menurut dan aku diperkenalkannya kepada istrinya yang cantik. Kalau aku tak salah ingat, itrinya Boru Siburian.
Menjelang tengah malam, pintu rumahnya diketuk pelan dan perlahan serta berirama. Sekejab bagai berkelabat, jaksa itu masuk kekamarnya dan keluar dengan sepucuk pistol yang digenggamnya di tangan. Daun pintu dikuakkaannya sedikit dan menjulurkan pistol tadi kepada orang yang meengetuk pintu itu. Aku terpelongo. Seperti tak yakin apa yang barusan kusaksikan denegan mata kepala sendiri.
“Kalau tidak begitu, mana bisa aku hidup layak. Lihat itu. Sana. Ini”, kaatanya sambil menunjuk barang-barang miliknya di ruangan depan rumahnya. Aku terpelongo sekali lagi. Betul, ada bertengger sebuah pesawat teve berwarna disana, yang waktu itu masih merupakan barang mewah dan mahal. Ai rumah panggungnya pun, dilapis ambal yang sanking tebalnya kupikir lebih tepat kalau kusebut permadani. Segala macam barang dan peralatan, memang tergolong wah dan mewah memang di rumhanya, yang ada ada hanya dalam mimpi masyarakat biasa.
Sampai dini hari jaksa itu nyeroocos kepadaku, yang katanya menasehati agar aku bisa menjadi orang. Dia bilang, di tanah leluhur kami, di kampung kami umumnya sepupu kami hidup dengan miskin dan penuh keterbatasan. Maka ketika kita punya peluang dan kesempatan, manfaatkanlah itu dengan baik. Sebab, menurut dia, kemiskinan itu menyakitkan. . Orang miskin tak bisa melakukan-apa-apa. Jangan miskin, sebab kalau kita miskin tak akan ada kawan apalagi sahabat, katanya nyerocos kayak burung betet.
Dasar begok juga bandal, aku tentang ucapan dan pendapat – pendapat jaksa yang menurut tarombo harus kupanggil dengan sebutan amang tua itu. Aku bicara kepadanya, tidak sebagai seorang anak pada seorang bapak yang menjadi tradisi Batak. Aku sadari itu tidak sesuai tradisi Batak, meski pun aku orang Batak. Aku percaya pada kalimat yang menyebut : Ompunta ijolo martungkot siala gundi. Napinungka ni na parjolo, siihuthon ni naumpudi. Tapi aku juga percaya pada kalimat yang menyebut : Mumpat talutuk sega gadu-gadu. Salpu uhum na buruk, ro uhum na imbaru.
Maka dengan garang aku katakan kepada amangtuaku itu, bahwa hidup miskin memang tidak baik dan juga tidak bagus. Manusia kataku, harus kaya bahkan harus makmur dalam hidupnya. Manusia harus bekerja keras agar terhindar dari kemiskinan dan kemelaratan. Aju setuju kataku, dan karena itu ketika peluang ada, manausia harus memanfaatkannya dengan baik dan benar. Kukatakan dengan tegas dan garang pada jaksa itu, manusia harus mencari uang, mencari harta sampai sebanyak-banyaknya. Tapi, jangan lakukan itu melalui kejahatan. Menjadi kaya boleh menjadi harapan dan idaman, tapi jangan lakukan lewat kejahatan, kataku garang.
“Akh. Ndang tarpodaan ho hape. Modom ma hita”, katanya dengan wajah kusut dan kusam. Padahal, aku senang sekali mampu mengucapkan kata-lata itu secara laangsung kepadanya, yang secara adat Batak tak boleh kutentang.
Suatu masa, aku pernah membeli vespa tua dan butut daro seorang Minang yang tak kukenal, Vespa Konggo pembuatan tahun 1960 warna biru. Besoknya langsung kupacu ke Bangkinang, untuk mengunjungi kebun pembibitan buah-buahan. Aku berangkat dari Pekanbaru pagi-pagi sekali, dengan perasaan bangga karena baru kemarinnya membeli vespa butut yang sudah digigit usia itu.
Beberapa kilometer menjelang tiba di kebun pembibitan buah-buahan tadi, aku berhenti karena terdesak ingin kencing. Kiri kanan jalan sepi, dan pepohonan liar tumbuh satu-satu tak beraturan. Bergidik juga tengkukku ketika haarus berhenti disitu, tapi apa mau dikata nafsuku untuk kencing tak terbendung.
Waktu aku mau berangkat lagi, mesin vespa celaka itu tak mau bergerak meski pun kuengkol berulang-ulang. Kuengkol berulang-ulang, dan berulang-ulang pula ngadat tak karu-karuan. Aku periksa busi, bagus. Karbulator, bagus. Bahkan platinanya pun kuperiksa, juga bagus. Aku paham bahkan mahir memang dalam soal mesin vespa, sebab mulai mengenal kendaraan roda dua bermesin aku menggunakan vespa. Vespa tua pula. (waktu bekerja di Kantor Pusat GMI di Jalan Hang Tuah Medan, aku pun diberi kendaraan dinas vespa tua)
Ketika tubuhku sudah bersimbah peluh apalagi matahari sudah mulai menyengat, seseorang bertelaanjang dada datang entah dari arah mana. Tiba-tiba saja dia kulihat ada di sampingku. Tak sempat dia kutanya siapa dan dari mana koq tiba-tiba ada disampingku, dia mengengkol vespaku ringan dan enteng. Dan mesinnya pun bergetar. Bergetar dengan suara yang datar tak kurang suatu apa pun.
“Disini tempat keramat. Tak boleh orang kencing memang”, katanya singkat sekali dan segera pergi dan hilang si celah-celah pepohonan. Sekejab aku terpelongo. Setengah kejab berikutnya darahku berdesir. Seperempat kejab berikutnya lagi bulu kudukku berdiri. Aku cicing lari sahirang arah Bangkinan.
Selama di Riau, aku pun banayak melihat orang Batak dengan segala macam bunga rampainya. Banyak orang Batak yang masih muda-muda merantau ke Riau dari Tapanuli, waktu itu.Mereka bermaksud mendapatkan pekerjaan disana walau Cuma tamatan SMA plus tidak punya keterampilan apa saja. Diberangkatkan orang tua serta sanak saudara dari Tapanuli, dengan doa dan pengharapan. Juga diberangkatkan dengan cinta dan air mata. Hidup di Tapanuli dirasa bagai di neraka, sedang Riau dianggap sebagai sorga.
Tapi faktanya, Riau tidak seperti yang dibayangkan. Sama dengan di belahan lain di muka bumi ini, tanpa ilmu tanpa pengetahuan tanpa keterampilan mau jadi apa ? Kehidupan, sungguh teramat kompetitif. Siapa cerdas dan mampu bekerja keras saja belum tentu berhasil. Resep yang paling jitu aku kira, harus mampu bekerja keras dan berhemat. Itu pun, tentu dengan modal ilmu dan pengetahuan. Juga keterampilan. Dan untuk semua itu hanaya jalan jalan, lewat dan melalui pendidikan. Makanya, aku sebenarnya tidak sependapat dengan janji-janji politisi soal pendidikan gratis. Cuma satu jalan mencapai sukses, lewat pendidikan. Koq gratis pula ?
.Pemuda-pemuda Batak yang datang dari Tapanuli ke Riau dengan modal cuma ijazah SMA dan minus keterampilan itu, akhirnya harus menjadi pekerja kasar.
Ada yang masuk hutan bekerja pada perusahaan-perusahaan HPH (Hak Pengusaha Hutan) yang sememang banyak di Riau sampai ke Jambi sana. Di tengah belantara yang tak ada lagi di peta, nereka bekerja keras dan kasar serta bersahabat dengan maut. Boleh jadi pepohonan ditebang dan menimpa tubuh si pemuda Batak Cuma kabar saja yang sampai ke Tapanuli beberapa bulan kemudian yang menyebut sia sudah alfatiha. Boleh jadi pula, pada suatu malam yang pekat tubuh si pemuda Batak hilang setelah raja hutan mampir di base camp (perkemahan) Segala macam binatang mau tak mau senang tak senang harus disahabati. Mulai dari ular, kalajengking, lipan selebar papan sampai binatang buas. Jangan tanya bagaimana kalau menderita suatu penyakit di belantara. Hari-hari saja tak ddiketahui lagi, yang mana Senin yang mana pula Selasa apalagi Minggu. Golap. Ada juga yang nekad bercampur frustrasi, akhirnya masuk hutan di kawasan Taluk Kuantan untuk mencari getah jelatang. Boleh jadi naas menimpa, getah jelatang mengenai tubuh. Aku pernah menjumpai seorang pemuda Batak di Taluk Kuantan yang kena getah kelatang. Tubuhnya malala dikerubuti lalat dan aku cuma bisa memberinya sedikit uang untuk berobat.
Di belantara, sesungguhnya pemuda-pemuda Batak itu diberi gaji dalam jumlah yang cukup besar. Tapi dasar kurang ilmu minus pengetahuan mereka umumnya gandrung main judi dan mencandui minuman keras. Aku kaget setengah hidup ketika menegetahui ada yang menenggak minuman keras bagai minum air putih saja. Dan toke biasanya, dengan gembira memberikan mereka segala macam jenis minuman keras bahkan diberi modal untuk main judi di tengah hutan denegan catatan semua diperhitungkan ketika gajian.
Sesekali pemuda-pemuda Batak itu mendapat cuti dan keluar dari hutan. Sudah tentu, mereka memebawa uang yang cukup banyak yang boleh jadi termasuk gajinya untuk beberapa bulan ke depan. Kembali pada dasarnya mereka tidak memiliki ilmu apalagi pengetahuan, di Pekanbaru pun mereka hidup beberapa bulan dengan over acting. Segala seolah gampang apalagi bertemu dengan kawan sekampung atau anak boru. Pakaian pundibeli di pusat-pusat perbelanjaan yang sudah tentu haraganya melangit. Mentraktir siapa saja mangalllangi apalagi minum minuman keras kapan dan dimana saja. Mereka mencoba agar terkesan tampil perlente dengan pakaian yang mahal dan mewah, padahal tetap saja gaya Humbangnya masih saja kentara. Kerja akeras di belantara menyabung nyawa, tapi ketika uang didapat dihambur-hamburkan seolah tak berharga,
Tapi banyak juga kulihat pemuda Batak di Pekanbaru yang pintar, cerdas dan cerdik. Biar tak memiliki pendidikan memadai bahkan SMP pun tak tamat, tapi mampu berkompetisi dengan orang lain yang berpendidikan lumayan. Kerja keras dan berhemat antara lain resepnya. Tekun, ulet, cermat dan berdisiplin. Taat dan cekatan, dan kadang kalau diperlukan haarus pajago-jagohon.Dan tentunya, doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Di Pekanbaru waktu itu, ada seorang putra Batak bernama Jack Marbun yang menjadi wartawan. Barangkali, waktu di kampungnya di Humbang Hasundutan dulu, namanya Ojak, berasal dari kata Marojahan. Sosoknya pendek kurus nyaris semekot. Ada yang bilang, sebelum jadi wartawan dia adalah anggota CPM yang dipecat karena disersi dari kesatuannya. Aku tak tahu persis soal kebenaran cerita ini, apalagi aku tak percaya ada anggota CPM yang semekot.
Kelak, Jack menjadi Kepala Perwakilan Harian Angkatan Bersenjata yang waktu itu terbit di Medan, milik Kowilhan I (Komando Wilayah Pertahanan) Dia pekerja keras, pekerja ulung dan penuh percaya diri. Sering pajago-jagohon, karena kata dia awalnya adalah pajago-jagohon kemudian baru bisa jago. Bagaimana bisa jago katanya kepadaku suatu hari, kalau pajago-jagohon saja tak pernah. Dan dengan modal semua tadi, Harian Angkatan Bersenjata pun pernah memiliki tiras terbesar di Propinsi Riau.
Status Jack sebagai Kepala Perwakilan Harian Angkatan Bersenjata, dimanfaatkannya dengan baik sekali. Dia pun mendapatkan borongan banyak proyek pemerintah baik yang lewat tender mapun Penghunjukan Langsung. Proyej dari PTP V pun yang barus membuka arealnya di Riau banyak yang dikerjakan Jack. Waktu itu aku ingat, ada Drs BV Harianja, salah seorang ADM PTP V yang menjadi sahabat Jack. Melalui Harianja, Jack mendapatkan borongan itu.
Jack pun jadi kaya raya. Kaya raya. Awalnya dia hanya mengontrak rumah sederhana di Jalan Melati Sukajadi, tapi belakangan memiliki rumah sendiri yang mewah dan wah. Beberapa saudara sepupunya dari Humbang Hasubdutan dibawanya ke Pekanbaru, termasuk beberapa kawan sekampungnya. Semua mereka dipekerjakan Jack di perusahaan kontraktornya, tapi kalau proyek tidak ada dipekerjakannya di Haarian Angkatan Bersenjata. Semua mengaku wartawan, biar tak punya pendidikan apa-apa.. “Kenapa rupanya. Kita yang ngatur”. Katanya ketika kutanya bagaimana orang yang tak berpendidikan dijadikan wartawan. Siapa saja bisa menjadi wartawan menurut Jack, yang penting dia bisa marganjang ni dila dan sesekali mangogapi. Aku senyum, Jack juga senyum. Yang pasti, Jack belakangan terpilih menjadi Bendahara PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Riau. Mana bisa orang yang tidak kaya menjadi bendahara sebuah organisasi. Bendahara Serikat Tolong Menolong (STM) saja harus orang kaya. Termasuk bendahara lumpulan marga.
Lantas ada lagi kawanku bernama Oberlin Marbun. Kalau aku tak salah, SMP saja dia tak ppernah selesai di kampung asal leluhurnya juga di Humbang Hasundutan. Dia datang dari kampungnya hanya deengan tekad mau jadi orang kaya. Sepaanjang hari, dia naik motor Honda CB butut kelililing Pekanbaru menjual koran Sinar Peembangunan (sekarang Medan Pos) milik Ibrahim Sinik. Aku dekat dan akrab dengannya karena kami kerap ongkang-ongkang di kios milik Omriky Lumbangaol di Jalan Arengka sambil menunggu pesawat Garuda yang datang dari Medan membawa koran. Ada juga disana Saut Sinaga tapi di Pekanbaru dikenal orang sebagai DR Lupina Sinaga. Sinaga yang satu ini termasuk orang yang sangat jago karena pernah menjadi Sekretarsis DPW Pemuda Pancasila yang waktu itu dipimpin Djufri Hasan Basri yang pengusaha hutan. Oh ya, pernah jugaa beberapa bulan Bangun Tobing datang kesana, waktu dia sporing dari Siantar. Pareman Tarutung ini waktu itu menikam seseorang di Terminal Sukadame Siantar, lalu di DPO-kan polisi dan minggat ke Pekanbaru.
Oberlin kukenal sebagai orang yang gigih, tekun dan perkasa. Kalau memang jalan uang, kemana pun dia mau pergi biar ke lobang buaya. Lobang hantu saja didatanginya kalau memang disitu ada uang. Aku mengenal Oberlin sebagai rajanya raja ogap sekaligus rajanya raja olah. Makanya nama lengkap Oberlin menurut versikuku adalah Oberlin Marbun RO, RO.
“Hei Cina ! Aku kapala di Pekanbaru ini. Mana bagianku”, katanya jelas dan tegas kepada seorang pengusaha HPH suatu hari ketika aku diajaknya ke kantor pengusaha hutan itu. Dasar penakut, waktu itu aku gemetaran. Betapa tidak.Waktu itu kami berada di markas atau kantor pengusaha HPH itu yang sebenarnya menurutku bagai markas mafia saja. Bisa masuk kedalam pun kami, setelah melewati banayak lorong yang berliku-liku dan gelap. Di beberapa sudut sebelum kami bisa berttemu dengan Cina tadi, ada pengawal-pengawal yang berpenampilan seram dan angker. Kalau saja waktu itu kami digonikan dan dibuang ke Sungai Siak, tentu saja ceritaku ini tak akan pernah kutulis.
Sekarang, Oberlin sudah menjadi seorang multi jutawan kalau tak bisa kusebut multi miliuner. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya, tapi aku tetap mendenegar kabarnya dari beberpa kawanku yang sekarang masih (tetap) di Pekanbaru. Oberlin sekarang memiliki perusahaan pers yang diberinya nama Horas Plus. Ada beberapa perusahaan pers kudeengar miliknya, yang seperti perusahaan pers milik orang Batak lainnya hanya bagai kerakap tumbuh di batu saja. Sesekali sampai sekarang, aku menelepon Oberlin sekadar say hello. Lewat telepon kudengar nada suaranya sudah berwibawa dan penuh kharisma. Aku belum pernah (lagi) bertemu dengannya, tapi dari suaranya yang bernada bariton itu aku mendapat kesan dia memang sudah kaya sekali. Meski pun, Bahasa Indonesia-nya masih marpasir-pasir, dan karena itu aku lebih suka berkomunikasi dengannya menggunakan Bahasa Indonesia.
Waktu di Pekanbaru sebenarnya, aku pernah jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang Boru Simamora yang namanya Elfride (aku tak ngerti kenapa namanya tidak Elfrida saja) Dia orang Matapao karena orang tuanya tinggal di Serdang Bedagai itu (waktu itu masih Deli Serdang) Elfride tinggal di Pekanbaru karena dia bekerja di sana sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah. Sekarang tentunya dia sudah menikah. Menikah dengan seorang laki-laki yang aku tak tahu siapa secara pasti. Yang pasti kutahu, laki-laki suami Elfride sekarang bukan aku.
Sesungguhnya, aku suka pada Elfride. Cuma, sampai saat itu aku tidak tahu bagaimana caranya bercinta. Datang ke rumahnya bercengkerama, sudah jelas aku tak punya waktu. Nyaris setiap hari aku sibuk sekali dan menikmati semua pekerjaan dan tanggung jawab perusahaan yang ditimpakan ke pundakku. Aku enjoy sekali bekerja memang waktu itu, sebab selain menangani bidang keredaksian aku juga menangani pemasaran sekaligus ketatausahaan dan penagihan. Juga, pendistribusian. Aku senang sekali dengan segala macam pekerjaan itu dan itulah barangkali sebabnya mengapa aku tak pernah sempat menyambangi Elfride le rumahnya.
Beberapa kawanku kerap menyampaikan pesan Elfride, agar aku datang ke rumahnya. Tapi kalau malam tiba aku harus memilih, ke rumah Elfride atau menulis. Aku pilih yang terakhir, sebab kalau menulis aku akan dapat tidur dengan nyenyak. Sedang kupikir, kalau aku ke rumah Elfride, ngapain pula aku dan apa pula yang kami percakapkan. Anehnya, beberapa kali Elfride datang ke rumahku, beberapa kali pula aku cueki. Padahal, seperti yang sudah kukatakan tadi, aku suka Elfride.
Beberapa waktu kemudian, Elfride tak pernah lagi nitip salam kepadaku lewat siapa saja. Juga, tidak lewat Itoku Verny atau Nerva – Boruni Amangudaku yang tinggal di Jalan Durian. Sampai suatu malam Minggu aku tiba-tiba nongol ke rumah Elfride. Aku datang mendadak dan tiba-tiba, menegendap-endap pula mendekati teras rumahnya yang samar samar didterangi lampu pijar, persis teroris yang ingin meledakkan bom dengan cara bunuh diri.
Dari jarak tak lebih sepuluh meter, aku melihat Elfride tengah duduk berdampingan dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu pun kukenal pula, seorag marga Panjaitan yang bekerja di Kantor PUPN (Panitia Utang Piutang Negara) Beberapa jenak aku perhatikan dengan seksama. Beberapa jenak pula keduanya tidak lagi duduk berdampingan. Tapi sudah bertindihan akhirnya berdempetan.Dengan jelas sekali aku dengar suara Elfride merintih. Aku tak bisa membedakan mana rintihan karena kesakitan mana pula rintihan karena kenikmatan. Aku segera berlari mengendap dari samping rumahnya. Berlari melewati beberapa pot bunga yang satu-satu bertumbangan karena kutabrak. Dua ekor anjing Elfride menyalak dengan garangnya menegejarku. Kemejaku robek tak jelas kutahu kena kawat tiang jemuran atau kena paku di tiang jemuran.
Beberapa waktu kemudian menjelang tahun baru, aku diajak Elfride mudik ke kampungnya ke Matapao. Aku membeli dua tiket bus Makmur jurusan Medan, lengkap dengan segala macam keperluan yang dibutuhkan dalam perjalanan. Dia berwajah cerah ketika kami berangkat pada senja yang temaram. Bus bergerak melaju lewat lintas Barat melalui Bukit Tinggi. Malam pun beranjak dengan damainya.
Ketika bus terus melaju, aku diam saja bagai batang pisang di tempat dudukku di sebelah Elfride. Aku diam saja kecuali menjawab sepatah kata kalau Elfride bertanya soal tetek bengek. Wajahku waktu itu pasti ceria. Berbeda dengan wajah Elfride yang kusut mengusut mirip kulit jeruk purut.
Menjelang Payakumbuh, badan bus yang kami tompangi terseok-seok di permukaan jalan beraspal yang penuh lobang. Mesinnya pun, kadang mengerang. Aku berpegang pada bahu kursi, dan Elfride berusaha berpegang pada pundakku. Wajahnya memelas memandangku.
“Pening aku Ram”, katanya pelan hampir tak terdengar. Aku pura-pura tak mendengar.Menurut keyakinanku, Elfride hanya sekadar pura-pura, dan aku tak suka pada siapa pun yang pura-pura. Makan daging kura-kura saja aku tak suka. Selintas kupandang wajahnya, yang terlintas justru pemandangan tempo hari ketika dia saling berdampingan, berdempetan bahkan bertindihan dengan kawanku marga Panjaitan.
“Sakit perutku, Ram”, katanya kemudian berlagak manja. Aku suka perempuan manja memang, tapi tak ssuka pada perempuan yang pura-pura manja.
“Ram !”, katanya da memandangku.
“Apa ?”, kataku dan mengarahkan pandangan ke arah luar. Bus masih saja menembus malam dan pepohonan kulihat seolaj kejar kejaran. Permukaan jalan beraspal memang sudah dalam kondisi baik. Hening. Sepi. Sesekali kulihat rumah penduduk yang dditerangi lampu teplok. Pikirku, sudah barang tentu penghuni rumah-rumah itu sudah nyenyak di peraduannya.
“Ram !”, katanya lagi.
“Ya”, kataku tapi mataku masih mengarah keluar.
“Perutku sakit”
“Oh ya”
“Masuk angin mungkin Ram”, katanya dan sekejab kucuri pandang juga ke arah wajahnya. Aku kuatir dia benar-benar sakit perut.
Di Lubuk Sikaping bus kami berhenti. Penumpang turun untuk makan dan minum. Berak, kencing atau apa saja. Aku pun turun, dan refleks seperti kerbau dicucuk hidungnya Elfride pun turun mengikutiku. Dia memegang bahuku ketika menuruni tangga bus yang memang agak tinggi. Aku hampir muntah barangkali karena barusan jalan berkelok-kelok. Usai makan, dia beli balsem Afitson dan segera memberikannya padaku sebegitu bus melaju lagi menembus malam.
“Tolong oleskan di perutku”, katanya masih tetap pura-pura manja.
Aku diam saja tak bereaksi apa pun. Mataku kututup seo;ah aku sudah tertidur lelap. Sekejab berikutnya, jendela bus dibukanya. Angin berhembus kencang hingga menimbulkan dingin mencekam. Dicampakkannya balsem itu keluar dengan wajah kesal tapi garang dan sadis. Aku tertawa ngakak. Tapi tawa ngakakku Cuma dalam hati. Waktu itu kan aku tengah pura-pura tidur.
Di Simpang Matapao lewat Tebingtinggi, bus Makmur berhenti.
“Matapao …! Matakao …!”, teriak kerneknya berkelakar.
Elfride menatapku.
Aku menatapnya.
Kami saling menatap. Tatap tatapan.
` “Kita disini”, katanya sambil bergegas, tapi aku tetap menghenyakkan pantatku di jok bus. Dia memandangku dalam-dalam dan tajam.
“Kita disini Ram. Kota sudah sampai”, katanaya lagi masih tetap memandangku dengan dalam dan tajam.
“Ya. Kau disini. Kau sudah sampai. Aku belum”, kataku dengan datar dan enteng. Terasa longgar sekali dadaku setelah mengucapkan kalimat itu. Aku katakan pada Elfride, aku masih harus menerukan perjalanan sampai ke Medan. Aku ingin bertahun baru dengan Mamakku di Medan, kataku lagi masih dengan enteng, tenang dan kalem. Tak ada beban apa pun, tak ada beban sedikit pun ketika akata-kata itu meluncur dari mulutku. Dia menangis. Air matanya menetes perlahan. Dan aku menerawang lagi pada peristiwa beberapa waktu lalu ketika kulihat dia berdampingan, berdempetan dan akhirnya bertindihan dengan maarga Panjaitan.
“Tarik …. !”, kernek bus Makmur berteriak keras sebegitu Elfride menuuruni tangga bus. Sendiri menenteng dua tas besar. Supir pun menginjak gas dengan keras. Bus meluncur mulus di atas aspal mulus yang baru selesai dikerjakan PT Kuk Dong dari Korea.
“Ai boasa gabe sundat hamu managalua Lae ?”, tanya seorang penumpang di sebelahku. Aku diam saja pura-pura tak mendengar celotehnya. (Bersambung)
Ramlo R Hutabarat
HP : 0813 6170 6993
____________________________________________________________________
`
Selasa, 17 Mei 2011
Plt Sekdakab, Antara Kasmin Simanjuntak dan JR Saragih
Ramlo R Hutabarat
Tak elok membanding-bandingkan. Apalagi dilanjutkan dengan membayang-bayangkan. Membandingkan istri sendiri dengan istri tetangga misalnya, bisa masuk penjara. Bahkan, boleh jadi kena bacok dan melayang nyawa. Membayang-bayangkan buah dada Marissa Haq yang kerap dipamer-pamerkannya melalui layar kaca, juga bisa berbahaya. Makanya, jangan coba-caba. Bahaya !
Tapi sekarang, saya mau membanding-bandingkan antara Liberty Manurung Plt Sekdakab Tobasa, dengan Ismail Ginting, Plt Sekdakab Simalungun. Yang pasti, keduanya sekarang berstatus sama. Sama-sama Plt Sekdakab di dua daerah otonomi yang berbeda. Saya pikir, membanding-bandingkan keduanya, tak ada masalah. Tak ada aturan yang saya langgar kalau sekarang saya membanding-bandingkan keduanya. Juga, tak ada bahayanya. Jadi saya pasti tidak akan masuk penjara.
Liberty dan Ismail berbeda dalam statusnya masing-masing. Tapi harap diingat, ini menurut saya. Dan kalau landasan pemikirannya adalah menurut saya, tentu sangat besar kemungkinannya tidak benar. Masalahnya, apalah saya. Saya tidak siapa-siapa dan tidak apa-apa. Saya, jelas dan pasti tidak memiliki ilmu dan pengetahuan tentang pemerintahan. Seperti yang kerap saya katakan, saya cuma seorang jurnalis. Itu pun hanya jurnalis yang kerap dipinggirkan. Lantas, kalau apa yang saya kedepankan ini tidak benar, harap dan silahkan koreksi.
Perbedaan status antara Liberty dan Ismail, jelas, tegas dan pasti. Liberty sekarang menduduki jabatan Eselon II di Pemkab Tobasa. Dia adalah Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Tobasa. Dan karena status serta kedudukannya itulah, Bupati Tobasa Kasmin Simanjuntak menunjuk dan mengangkat Liberty menjadi Plt Sekdakab Tobasa. Sah !
Ismail ? Sesungguhnya, dia tidak apa-apa dan juga tidak siapa-siapa di Pemkab Simalungun. Artinya, dia tidak menduduki jabatan apa pun di lingkungan Pemkab Simalungun. Lagi pula, dia sudah pensiun sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) Kalau tak percaya, simak dan cermati NIP (Nomor Induk Pegawai) –nya. Disitu tertera kapan dan bilamana dia lahir.Tegasnya, Ismail sudah pensiun.
Inilah pokok persoalannya, saya pikir. Seorang yang tidak menduduki jabatan apa pun, justru dihunjuk dan diangkat sebagai Plt Sekdakab. Sedang PNS yang menduduki jabatan Eselon III saja tak layak untuk diangkat menjadi Plt Sekdakab. Konon pula PNS yang tidak menduduki eselon. Aneh. Tapi boleh jadi, bagi Bupati Simalungun JR Saragih, hal ini tidak aneh. Barangkali, inilah yang dimaksudnya dengan perubahan yang sering didengung-dengungkannya itu. Saya pikir, JR bisa benar. Sebab perubahan boleh jadi dari kupu-kupu menjadi kepompong dan akhirnya menjadi ulat. Yang penting nampaknya memang, berubah. Kalau bisa beruba-ubah.
Sekiranya JR Saragih memberi alasan menghunjuk dan mengangkat Ismail sebagai Plt Sekdakab karena dan atas nama kekuasaan, saya pikir juga tidak tepat dan tidak benar. JR benar adalah orang yang sangat dan paling berkuasa di Simalungun (sekarang) Tapi harap diingat, dia berkuasa untuk menjalankan serta taat pada peraturan perundangan yang berlaku. Sumpah JR ketika dilantik tempo hari, antara lain dia akan taat dan setia pada UUD 1945 dan Pancasila, serta peraturan perundangan yang berlaku. Sekarang kalau dia mengingkari sumpahnya itu, lihat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tindakan apa yang harus dilakukan (DPRD) Apalagi, di negeri kita ini yang penting adalah benar meski pun tidak baik. Orang baik bisa masuk penjara, sedang orang benar tidak akan. Makanya, banyak orang baik di penjara sana karena dia tidak benar. Dan banyak orang benar tak pernah masuk penjara meski pun dia tidak baik. Akh, sesungguhnya pun, saya tidak bisa membedakan yang baik mana pula yang benar. Brengsek saya. Oalah.
Menjadi semakin aneh, jika Ismail itu sebenarnya sudah pensiun tapi masih melantik para pejabat di lingkungan Pemkab Simalungun. Bahkan, yang menurut saya sangat ganjil, dia juga menandatangani Surat Keputusan PNS yang naik pangkat misalnya. Menandatangani DP3, dan segala macam lainnya. Saya harus tertawa-tawa jadinya, meski pun orang lain mentertawakan saya. Biar saja. Sampai sekarang tak ada aturan yang melarang orang untuk tertawa. Makanya, kesempatan ini saya manfaatkan untuk tertawa. Tertawalah sebelum dilarang, kata kawan saya.
Yang menjadi soal sekarang adalah, bagaimana PNS yang tidak menduduki jabatan apa pun tapi melantik PNS lainnya untuk menduduki jabatan. Lebih jauh lagi, bagaimana seorang PNS yang sudah pensiun justru menandatangani SK Kenaikan Pangkat PNS lainnya yang bukan atau belum pensiun. Kalau mau semakin jauh dicermati, bagaimana pula seorang PNS yang tidak menduduki jabatan mengomandoi PNS yang (sedang) menduduki jabatan ? Aneh bagi saya, meski pun tidak aneh bagi orang lain apalagi bagi JR Saragih. Makanya, kembali lagi pada teori usang. Sesungguhnya sekarang ini tak jelas lagi mana yang aneh mana pula yang tidak aneh.
Saya pikir, tak ada unsur kejahatan yang dilakukan JR kalau pun sekarang Ismail Ginting dihunjuk dan diangkatnya menjadi Plt Sekdakab Simalungun. Tak ada kerugian pada keuangan negara yang ditimbulkannya. Makanya, barangkali, persoalan ini tidak menarik perhatian orang lain. Sementara saya sendiri pun, hanya karena kurang kerjaan saja barangkali makanya memaparkan ini kepada Anda – Pembaca- Sekiranya saya punya kesibukan lain, barangkali hal ini tak akan sempat-sempatnya saya pikirkan dan tuliskan.
Cuma saya pikir, malu sekalilah JR kalau belakangan oleh pemerintah atasan meminta agar semua produk hukum yang diterbitkan Pemkab Simalungun dianulir dengan alasan yang menandatanganinya justru tidak berwenang (lagi) Kalau sempat terjadi yang seperti ini, mau dikemanakan wajah ini ? Orang Batak bilang, sakkitna tak sabarapa. Tapi maluna ini.
Alhasil, saya pun menjadi bingung. Bingung sekali. Setahu saya, Kasmin Simanjuntak sebenarnya kalah jago dari JR Saragih meski pun keduanya sama-sama jago. Mana ada bupati yang tidak jago, memang. Sedang Rosa Manullang saja jago, meski pun kawan saya Eriwayati marah kalau saya katakan Rosa Manullang jago.
Kasmin Simanjuntak saya sebut kalah jago dari JR Saragih, karena sebelum jadi Bupati Tobasa dia memakai gelar Prof di depan namanya. Tapi waktu mendaftar ke KPU, gelar itu tak digunakannya lagi. Sementara, sebelum menjadi Bupati Simalungun JR menggunakan gelar SH, MM, Mars dan Dr, hanya Mars saja yang ditanggalkannya ketika mendaftar sebagai calon Bupati Simalungun di KUPD.
Kasmin juga kalah jago dari JR, karena ketika meraih S2-nya, JR mampu mendapatkannya dengan cepat sekali. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cerdasnya seorang JR jika membandingkan tahun perolehan S1-nya dengan interval waktu perolehan gelar S2-nya. Luar biasa dan tidak biasa
Begitu pun, dalam soal penghunjukan dan pengangkatan Plt Sekdakab di masing-masing daerah otonomi itu, saya jadi ragu. Siapa sebenarnya yang lebih jago antara Kasmin Simanjuntak dengan JR Saragih ? Yang pasti, JR itu Doktor. Doktor dalam bidang ilmu pemerintahan pula.
Akhirnya, saya pun jadi enggan untuk membayang-bayangkan antara Kasmin dengan JR Saragih. Untuk apa saya bayang-bayangkan ? Membayang-bayangkan buah dada Marissa Haq saja saya tak sempat. Apalagi membayang-bayangkan istri tetangga. Bisa bahaya. Berbahaya dan bisa membuat pralaya !
____________________________________________________________________
Ramlo R Hutabarat
HP : 0813 6170 6993
_____________________________________________________________________
.
Tak elok membanding-bandingkan. Apalagi dilanjutkan dengan membayang-bayangkan. Membandingkan istri sendiri dengan istri tetangga misalnya, bisa masuk penjara. Bahkan, boleh jadi kena bacok dan melayang nyawa. Membayang-bayangkan buah dada Marissa Haq yang kerap dipamer-pamerkannya melalui layar kaca, juga bisa berbahaya. Makanya, jangan coba-caba. Bahaya !
Tapi sekarang, saya mau membanding-bandingkan antara Liberty Manurung Plt Sekdakab Tobasa, dengan Ismail Ginting, Plt Sekdakab Simalungun. Yang pasti, keduanya sekarang berstatus sama. Sama-sama Plt Sekdakab di dua daerah otonomi yang berbeda. Saya pikir, membanding-bandingkan keduanya, tak ada masalah. Tak ada aturan yang saya langgar kalau sekarang saya membanding-bandingkan keduanya. Juga, tak ada bahayanya. Jadi saya pasti tidak akan masuk penjara.
Liberty dan Ismail berbeda dalam statusnya masing-masing. Tapi harap diingat, ini menurut saya. Dan kalau landasan pemikirannya adalah menurut saya, tentu sangat besar kemungkinannya tidak benar. Masalahnya, apalah saya. Saya tidak siapa-siapa dan tidak apa-apa. Saya, jelas dan pasti tidak memiliki ilmu dan pengetahuan tentang pemerintahan. Seperti yang kerap saya katakan, saya cuma seorang jurnalis. Itu pun hanya jurnalis yang kerap dipinggirkan. Lantas, kalau apa yang saya kedepankan ini tidak benar, harap dan silahkan koreksi.
Perbedaan status antara Liberty dan Ismail, jelas, tegas dan pasti. Liberty sekarang menduduki jabatan Eselon II di Pemkab Tobasa. Dia adalah Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Tobasa. Dan karena status serta kedudukannya itulah, Bupati Tobasa Kasmin Simanjuntak menunjuk dan mengangkat Liberty menjadi Plt Sekdakab Tobasa. Sah !
Ismail ? Sesungguhnya, dia tidak apa-apa dan juga tidak siapa-siapa di Pemkab Simalungun. Artinya, dia tidak menduduki jabatan apa pun di lingkungan Pemkab Simalungun. Lagi pula, dia sudah pensiun sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) Kalau tak percaya, simak dan cermati NIP (Nomor Induk Pegawai) –nya. Disitu tertera kapan dan bilamana dia lahir.Tegasnya, Ismail sudah pensiun.
Inilah pokok persoalannya, saya pikir. Seorang yang tidak menduduki jabatan apa pun, justru dihunjuk dan diangkat sebagai Plt Sekdakab. Sedang PNS yang menduduki jabatan Eselon III saja tak layak untuk diangkat menjadi Plt Sekdakab. Konon pula PNS yang tidak menduduki eselon. Aneh. Tapi boleh jadi, bagi Bupati Simalungun JR Saragih, hal ini tidak aneh. Barangkali, inilah yang dimaksudnya dengan perubahan yang sering didengung-dengungkannya itu. Saya pikir, JR bisa benar. Sebab perubahan boleh jadi dari kupu-kupu menjadi kepompong dan akhirnya menjadi ulat. Yang penting nampaknya memang, berubah. Kalau bisa beruba-ubah.
Sekiranya JR Saragih memberi alasan menghunjuk dan mengangkat Ismail sebagai Plt Sekdakab karena dan atas nama kekuasaan, saya pikir juga tidak tepat dan tidak benar. JR benar adalah orang yang sangat dan paling berkuasa di Simalungun (sekarang) Tapi harap diingat, dia berkuasa untuk menjalankan serta taat pada peraturan perundangan yang berlaku. Sumpah JR ketika dilantik tempo hari, antara lain dia akan taat dan setia pada UUD 1945 dan Pancasila, serta peraturan perundangan yang berlaku. Sekarang kalau dia mengingkari sumpahnya itu, lihat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tindakan apa yang harus dilakukan (DPRD) Apalagi, di negeri kita ini yang penting adalah benar meski pun tidak baik. Orang baik bisa masuk penjara, sedang orang benar tidak akan. Makanya, banyak orang baik di penjara sana karena dia tidak benar. Dan banyak orang benar tak pernah masuk penjara meski pun dia tidak baik. Akh, sesungguhnya pun, saya tidak bisa membedakan yang baik mana pula yang benar. Brengsek saya. Oalah.
Menjadi semakin aneh, jika Ismail itu sebenarnya sudah pensiun tapi masih melantik para pejabat di lingkungan Pemkab Simalungun. Bahkan, yang menurut saya sangat ganjil, dia juga menandatangani Surat Keputusan PNS yang naik pangkat misalnya. Menandatangani DP3, dan segala macam lainnya. Saya harus tertawa-tawa jadinya, meski pun orang lain mentertawakan saya. Biar saja. Sampai sekarang tak ada aturan yang melarang orang untuk tertawa. Makanya, kesempatan ini saya manfaatkan untuk tertawa. Tertawalah sebelum dilarang, kata kawan saya.
Yang menjadi soal sekarang adalah, bagaimana PNS yang tidak menduduki jabatan apa pun tapi melantik PNS lainnya untuk menduduki jabatan. Lebih jauh lagi, bagaimana seorang PNS yang sudah pensiun justru menandatangani SK Kenaikan Pangkat PNS lainnya yang bukan atau belum pensiun. Kalau mau semakin jauh dicermati, bagaimana pula seorang PNS yang tidak menduduki jabatan mengomandoi PNS yang (sedang) menduduki jabatan ? Aneh bagi saya, meski pun tidak aneh bagi orang lain apalagi bagi JR Saragih. Makanya, kembali lagi pada teori usang. Sesungguhnya sekarang ini tak jelas lagi mana yang aneh mana pula yang tidak aneh.
Saya pikir, tak ada unsur kejahatan yang dilakukan JR kalau pun sekarang Ismail Ginting dihunjuk dan diangkatnya menjadi Plt Sekdakab Simalungun. Tak ada kerugian pada keuangan negara yang ditimbulkannya. Makanya, barangkali, persoalan ini tidak menarik perhatian orang lain. Sementara saya sendiri pun, hanya karena kurang kerjaan saja barangkali makanya memaparkan ini kepada Anda – Pembaca- Sekiranya saya punya kesibukan lain, barangkali hal ini tak akan sempat-sempatnya saya pikirkan dan tuliskan.
Cuma saya pikir, malu sekalilah JR kalau belakangan oleh pemerintah atasan meminta agar semua produk hukum yang diterbitkan Pemkab Simalungun dianulir dengan alasan yang menandatanganinya justru tidak berwenang (lagi) Kalau sempat terjadi yang seperti ini, mau dikemanakan wajah ini ? Orang Batak bilang, sakkitna tak sabarapa. Tapi maluna ini.
Alhasil, saya pun menjadi bingung. Bingung sekali. Setahu saya, Kasmin Simanjuntak sebenarnya kalah jago dari JR Saragih meski pun keduanya sama-sama jago. Mana ada bupati yang tidak jago, memang. Sedang Rosa Manullang saja jago, meski pun kawan saya Eriwayati marah kalau saya katakan Rosa Manullang jago.
Kasmin Simanjuntak saya sebut kalah jago dari JR Saragih, karena sebelum jadi Bupati Tobasa dia memakai gelar Prof di depan namanya. Tapi waktu mendaftar ke KPU, gelar itu tak digunakannya lagi. Sementara, sebelum menjadi Bupati Simalungun JR menggunakan gelar SH, MM, Mars dan Dr, hanya Mars saja yang ditanggalkannya ketika mendaftar sebagai calon Bupati Simalungun di KUPD.
Kasmin juga kalah jago dari JR, karena ketika meraih S2-nya, JR mampu mendapatkannya dengan cepat sekali. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cerdasnya seorang JR jika membandingkan tahun perolehan S1-nya dengan interval waktu perolehan gelar S2-nya. Luar biasa dan tidak biasa
Begitu pun, dalam soal penghunjukan dan pengangkatan Plt Sekdakab di masing-masing daerah otonomi itu, saya jadi ragu. Siapa sebenarnya yang lebih jago antara Kasmin Simanjuntak dengan JR Saragih ? Yang pasti, JR itu Doktor. Doktor dalam bidang ilmu pemerintahan pula.
Akhirnya, saya pun jadi enggan untuk membayang-bayangkan antara Kasmin dengan JR Saragih. Untuk apa saya bayang-bayangkan ? Membayang-bayangkan buah dada Marissa Haq saja saya tak sempat. Apalagi membayang-bayangkan istri tetangga. Bisa bahaya. Berbahaya dan bisa membuat pralaya !
____________________________________________________________________
Ramlo R Hutabarat
HP : 0813 6170 6993
_____________________________________________________________________
.
Senin, 16 Mei 2011
Mulai Membaca dan Menulis
Ramlo R Hutabarat
Bapakku pembaca. Pembaca sejati. Bukunya pun banyak sekali. Disusunnya rapi di rak buku yang dibuatnya sendiri. Ditempelkannya ke dinding serta dibuatkannya bernomor berseri-seri. Di antara buku-bukunya yang sampai sekarang masih kuingat antara lain Sekelumit Nyanyian Sunda yang kalau aku tak salah ingat karangan Ayip Rosidi. Lalu ada pula yang berjudul Bukan Pasar Malam, juga kalau aku tak salah ingat karangan Aoch Kartamihardja. Juga, Sarinah dan Di Bawah Bendera Revolusi karangan Ir Soekarno.
Bapakku orang sibuk. Sibuk sekali. Mengajar pagi, siangnya pulang sekejab untuk makan dan pergi lagi. Ketika senja hampir diusir malam, Bapakku pulang dan segera menjulurkan kaki .Bernyanyi trilili-lili, dengan wajah berseri-seri.Mamakku pun segera menghidangkan secangkir kopi yang segera dicicipi . Kadang, Mamakku menyuguhi Bapakku singkong atau pisang dari kebun sendiri. Bapakku juga suka mengajari kami bernyanyi. Lagu yang diajarkannya antara lain Burung Kutilang, Kupu-kupu yang Lucu, juga Tanah Pusaka. Sebuah lagu Ambon yang sendu mendayu diajarkan Bapakku kepada kami judulnya Mana Kala Beta Saki. Bapakku, juga pintar memetik senar gitar. Termasuk, main kecapi.
Selain itu, aktivitas Bapakku di rumah hanya membaca. Membaca dan terus membaca sampai aku tertidur. Aku tak pernah tahu pukul berapa Bapakku selesai membaca. Yang aku tahu, ketika paginya aku terjaga dari tidurku, Bapakku sudah ada di sampingku. Kalau aku bangkit dari tidurku, Bapakku pun ikut bangkit dan membaca sebelum berangkat paginya kerja.
Terkadang, di tengah membaca, Bapakku menyampaikan sesuatu kepada Mamakku. Waktu itu, umurku barangkali sekira 4 atau 5 tahun. Aku menyimak apa yang disampaikan Bapakku kepada Mamakku. Aku tertarik pada apa saja yang dikatakan Bapakku kepada Mamakku. Aku berpikir waktu itu, kalau membaca kita bisa banyak tahu. Karenanya, aku suka bisa membaca. Padahal, belakangan aku tahu, semakin banyak membaca semakin banyak pula yang kita tidak tahu.
Karenanya pula, aku berupaya keras untuk bisa membaca. Bapakku mengajarku membaca setelah kudesak agar aku diajarinya. Kakakku Gusta pun ikut mengajarku membaca. Dalam tempo yang sangat singkat akhirnya aku dapat membaca. Kalau aku tak salah ingat, dalam hitungan hari saja aku sudah lancar membaca. Lancar sekali.
Lantas waktuku banyak habis di rumah melulu untuk membaca. Membaca apa saja. Termasuk membaca Alkitab yang juga sering dibaca Bapakku. Makanya, waktu aku belum sekolah aku sudah banyak tahu cerita-cerita dalam Alkitab. Aku mampu dengan lancar sekali menceritakan kepada orang lain cerita tentang Daud melawan Goliat. Yusuf yang dijual saudara-saudaranya tapi belakangan menjadi Perdana Menteri di Mesir. Dan tentu, cerita tentang Yesus mulai dari kelahiranNya di kota kecil Bethlehem sampai kematianNya di kayu salib di Bukit Golghata.
Menyusul saat SD, aku mulai mengenal dunia luar. Aku membaca komik. Komil silat waktu itu umumnya, yang diterbitkan berseri-seri. Ada seri Gundala, Si Pitung, Si Kabayan, dan banyak lagi yang sekarang aku sudah lupa.Aku sangat kecanduan membaca waktu itu. Komik mania namanya barangkali. Selain sekolah, kerjaku hanya memebaca melulu. Mamakku pun membiarkan aku membaca melulu. Nyaris tak pernah aku bermain dengan anak-anak sebayaku. Aku di rumah dan di rumah terus. Membaca terus dan terus membaca. Sekarang, kalau kukilas balik kondisi itu, aku jadi bingung sendiri. Tapi semua itu sudah berlalu.
Waktu kelas VI SD di Pekanbaru, aku pernah dimarahi Pak Malik, guruku.Boleh jadi, sekarang guruku itu sudah mati. Pak Malik tengah mengajar di depan kelas aku malah mengabaikannya. Mataku tertuju pada buku komik di hadapanku, dan pikiranku tentu hanya pada apa yang kubaca itu. Tiba-tiba Pak Malik menghampiriku, dan meraih buku yang tengah kubaca. Tapi marahnya Pak Malik cepat reda. Barangkali, karena aku adalah muridnya yang paling cerdas. Dengan lemah lembut dikatakannya agar aku membaca komik itu di saat-saat jam istirahat.
Waktu di Kuala Simpang kelas I SMP, bahan bacaanku sedikit sekali. Bahkan hampir tidak ada. Apalagi waktu di Langsa. Aku tak punya waktu untuk mencari komik atau buku di tempat-tempat penyewaannya. Penyebabnya, aku diantar jeput ke dan dari sekolah dengan mobil milik PTPN I. Waktu itu Direktur Utamanya Pak Suhadi yang kupikir sekarang sudah mati.
Ketika aku bersekolah di SMP Negeri Kuala Simpang, kami tinggal di Simpang Kanan, sebuah afdeling PTPN I di kawasan Sungai Liput. Rumah kami berada di seberang sungai besar dan lebar yang waktu itu belum didirikan jembatan. Posisi rumah kami di ketinggian yang berbukit. Besar dan lapang, peninggalan tuan kebon orang Belanda. Di sisi bagian bawahnya mengalir Sungai Simpang Kanan yang kadang banjir bandang dan airnya melimpah kemana-mana. Setiap pergi dan pulang sekolah, aku harus menyeberangi sungai itu dengan menggunakan sampan yang kukayuh sendiri. Kadang aku menyeberang dengan rakit, yang di daerah out disebut orag sebagai getek. Orang Taluk Kuantan, Riau, menyebutnya pelayangan.
Situasi semua itu menjadikan ruang gerakku amat terbatas. Mau kemana aku ngapain ? Kemana dan bagaimana pula aku bisa mendapatkan bahan bacaan ? Aku acap termangu, terpelongo, sampai aku mendapatkan semacam inspirasi. Mengapa tak kutulis saja apa-apa untuk kubaca sendiri. Tokh aku tahu, semua yang pernah kubaca adalah hasil tulisan siapa-siapa untuk dibaca siapa-siapa pula.
Sejak saat itu aku pun mulai menulis tentang apa-apa yang kulihat, kualami, dan yang kurasakan. Karena waktu itu kertas belum sebanyak sekarang dan kalau pun ada harganya masih mahal, apa saja yang kutulis di buku tulis pelajaranku.Pernah guruku menemukan tulisanku di buku tulis pelajaran aljabar, dia langsung marah dan minta agar buku tulis tidak dicampur aduk. Tak bagus dicampur aduk katanya sambil merobek bagian kertas yang kutulis dan membawanya ke kantor dewan guru.;
Tapi besoknya aku dipanggil guru Bahasa Indonesia yang sekarang namanya aku sudah lupa. Tubuhku gemetar ketika memasuki ruangannya di kantor dewan guru. Napasku sesak dan jantungku bergejolak. Tapi saat aku sudah berhadapan dengannya, wajahnya ramah dan sejuk dan dia pun segera menyuruhku duduk. Kuremas-remas jemariku. Keringat bercucuran di tubuhku. Keringat dingin.
Bersama beberapa guru lainnya, guruku tadi memberiku enam buku tulis yang tebal-tebal. Isi 100 lembar yang katanya diberikan Pak Maulana kepala sekolah kami. Pak Maulana senang katanya, karena ada murid di sekolah itu yang pintar menulis. Buku itu dititipkan untukku karena hari itu Pak Maulana ada urusan di kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sebelum aku beranjak dari ruangan guru itu, aku sempat mendengar percakapan di antara mereka. Dadaku terasa longgar apalagi aku mendapatkan buku sampai enam buah masing-masing berisi 100 lembar. Aku tersanjung, karena ada guru yang bilang waktu itu, suatu masa aku pasti menjadi penulis tenar. Terus terang, sejak kecil memang aku suka disanjung dan dipuja. Aku bangga.
Sambil menuju kelasku, aku cermati lagi apa yang kutulis di buku aljabar tadi. Ada tentang Sungai Simpang Kanan di seberang rumah kami yang kerap banjir, ada tentang buruh-buruh perkebunan di sekitar tempat tinggalku yang umumnya hidup miskin dan papa. Juga ada tulisan tentang kawanku Pardi yang pintar sekali melukis, tentang pabrik kelapa sawit di Sungai Liput milik PT Sofindo. Juga tentang tentara yang sering kulihat latihan perang di Asrama Sungai Liput.
Ketika aku bersekolah di SMP PTPN I Kebun Lampahan, bahan bacaanku semakin sulit dan langka kudapatkan. Tapi aku tak terlalu kecewa lagi, sebab aku sudah terbiasa menulis sendiri untuk kubaca sendiri. Aneh memang, tapi itulah faktanya. Aku menulis supaya ada kubaca, dan itu kulakukan juga sampai sekarang. Aku berprinsip, aku suka menulis dan kalau dibaca orang atau tidak dibaca itu bukan urusanku. Aku menulis karena aku senang menulis. Mau dibaca orang lain terserah orang lain itu. Yang soal,
aku harus menulis agar aku senang
Lampahan, Kecamatan Timang Gajah merupakan suatu kawasan yang indah memukau. Daerah beriklim dingin di Dataran Tinggi Gayo, di kaki Gunung Burni Telong yang menjulang tinggi ke angkasa. Tanahnya subur dan anak negerinya rajin mengolahnya. Sesekali kala pagi menjelang dan mentari bersinar cemerlang, tubuh Burni Telong diselimuti kabut hingga hilang dari pandangan. Setiap pagi bagaimana pun dinginnya, buruh-buruh perkebunan harus beranjak dari tidurnya untuk menderes batang pinus dan mengambil getahnya. Getah pinus diolah dan diproses di pabrik untuk dijadikan damar dan terpentin.
Meski negeri leluhur orang Gayo, tapi kota kecil ini lebih didominasi oleh orang-orang Jawa. Orang-orang Jawa itu semula adalah buruh-buruh perkebunan PTPN I yang sudah lama mengusahakan tanaman pinus, tebu dan kopi. Makanya PTPN I waktu itu disebut sebagai PTP Antan (Aneka Tanaman). PTPN I pernah kollaps tapi akhirnya ditalangi PTP II Tanjung Morawa dan PTPN IV (waktu itu) Bah Jambi. PTPN I pun merubah tanamannya menjadi kelapa sawit di banyak tempat dan sejak itu PTN I bisa bangkit dari keterpurukannya.
Orang-orang Jawa yang sudah pensiun dari PTPN I, umumnya tidak pulang ke tanah leluhurnya. Mereka enggan untuk kembali, dan memilih tinggal di Lampahan dan sekitarnya dan beranak cucu di sana. Orang Gayo pun, mirip dengan orang Simalungun yang selalu well come kepada pendatang. Mereka menerima orang-orang Jawa sebagai saudara sendiri, bahkan banyak di antaranya yang kawin mawin. Mereka hidup berdampingan dengan akrab dan mesra, bersahabat.
Seperti umumnya orang Jawa, mereka rajin, tekun dan setia melakukan pekerjaannya. Mereka pun mengolah dan menggarap lahan-lahan di pinggiran areal PTPN I, serta menanaminya dengan aneka komoditas. Mereka juga umumnya pasrah, nrimo, jujur, patuh. Meski pun, mereka tetap membawa budayanya dari Jawa sana. Pemukiman orang-orang Jawa disana, hampir semua tertata rapi dan asri.Beda sekali tentu, dengan pemukiman orang-orang Tapanuli dimana saja.
Aku sering sekali menyambangi mereka kemana-mana. Menyelusuri kebun-kebun kopi, dan tebu. Juga kebun pokat serta segala macam holtikultura. Menembus hutan pinus yang rimbun dan tertanam tak beraturan. Menepis embun dan menghindari onak duri yang kadang menghadang menghalang. Aku suka menyaksikan mereka mengolah tebu secara tradisional untuk dijadikan gula. Aku menyimak bagaimana mereka memproses biji kopi hingga layak jual.
Semua yang kulihat dan kucermati, kutulis di buku tulis pelajaranku. Kutulis kapan saja dan dimana saja. Bisa di sekolah di ruang kelas ketika pelajaran sedang berlangsung, bisa di rumah bahkan bisa di tanah lapang di depan sekolahku di kawasan Pondok Bawah. Semua berlangsung biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Boleh jadi guruku menerangkan di depan kelas dengan gairah membara, sementara aku pun menulis di meja kelasku juga dengan gairah yang membara. Kutulis, kubaca. Kutulis, dan kubaca. Semua akhirnya jadi terbiasa. Tak ada yang istimewa.
Ada juga aku tulis tentang seorang kawan sekolahku, adik kelasku yang namanya Helmiati. Dia putri Gayo tulen, anak seorang manta Asisten PTPN I yang sudah pensiun. Aku lukis kecantikannya dalam bentuk tulisan. Tentang rambutnyaa yang terurai panjang. Tentang senyumnya yang menawan, tentang matanya yang sayu merayu. Juga tentang suaranya yang merdu dan tutur bahasanya yang lembut dan langkahnya yang indah gemulai.
Waktu Ida Wartati kakak Helmiati yang kawan kelasku membaca tulisanku tentang adiknya itu, dia segera menanyakanku :
“Ram, kau suka pada Helmi ?”
Aku diam. Ida Wartati memahami arti diamku. Besoknya Ida Wartati mengatur aagar kami bisa pulang bareng dari sekolah. Ida dan Mico Kasah adiknya di depan (Mico Kasah sekarang bkerja di TVRI Pusat Jakarta) dan aku bersama Helmiati di belakang. Tak ada sepatah kata pun yang kulontarkan pada saat itu pada Helmiati. Dara Gayo itu pun begitu. Aku diam. Helmiati diam. Tak ada sepatah kata pun yang kami katakan. Diam memang kadang lebih berarti.
Beberapa hari berselang pun, Ida Wartati menganjurkanku agar menulis surat untuk adiknya, Helmiati. “Katakan dalam suratmu kau cinta dia, Ram”, kata Ida.
Ketika Guru Agama kami mengajar di depan kelas, surat untuk Helmiati pun kutulis dengan lancar. Kukatakan lewat surat kepadanya bahwa dia cantik menarik. Karena itu aku katakan , aku cinta dia. Sederhana sekali. Surat cinta pertama yang pernah kutulis. Helmiati cantik, aku suka. Dan aku memang suka (melihat) perempuan cantik. Apalagi pintar dan cerdas, pandai pula menari dan menyanyi.
Tapi sampai beberapa hari berlalu, aku tidak mendapat balasan suratku dari Helmiati. Dadaku sesak. Napasku bergejolak, hingga tanah yang kupijak bagai retak-retak. Penuh kecewa kudatangi Ida Wartati ketika istirahat pertama. Kutumpahkan rasa kesal dan sesal di dada, dan Ida segera memanggil Emma teman karib Helmiati. Ida mengintograsi Emma.
“Helmi suka koq sama kau Ram. Cuma dia tak berani membalas suratmu karena dia tak mampu menulis seperti indahnya bahasamu”, kata Emma mantap dan pasti. Aku dan Ida Wartati saling berpandangan. Penuh arti. Sarat makana.
Seingatku, sejak saat itu aku semakin rajin lagi menulis. Apalagi setelah tiap hari aku ke sekolah bareng dengan Helmiati, aku semakin rajin pula menulis. Pergi dan pulang sekolah kami selalu bersama, tapi kami lebih banayak berdiam diri saja. Dia cuma mengatakan sesuatu yang penting saja, seperti aku bersikap sama kepada dia. Pernah malah waktu libur panjang kami berdua ke Takengon untuk menyakksikan pacuan kuda, tapi sejak pergi hingga pulang kami lebih banyak berdiam diri. Sesekali jika Helmiati mengagumi penunggang kuda karena mampu memacu kudanya berlari kencang, dia hanya memandangku penuh arti. Dan aku pun, berupaya mengagumi penunggang kuda yang dikagumi Helmiati tadi.
Tapi suatu masa, Ibu Latifah Guru Keskel kami menemukan timbunan buku tulisku yang berisi segala macam tulisan. Ada cerpen, puisi, pantun bahkan reportase.Ibu Guruku yang berkerudung dan terkesan alim inilah yang pertama mengirimkan tulisan-tulisanku ke surat kabar Mimbar Swadaya dan surat kabar Seulawah yang terbit di Banda Aceh. Juga, tulisanku dikirimnya ke surat kabar Pos Utara yang terbit di Medan, setelah dimintanya kutulis lagi dengan baik dan rapi. Tak terbilang bagaimana bangganya aku, ketika Ibu Latifah mengumumkan pada saat upacara bendera bahwa seorang murid SMP PTPN I Kebun Lampahan telah menulis di surat kabar.
Waktu mengucapkan itu, kawan-kawanku bertepuk tangan dan ada yang berteriak bagai histeris. Ada lagi yang berteriak-teriak : Hidup Helmiati … ! Hidup Helmiati …!Kuarahkan pandangan padanya. Dia tersipu dan segera berlari memasuki kelasnya. Kuikuti dia ke kelasnya. Dia menangis kulihat. Air matanya meleleh dan menetes dari bola matanya yang bening dan jernih. Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa Helmiati menangis. Aku tidak tahu apakah karena dia malu atau sebaliknya, dia bangga karena tulisanku disiarkan di surat kabar.
Setelah itu aku pun semakin rajin dan tekun menulis. Ada satu cerita bersambung yang kutulis di bawah judul Kabut di Perkebunan Kini Sudah Lenyap.Cerita yang kuangkat dari kisah cinta kawanku yang putri staf perkebunan dengan kawanku yang lain yang hanya putra seorang karyawan rendahan. Aku pun banyak menerima surat dari banyak orang, termasuk dari banyak remaja putri yang ada di Aceh. Pernah Helmiati merobek salah satu surat yang kuterima, yang kupikir karena dia dibakar rasa cemburu. Padahal, sungguh aku sayang Helmiati.
Aku harus mengakui. Yang menjadidkan aku semakin rajin menulis dan menulis waktu itu, sesungguhnya adalah Helmiati. Dia selalu mendorongku agar tetap menulis, dan memberi apresiasi pada setiap tulisanku. Dia bahkan acap mengajakku entah kemana-mana, yang menurutnya agar aku mendapatkan bahan untuk menulis.
Sekarang, aku sudah tua. Tapi aku masih selalu merindukan Helmiati. Aneh !
Bapakku pembaca. Pembaca sejati. Bukunya pun banyak sekali. Disusunnya rapi di rak buku yang dibuatnya sendiri. Ditempelkannya ke dinding serta dibuatkannya bernomor berseri-seri. Di antara buku-bukunya yang sampai sekarang masih kuingat antara lain Sekelumit Nyanyian Sunda yang kalau aku tak salah ingat karangan Ayip Rosidi. Lalu ada pula yang berjudul Bukan Pasar Malam, juga kalau aku tak salah ingat karangan Aoch Kartamihardja. Juga, Sarinah dan Di Bawah Bendera Revolusi karangan Ir Soekarno.
Bapakku orang sibuk. Sibuk sekali. Mengajar pagi, siangnya pulang sekejab untuk makan dan pergi lagi. Ketika senja hampir diusir malam, Bapakku pulang dan segera menjulurkan kaki .Bernyanyi trilili-lili, dengan wajah berseri-seri.Mamakku pun segera menghidangkan secangkir kopi yang segera dicicipi . Kadang, Mamakku menyuguhi Bapakku singkong atau pisang dari kebun sendiri. Bapakku juga suka mengajari kami bernyanyi. Lagu yang diajarkannya antara lain Burung Kutilang, Kupu-kupu yang Lucu, juga Tanah Pusaka. Sebuah lagu Ambon yang sendu mendayu diajarkan Bapakku kepada kami judulnya Mana Kala Beta Saki. Bapakku, juga pintar memetik senar gitar. Termasuk, main kecapi.
Selain itu, aktivitas Bapakku di rumah hanya membaca. Membaca dan terus membaca sampai aku tertidur. Aku tak pernah tahu pukul berapa Bapakku selesai membaca. Yang aku tahu, ketika paginya aku terjaga dari tidurku, Bapakku sudah ada di sampingku. Kalau aku bangkit dari tidurku, Bapakku pun ikut bangkit dan membaca sebelum berangkat paginya kerja.
Terkadang, di tengah membaca, Bapakku menyampaikan sesuatu kepada Mamakku. Waktu itu, umurku barangkali sekira 4 atau 5 tahun. Aku menyimak apa yang disampaikan Bapakku kepada Mamakku. Aku tertarik pada apa saja yang dikatakan Bapakku kepada Mamakku. Aku berpikir waktu itu, kalau membaca kita bisa banyak tahu. Karenanya, aku suka bisa membaca. Padahal, belakangan aku tahu, semakin banyak membaca semakin banyak pula yang kita tidak tahu.
Karenanya pula, aku berupaya keras untuk bisa membaca. Bapakku mengajarku membaca setelah kudesak agar aku diajarinya. Kakakku Gusta pun ikut mengajarku membaca. Dalam tempo yang sangat singkat akhirnya aku dapat membaca. Kalau aku tak salah ingat, dalam hitungan hari saja aku sudah lancar membaca. Lancar sekali.
Lantas waktuku banyak habis di rumah melulu untuk membaca. Membaca apa saja. Termasuk membaca Alkitab yang juga sering dibaca Bapakku. Makanya, waktu aku belum sekolah aku sudah banyak tahu cerita-cerita dalam Alkitab. Aku mampu dengan lancar sekali menceritakan kepada orang lain cerita tentang Daud melawan Goliat. Yusuf yang dijual saudara-saudaranya tapi belakangan menjadi Perdana Menteri di Mesir. Dan tentu, cerita tentang Yesus mulai dari kelahiranNya di kota kecil Bethlehem sampai kematianNya di kayu salib di Bukit Golghata.
Menyusul saat SD, aku mulai mengenal dunia luar. Aku membaca komik. Komil silat waktu itu umumnya, yang diterbitkan berseri-seri. Ada seri Gundala, Si Pitung, Si Kabayan, dan banyak lagi yang sekarang aku sudah lupa.Aku sangat kecanduan membaca waktu itu. Komik mania namanya barangkali. Selain sekolah, kerjaku hanya memebaca melulu. Mamakku pun membiarkan aku membaca melulu. Nyaris tak pernah aku bermain dengan anak-anak sebayaku. Aku di rumah dan di rumah terus. Membaca terus dan terus membaca. Sekarang, kalau kukilas balik kondisi itu, aku jadi bingung sendiri. Tapi semua itu sudah berlalu.
Waktu kelas VI SD di Pekanbaru, aku pernah dimarahi Pak Malik, guruku.Boleh jadi, sekarang guruku itu sudah mati. Pak Malik tengah mengajar di depan kelas aku malah mengabaikannya. Mataku tertuju pada buku komik di hadapanku, dan pikiranku tentu hanya pada apa yang kubaca itu. Tiba-tiba Pak Malik menghampiriku, dan meraih buku yang tengah kubaca. Tapi marahnya Pak Malik cepat reda. Barangkali, karena aku adalah muridnya yang paling cerdas. Dengan lemah lembut dikatakannya agar aku membaca komik itu di saat-saat jam istirahat.
Waktu di Kuala Simpang kelas I SMP, bahan bacaanku sedikit sekali. Bahkan hampir tidak ada. Apalagi waktu di Langsa. Aku tak punya waktu untuk mencari komik atau buku di tempat-tempat penyewaannya. Penyebabnya, aku diantar jeput ke dan dari sekolah dengan mobil milik PTPN I. Waktu itu Direktur Utamanya Pak Suhadi yang kupikir sekarang sudah mati.
Ketika aku bersekolah di SMP Negeri Kuala Simpang, kami tinggal di Simpang Kanan, sebuah afdeling PTPN I di kawasan Sungai Liput. Rumah kami berada di seberang sungai besar dan lebar yang waktu itu belum didirikan jembatan. Posisi rumah kami di ketinggian yang berbukit. Besar dan lapang, peninggalan tuan kebon orang Belanda. Di sisi bagian bawahnya mengalir Sungai Simpang Kanan yang kadang banjir bandang dan airnya melimpah kemana-mana. Setiap pergi dan pulang sekolah, aku harus menyeberangi sungai itu dengan menggunakan sampan yang kukayuh sendiri. Kadang aku menyeberang dengan rakit, yang di daerah out disebut orag sebagai getek. Orang Taluk Kuantan, Riau, menyebutnya pelayangan.
Situasi semua itu menjadikan ruang gerakku amat terbatas. Mau kemana aku ngapain ? Kemana dan bagaimana pula aku bisa mendapatkan bahan bacaan ? Aku acap termangu, terpelongo, sampai aku mendapatkan semacam inspirasi. Mengapa tak kutulis saja apa-apa untuk kubaca sendiri. Tokh aku tahu, semua yang pernah kubaca adalah hasil tulisan siapa-siapa untuk dibaca siapa-siapa pula.
Sejak saat itu aku pun mulai menulis tentang apa-apa yang kulihat, kualami, dan yang kurasakan. Karena waktu itu kertas belum sebanyak sekarang dan kalau pun ada harganya masih mahal, apa saja yang kutulis di buku tulis pelajaranku.Pernah guruku menemukan tulisanku di buku tulis pelajaran aljabar, dia langsung marah dan minta agar buku tulis tidak dicampur aduk. Tak bagus dicampur aduk katanya sambil merobek bagian kertas yang kutulis dan membawanya ke kantor dewan guru.;
Tapi besoknya aku dipanggil guru Bahasa Indonesia yang sekarang namanya aku sudah lupa. Tubuhku gemetar ketika memasuki ruangannya di kantor dewan guru. Napasku sesak dan jantungku bergejolak. Tapi saat aku sudah berhadapan dengannya, wajahnya ramah dan sejuk dan dia pun segera menyuruhku duduk. Kuremas-remas jemariku. Keringat bercucuran di tubuhku. Keringat dingin.
Bersama beberapa guru lainnya, guruku tadi memberiku enam buku tulis yang tebal-tebal. Isi 100 lembar yang katanya diberikan Pak Maulana kepala sekolah kami. Pak Maulana senang katanya, karena ada murid di sekolah itu yang pintar menulis. Buku itu dititipkan untukku karena hari itu Pak Maulana ada urusan di kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sebelum aku beranjak dari ruangan guru itu, aku sempat mendengar percakapan di antara mereka. Dadaku terasa longgar apalagi aku mendapatkan buku sampai enam buah masing-masing berisi 100 lembar. Aku tersanjung, karena ada guru yang bilang waktu itu, suatu masa aku pasti menjadi penulis tenar. Terus terang, sejak kecil memang aku suka disanjung dan dipuja. Aku bangga.
Sambil menuju kelasku, aku cermati lagi apa yang kutulis di buku aljabar tadi. Ada tentang Sungai Simpang Kanan di seberang rumah kami yang kerap banjir, ada tentang buruh-buruh perkebunan di sekitar tempat tinggalku yang umumnya hidup miskin dan papa. Juga ada tulisan tentang kawanku Pardi yang pintar sekali melukis, tentang pabrik kelapa sawit di Sungai Liput milik PT Sofindo. Juga tentang tentara yang sering kulihat latihan perang di Asrama Sungai Liput.
Ketika aku bersekolah di SMP PTPN I Kebun Lampahan, bahan bacaanku semakin sulit dan langka kudapatkan. Tapi aku tak terlalu kecewa lagi, sebab aku sudah terbiasa menulis sendiri untuk kubaca sendiri. Aneh memang, tapi itulah faktanya. Aku menulis supaya ada kubaca, dan itu kulakukan juga sampai sekarang. Aku berprinsip, aku suka menulis dan kalau dibaca orang atau tidak dibaca itu bukan urusanku. Aku menulis karena aku senang menulis. Mau dibaca orang lain terserah orang lain itu. Yang soal,
aku harus menulis agar aku senang
Lampahan, Kecamatan Timang Gajah merupakan suatu kawasan yang indah memukau. Daerah beriklim dingin di Dataran Tinggi Gayo, di kaki Gunung Burni Telong yang menjulang tinggi ke angkasa. Tanahnya subur dan anak negerinya rajin mengolahnya. Sesekali kala pagi menjelang dan mentari bersinar cemerlang, tubuh Burni Telong diselimuti kabut hingga hilang dari pandangan. Setiap pagi bagaimana pun dinginnya, buruh-buruh perkebunan harus beranjak dari tidurnya untuk menderes batang pinus dan mengambil getahnya. Getah pinus diolah dan diproses di pabrik untuk dijadikan damar dan terpentin.
Meski negeri leluhur orang Gayo, tapi kota kecil ini lebih didominasi oleh orang-orang Jawa. Orang-orang Jawa itu semula adalah buruh-buruh perkebunan PTPN I yang sudah lama mengusahakan tanaman pinus, tebu dan kopi. Makanya PTPN I waktu itu disebut sebagai PTP Antan (Aneka Tanaman). PTPN I pernah kollaps tapi akhirnya ditalangi PTP II Tanjung Morawa dan PTPN IV (waktu itu) Bah Jambi. PTPN I pun merubah tanamannya menjadi kelapa sawit di banyak tempat dan sejak itu PTN I bisa bangkit dari keterpurukannya.
Orang-orang Jawa yang sudah pensiun dari PTPN I, umumnya tidak pulang ke tanah leluhurnya. Mereka enggan untuk kembali, dan memilih tinggal di Lampahan dan sekitarnya dan beranak cucu di sana. Orang Gayo pun, mirip dengan orang Simalungun yang selalu well come kepada pendatang. Mereka menerima orang-orang Jawa sebagai saudara sendiri, bahkan banyak di antaranya yang kawin mawin. Mereka hidup berdampingan dengan akrab dan mesra, bersahabat.
Seperti umumnya orang Jawa, mereka rajin, tekun dan setia melakukan pekerjaannya. Mereka pun mengolah dan menggarap lahan-lahan di pinggiran areal PTPN I, serta menanaminya dengan aneka komoditas. Mereka juga umumnya pasrah, nrimo, jujur, patuh. Meski pun, mereka tetap membawa budayanya dari Jawa sana. Pemukiman orang-orang Jawa disana, hampir semua tertata rapi dan asri.Beda sekali tentu, dengan pemukiman orang-orang Tapanuli dimana saja.
Aku sering sekali menyambangi mereka kemana-mana. Menyelusuri kebun-kebun kopi, dan tebu. Juga kebun pokat serta segala macam holtikultura. Menembus hutan pinus yang rimbun dan tertanam tak beraturan. Menepis embun dan menghindari onak duri yang kadang menghadang menghalang. Aku suka menyaksikan mereka mengolah tebu secara tradisional untuk dijadikan gula. Aku menyimak bagaimana mereka memproses biji kopi hingga layak jual.
Semua yang kulihat dan kucermati, kutulis di buku tulis pelajaranku. Kutulis kapan saja dan dimana saja. Bisa di sekolah di ruang kelas ketika pelajaran sedang berlangsung, bisa di rumah bahkan bisa di tanah lapang di depan sekolahku di kawasan Pondok Bawah. Semua berlangsung biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Boleh jadi guruku menerangkan di depan kelas dengan gairah membara, sementara aku pun menulis di meja kelasku juga dengan gairah yang membara. Kutulis, kubaca. Kutulis, dan kubaca. Semua akhirnya jadi terbiasa. Tak ada yang istimewa.
Ada juga aku tulis tentang seorang kawan sekolahku, adik kelasku yang namanya Helmiati. Dia putri Gayo tulen, anak seorang manta Asisten PTPN I yang sudah pensiun. Aku lukis kecantikannya dalam bentuk tulisan. Tentang rambutnyaa yang terurai panjang. Tentang senyumnya yang menawan, tentang matanya yang sayu merayu. Juga tentang suaranya yang merdu dan tutur bahasanya yang lembut dan langkahnya yang indah gemulai.
Waktu Ida Wartati kakak Helmiati yang kawan kelasku membaca tulisanku tentang adiknya itu, dia segera menanyakanku :
“Ram, kau suka pada Helmi ?”
Aku diam. Ida Wartati memahami arti diamku. Besoknya Ida Wartati mengatur aagar kami bisa pulang bareng dari sekolah. Ida dan Mico Kasah adiknya di depan (Mico Kasah sekarang bkerja di TVRI Pusat Jakarta) dan aku bersama Helmiati di belakang. Tak ada sepatah kata pun yang kulontarkan pada saat itu pada Helmiati. Dara Gayo itu pun begitu. Aku diam. Helmiati diam. Tak ada sepatah kata pun yang kami katakan. Diam memang kadang lebih berarti.
Beberapa hari berselang pun, Ida Wartati menganjurkanku agar menulis surat untuk adiknya, Helmiati. “Katakan dalam suratmu kau cinta dia, Ram”, kata Ida.
Ketika Guru Agama kami mengajar di depan kelas, surat untuk Helmiati pun kutulis dengan lancar. Kukatakan lewat surat kepadanya bahwa dia cantik menarik. Karena itu aku katakan , aku cinta dia. Sederhana sekali. Surat cinta pertama yang pernah kutulis. Helmiati cantik, aku suka. Dan aku memang suka (melihat) perempuan cantik. Apalagi pintar dan cerdas, pandai pula menari dan menyanyi.
Tapi sampai beberapa hari berlalu, aku tidak mendapat balasan suratku dari Helmiati. Dadaku sesak. Napasku bergejolak, hingga tanah yang kupijak bagai retak-retak. Penuh kecewa kudatangi Ida Wartati ketika istirahat pertama. Kutumpahkan rasa kesal dan sesal di dada, dan Ida segera memanggil Emma teman karib Helmiati. Ida mengintograsi Emma.
“Helmi suka koq sama kau Ram. Cuma dia tak berani membalas suratmu karena dia tak mampu menulis seperti indahnya bahasamu”, kata Emma mantap dan pasti. Aku dan Ida Wartati saling berpandangan. Penuh arti. Sarat makana.
Seingatku, sejak saat itu aku semakin rajin lagi menulis. Apalagi setelah tiap hari aku ke sekolah bareng dengan Helmiati, aku semakin rajin pula menulis. Pergi dan pulang sekolah kami selalu bersama, tapi kami lebih banayak berdiam diri saja. Dia cuma mengatakan sesuatu yang penting saja, seperti aku bersikap sama kepada dia. Pernah malah waktu libur panjang kami berdua ke Takengon untuk menyakksikan pacuan kuda, tapi sejak pergi hingga pulang kami lebih banyak berdiam diri. Sesekali jika Helmiati mengagumi penunggang kuda karena mampu memacu kudanya berlari kencang, dia hanya memandangku penuh arti. Dan aku pun, berupaya mengagumi penunggang kuda yang dikagumi Helmiati tadi.
Tapi suatu masa, Ibu Latifah Guru Keskel kami menemukan timbunan buku tulisku yang berisi segala macam tulisan. Ada cerpen, puisi, pantun bahkan reportase.Ibu Guruku yang berkerudung dan terkesan alim inilah yang pertama mengirimkan tulisan-tulisanku ke surat kabar Mimbar Swadaya dan surat kabar Seulawah yang terbit di Banda Aceh. Juga, tulisanku dikirimnya ke surat kabar Pos Utara yang terbit di Medan, setelah dimintanya kutulis lagi dengan baik dan rapi. Tak terbilang bagaimana bangganya aku, ketika Ibu Latifah mengumumkan pada saat upacara bendera bahwa seorang murid SMP PTPN I Kebun Lampahan telah menulis di surat kabar.
Waktu mengucapkan itu, kawan-kawanku bertepuk tangan dan ada yang berteriak bagai histeris. Ada lagi yang berteriak-teriak : Hidup Helmiati … ! Hidup Helmiati …!Kuarahkan pandangan padanya. Dia tersipu dan segera berlari memasuki kelasnya. Kuikuti dia ke kelasnya. Dia menangis kulihat. Air matanya meleleh dan menetes dari bola matanya yang bening dan jernih. Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa Helmiati menangis. Aku tidak tahu apakah karena dia malu atau sebaliknya, dia bangga karena tulisanku disiarkan di surat kabar.
Setelah itu aku pun semakin rajin dan tekun menulis. Ada satu cerita bersambung yang kutulis di bawah judul Kabut di Perkebunan Kini Sudah Lenyap.Cerita yang kuangkat dari kisah cinta kawanku yang putri staf perkebunan dengan kawanku yang lain yang hanya putra seorang karyawan rendahan. Aku pun banyak menerima surat dari banyak orang, termasuk dari banyak remaja putri yang ada di Aceh. Pernah Helmiati merobek salah satu surat yang kuterima, yang kupikir karena dia dibakar rasa cemburu. Padahal, sungguh aku sayang Helmiati.
Aku harus mengakui. Yang menjadidkan aku semakin rajin menulis dan menulis waktu itu, sesungguhnya adalah Helmiati. Dia selalu mendorongku agar tetap menulis, dan memberi apresiasi pada setiap tulisanku. Dia bahkan acap mengajakku entah kemana-mana, yang menurutnya agar aku mendapatkan bahan untuk menulis.
Sekarang, aku sudah tua. Tapi aku masih selalu merindukan Helmiati. Aneh !
Minggu, 15 Mei 2011
Impian tentang Simalungun yang Indah
Ramlo R Hutabarat
Senja. Di luar kelam. Angin menderu-deru. Menggoyang ranting pepohonan. Menggetarkan ranting. Awan di langit bergumpal-gumpal. Bergulung-gulung. Langit pun menghitam. Petir sesekali membahana. Memecah kesunyian. Membongkah kebisuan. Sunyi. Sepi. Sendiri. Aku melangkah gontai ke kamar kerjaku yang sempit. Menutup daun jendela yang sempat dipermainkan angin. Dibanting-banting. Dan seperti biasa, arus listrik pun putus ke rumahku. Tak tahu sebab kenapa-kenapa.
Aku membanting tubuhku yang kurus di kursi meja kerjaku. Menatap nanap pada dinding. Gelap. Sunyi mencekam. Aku menerawang pada masa lalu. Masa lalu yang manis indah, tapi pahit getir bila dikenang. Aku pun berharap pada masa depan. Masa depan yang penuh harapan. Tapi juga penuh tantangan.Dan petir pun tiba-tiba menggelegar sambung menyambung. Angin makin menderu-deru. Bagaikan dua raksasa yang tengah bertarung di angkasa raya mempertahankan harkat dan martabat. Dan hujan pun berderai membasahi apa saja. Membasahi segala. Tanpa irama.
Tiba-tiba aku melihat nanar sesosok tubuh. Tinggi. Kekar. Gurat-gurat di wajahnya memantulkan wibawa. Wibawa kebapaan yang diselimuti kharisma. Aku menggosok-gosok kelopak mataku. Mengkedip-kedipkannya. Berkali-kali. Sekali lagi. Berkali-kali. Sekali lagi. Tak berhenti. Sepertinya, aku mengenal sosok itu.
Aku tak keliru. Itu sosok Drs Djabanten Damanik yang pernah menjadi Bupati Simalungun sampai dua periode. Aku mengenalnya dan sangat kenal sekali. Selain karena dia pernah menjadi Bupati Simalungun, kami sempat bertetangga di Kompleks PN Kertas Pematangsiantar. Menurutku, rumahnya di belakang rumahku. Tapi menurut dia, rumahku di belakang rumahnya. Tak ada di antara kami yang mengalah. Padahal yang sebenarnya, rumah kami saling membelakangi.
“Pak Djabanten. Apa kabar Pak ? Lama kita tak bertemu”, kataku sambil berdiri dan menyalaminya akrab dan mesra. Kuguncang-guncangkan tangannya ketika tangannya yang kekar itu kujabat erat. Pak Djabanten hanya memandangiku. Sorot matanya tajam dan garang. Tegas dan jelas. Ciri khas seorang Drs Djabanten Damanik, putra Sipolha di Tepian Pantai Danau Toba.
Beberapa jenak kami saling berdiam diri. Kupandangi Pak Djabanten. Dipandanginya aku. Kami saling memandang. Pak Djabanten diam. Aku juga diam. Kami saling diam-diaman. Di luar, halilintar masih sesekali membahana dan hujan jatuh ke bumi. Keras. Deras.
“Kemana Bapak selama ini ?”, kataku lagi mencoba memecah kebisuan yang beberapa jenak menyelimuti kami.
Pak Djabanten masih tetap diam. Dipandanginya lagi aku dengan sorot matanya yang garang, jelas dan tegas serta penuh wibawa. Dipandanginya mulai dari ujung kakiku sampai ujung rambutku. Aku jadi kikuk. Seperti serba salah. Kilat menyambar diikuti petir yang menggetarkan dinding kamar kerjaku.
“Aku pergi. Aku sudah pergi. Ke tempat Yang Maha Tinggi. Dimana dendam, iri, dengki dan sakit hati tak ada lagi”, katanya tiba-tiba dan berdiri sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celananya, kiri dan kanan. Aku diam dan Pak Djabanten merasa aman untuk melemparkan tanya.
“Bagaimana Simalungun sekarang ?”, katanya masih tetap dengan sorot mata yang garang, jelas, tegas dan penuh wibawa kebapaan.
Aku katakan pada Pak Djabanten, Simalungun sudah berubah sejak ditinggalkannya. Bupati Simalungun yang sekarang, JR Saragih, kataku, gemar dan hobby pada perubahan. Karena itu, selama beberapa bulan ini saja masa pemerintahannya, sudah banyak yang dirubahnya. Berubah-ubah demi dan atas nama perubahan. Dan demi serta atas nama perubahan pula sudah banyak sekali yang diubah-ubah. Hingga, kataku, aku pun jadi ragu apa yang dimaksud dengan kata perubahan. Sampai sekarang aku belum pernah membaca kamus.
Pak Djabanten mengernyitkan keningnya. Dipandanginya aku dalam dan tajam. Dikeluarkannya sebatang rokok dari sakunya, dan dihembuskannya asapnya lepas dan bebas ke udara yang lepas dan bebas pula. Masih seperti dulu. Pak Djabanten mengisap Gudang Garam Filter kegemarannya. Dan aku merasa aman untuk meneruskan ceritaku.
Kuceritakan pada Pak Djabanten, Kantor Bupati Simalungun yang pembangunannya diawali pada masa pemerintahannya dulu, sekarang sudah ditinggalkan. Ini tentu, kataku, merupakan bahagian dari perubahan tadi. Padahal, kataku lagi, pembangunannya dibiayai dengan dana puluhan miliar rupiah. Soal kenapa tidak ditempati lagi, kan banyak sekali alasan yang bisa untuk dikedepankan, kataku. Termasuk, banyak kantor yang dipindah dan ini artinya juga diubah, kataku. Bahkan, ada ruas jalan yang diubah di kompleks perkantoran Pemkab Simalungun di Sondi Raya, dijadikan lokasi pendirian kantin, kataku lagi.
Pak Djabanten tertawa. Tapi tawanya hambar. Kering bahkan tandus. Tak terkesan ada yang lucu hingga membuatnya tertawa. Dan aku pun merasa Pak Djabanten justru mentertawakanku. Namun karena tawa Pak Djabanten kurasa cuma ingin mentertawakanku, aku pun balik tertawa. Kami tertawa-tawa. Aku dan Pak Djabanten tertawa. Kami mempertawakan diri kami sendiri. Dan barangkali, banyak orang mempertawakan kami. Tertawa.
Pak Djabanten berdiri. Berkeliling di ruang kamar kerjaku yang sempit dan pengap. Di luar hujan masih saja berderai. Petir sambung menyambung didahului kilat yang menyambar masuk ke ruangan kami. Arus listrik belum juga tersambung. Dan malam pun terus merangkak dengan damainya.
Sebagai pakar pemerintahan dan salah seorang penggagas ide otonomi daerah, Pak Djabanten menjelaskan banyak hal kepadaku. Dia menerangkannya bagai seorang dosen yang cerdas dan lihai, sementara aku mendengarkannya bagai seorang mahasiswa yang dungu, dongok dan goblok
Kata Pak Djabanten, sebenarnya seorang Kepala Daerah harus mampu berperan sebagai koordinator pembangunan, motivator pembangunan, maneger pembangunan, sekaligus pembangun masyarakat. Sebagai koordinator pembangunan kata Pak Djabanten, Kepala Daerah harus mampu mensinkronkan dan menyelaraskan gerak para pelaksana pembangunan agar dana yang dikeluarkan untuk pembangunan dapat lebih hemat dan efisien. Tugas ini harus dilakukan seorang Kepala Daerah katanya, karena pelaksanaan pembangunan yang tidak sikron pada akhirnya akan merugikan masyarakat. Bukan hanya karena penghamburan dana, tetapi juga pelayanan kepada masyarakat menjadi terhambat.
Sebagai motivator pembangunan, Kepala Daerah itu kata Pak Djabanten diperlukan karena tidak semua warga masyarakat menyadari perannya untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Sebahagian anggota masyarakat justru harus dipacu dan dimotivasi dengan berbagai cara agar mau menyumbangkan tenaga, dana dan pikirannya untuk berkiprah dalam pembangunan. Upaya memotivasi juga tidak dilakukan dengan sambil lalu. Tetapi harus dengan perencanaan yang mantap dan matang, serta aktivitas yang terus menerus.
Sebagai maneger pembangunan, seorang Kepala Daerah katanya harus mampu menggali berbagai potensi sumber daya agar menjadi kekuatan riel untuk mendukung pembangunan. Dalam rangka inilah katanaya lagi, seorang Kepala Daerah harus mampu membaca peta kekuatan yang ada di wilayahnya. Dimana, menurut Pak Djabanten, kekuatan-kekuatan itu baik fisik maupun sosial dikerahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sebagai pembangun masyarakat, kata Pak Djabanten seorang Kepala Daerah harus mempunyai kemampuan untuk mengaktualisasikan potensinya sendiri, seerta mempunyai prakarsa dan kreativitas yang bermanfaat bukan untuk dirinya saja. Tapi untuk semua masyarakat yang dipimpinnya. Kepala Daerah, harus menciptakan iklim dimana masyarakat bisa mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya. Baik potensi sosial intelektual, mental spiritual , maupun fisiknya secara optimal.
Di luar alam masih saja tidak bersahabat dan dingin mulai merambat. Aku pun asyik terus dengan pemaparan Pak Djabanten yang kupikir sangat memikat.
Seorang Kepala Daerah, menurut Pak Djabanten harus mampu memerankan tiga prinsip yang menjadi dasar bagi seorang pemimpin. Pertama, dia harus seorang yang konsisten, kedua dia juga harus konsekwen dan ketiga dia harus memiliki sikap dan karakter mengayomi. Konsisten artinya tetap teguh pada pendiriannya dalam bagaimana pun keadaannya. Konsekwen artinya, dia sanggup menerima resiko dari pendiriannya. Meskipun, katanya, dia harus tetap menyadari sikap konsekwennya itu perlu dipegang teguh apabila dia yakin bahwa pendiriannya itu benar dan akan membawa kebaikan pada yang dipimpinnya.
Dalam memerankan prinsip yang ketiga, mengayomi, menurut Pak Djabanten seorang Kepala Daerah harus memeberi perlindungan dan keteguhan. Sehinga, semua pihak yang dipimpinnya selalu merasa aman dan tenteram dalam perlindungannya. Dia mengayomi yang pada dasarnya mengandung rasa tanggung jawab, yakni kesediaan menanggung segala akibat yang dijalankan oleh pengikutnya dalam rangka memenuhi perintah-perintah atau ajakan si Bupati. Untuk mencegah kemungkinan tertimpanya beban berat akibat tindakan-tindakan yang merugikan si Bupati sekaligus untuk mencegah penyimpangan dalam pelaksanaan tugas, seluruh pihak harus dibimbing agar tindakannya tidak menyimpang dari tujuan yang ditetapkan.
“Selain, seorang Kepala Daerah harus memiliki sifat-sifat adil, arif, bijaksana, penuh prakarsa, percaya diri, ulet, jujur, berani, mawas diri, berani mengambil keputusan, dan komunikatif”, kata Pak Djabanten. Dia kulihat lega sekali setelah mengucapkan kata itu dan aku masih saja diam karena terpana pada pernyataannya.
Pak Djabanten menambahkan, seorang Bupati harus benar-benar memperhatikan semua lapisan yang dipimpinnya. Dia juga harus peka untuk membaca keinginan-keinginan dan memberi rasa keadilan kepada segenap lapisan yang dipimpinnya. Prinsip konsisten dan pendirian yang konsekwen dilaksanakannya sepanjang semua pihak menganggap bahwa prinsip dan pendirian yang dianut Bupati itu sesuai dengan aspirasi yang dipimpinnya. Jadi, Bupati Simalungun yang sekarang harus konsisten dan konsekwen bukan dengan menggunakan tolok ukur kebenaran menurut versinya. Tapi dia, kata Pak Djabanten, harus melihatnya dari kacamata seluruh anak negeri dan seluruh stafnya.
Kata Pak Djabanten, seorang Kepala Daerah harus memiliki prinsip dan berpegang teguh pada pencapaian tujuan. Tapi dalam prakteknya, dia juga harus menyesuaikan berbagai hal agar pencapaian tujuan itu bisa lebih efektif. Dia pun merupakan seorang administrator pembangunan yang menanagani dan meneggerakkan serta menegarahkan pembangunan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan. Sementara, dia juga kata Pak Djabanten, harus menyadari bahwa sasaran pembangunan merupakan hasil konsensus dari seleuruh unsur yang ada di tengah-tengah anak negeri yang dipimpinnya.
Praktek menunjukkan, katanya, kondisi lapangan dalam memimpin akan memudahkan si pemimpin dalam mempengaruhi perilaku masyarakat yang dipimpinnya. Lebih-lebih dalam masyarakat modren yang cara berpikirnya kritis, perlu ada pendekatan-pendekatan khusus agar arahan-arahan yang ddiberikan masuk dalam logika mereka. Di samping itu, perlu juga memperhatikan struktur masyarakat, tradisi dan kondisi lingkungan sosial mau pun geografis dimana si pemimpin bertugas. Karena itulah, Bupati Simalungun yang sekarang menurut Pak Djabanten perlu terus menerus berdialog dan berintegrasi dengan masyarakatnya. Agar melalui dialog dan integrasi itu menghasilkan konsensus-konsensus menganai tujuan dan arah gerak masyarakat itu sendiri, katanya.
“Bupati Simalungun yang sekarang harus menyadari bahwa dalam proses semua itu, tugas utamanya adalah mengarahkan dan meluruskan apabila ada arahan yang menyimpang dari arahan yang lebih besar. Disini dibutuhkan seni kepemimpinan, dimana dia menyusun komposisi yang pas antara pencapaian tujuan dengan kondisi riel masyarakat. Sekaligus menampung aspirasi yang berkembang dalam masyarakat”, kata Pak Djabanten.
Pak Djabanten kemudian diam. Ketika mendadak petir membahana, aku kaget dan tersentak, sedang Pak Djabanten tetap tenang bahkan tenang sekali dan kalem. Sorot matanya tajam sekali mengarah kepadaku, dan dipandangi begitu aku pun jadi merasa kikuk dan salah tingkah.
Bupati Simalungun yang sekarang, harus mampu menghantarkan seluruh anak negerinya ke alam kesejahteraan, kata Pak Djabanten melanjutkan. Meski pun, katanya, ada dua tantangan besar yang dihadapinya. Pertama, dampak dari era globalisasi dan kedua, perubahan cara berpikir masyarakat Simalungun sekarang yang merupakan hasil perubahan sosial karena pembangunan nasional.. Jadi jangan menganggap keadaan itu masih sama dengan masa beberapa tahun sebelumnya.
Bupati Simalungun yang sekarang, katanya, harus menyadari dampak globalisasi yang sememang dapat memperlemah wawasan kebangsaan. Sementara, perubahan cara berpikir menuntut tidak saja hak-hak fisik tetapi juga menyangkut hak-hak sipil warga yang mencakup hak-hak sosial (minta dihargai) dan hak-hak politis (diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan)
Tantangan-tantangan tersebut mengharuskan Bupati Simalungun yang sekarang harus tetap konsisten dengan pendirian yang menyangkut keutuhan negara. Namun, dia harus lebih aspiratif dalam upaya mencapai tujuan nasional. Dengan demikian dia pun tetap bersikap integratif dan mengembangkan pola-pola kepamongan. Prinsip-prinsip utama baginya adalah keberpihakan kepada seluruh anak negeri yang dipimpinnya. Sehingga dia bersedia mengasuh, melayani dan membimbing dengan sikap arif untuk mencapai tujuan bersama.
Di luar hujan masih terus saja berderai. Berderai dan terus berderai. Aku tak tahu dari mana saja air begitu banyak tercurah ke bumi. Yang aku tahu, malam terus merangkak dan sekarang sudah menjadi garang. Angin tidak hanya berhembus sepoi, tapi bagaikan berang melibas daun-daunan. Entah mengapa, aku ingat pada peristiwa lahirnrya ungkapan Habonaran do Bona di Bumi Simalungun. Ngeri. Bulu kudukku merinding. Pikiranku pun menerawang pada almarhum Radjamin Purba yang pernah memimpin Simalungun, pada almarhum Pdt J Wismar Saragih, pada Haji Ulakma Sinaga. Juga pada Raja Kerajaan Purba, Pangultopultop. Padahal, semuanya tidak pernah aku kenal secara fisik. Aku cuma pernah mendengar kisah-kisah mereka dari tokoh dan tetua Simalungun seperti D Kenan Purba. Padahal, Pak Kenan Purba sendiri sudah lama sekali mati.
Aku beranjak dari dudukku. Dengan sangat hati-hati aku katakan pada Pak Djabanten, bahwa Bupati Simalungun yang sekarang, JR Saragih, tak perlu digurui apalagi diingatkan. Dia itu, kataku, bukan orang sembarangan dan bukan sembarangan orang. JR Saragih, kataku, tidak cuma seorang cerdas dan brilian, tapi juga punya ide cerdas dan cemerlang. Apalagi, dia merupakan seorang doktor. Doktor dalam bidang disiplin ilmu pemerintahan pula, kataku.
Wajah Pak Djabanten berubah. Tak lagi cerah seperti sejak tadi aku diceramahinya. Aku menyesal mengucapkan kalimat-kalimat yang barusan kusampaikan. Mendadak Pak Djabanten menghardikku keras dan garang. Katanya, biar cerdas, brilian dan berotak cemerlang, semua kita harus saling mengingatkan. Tak ada yang pintar kalau jalan sendiri-sendiri katanya, dan siapa pun harus diingatkan agar tidak tergelincir. Aku diam termangu dan membenarkannya. Apalagi, kata Pak Djabanten kritik diperlukan dalam pembangunan.
Tiba-tiba aku terpelanting dari kursiku. Tubuhku menghempas ke lantai. Bagian punggungku terasa nyeri. Ketika kugosok-gosok kelopak mataku, arus listrik sudah kembali tersambung di rumahku. Hujan pun telah reda. Petir tak lagi membahana. Hanya deraian air Bah Bolon di belakang rumahku yang terdengar mengalir deras. Menghempas.
Sudah dini hari. Selamat pagi !
____________________________________ Ramlo R Hutabarat - 081361706993
Senja. Di luar kelam. Angin menderu-deru. Menggoyang ranting pepohonan. Menggetarkan ranting. Awan di langit bergumpal-gumpal. Bergulung-gulung. Langit pun menghitam. Petir sesekali membahana. Memecah kesunyian. Membongkah kebisuan. Sunyi. Sepi. Sendiri. Aku melangkah gontai ke kamar kerjaku yang sempit. Menutup daun jendela yang sempat dipermainkan angin. Dibanting-banting. Dan seperti biasa, arus listrik pun putus ke rumahku. Tak tahu sebab kenapa-kenapa.
Aku membanting tubuhku yang kurus di kursi meja kerjaku. Menatap nanap pada dinding. Gelap. Sunyi mencekam. Aku menerawang pada masa lalu. Masa lalu yang manis indah, tapi pahit getir bila dikenang. Aku pun berharap pada masa depan. Masa depan yang penuh harapan. Tapi juga penuh tantangan.Dan petir pun tiba-tiba menggelegar sambung menyambung. Angin makin menderu-deru. Bagaikan dua raksasa yang tengah bertarung di angkasa raya mempertahankan harkat dan martabat. Dan hujan pun berderai membasahi apa saja. Membasahi segala. Tanpa irama.
Tiba-tiba aku melihat nanar sesosok tubuh. Tinggi. Kekar. Gurat-gurat di wajahnya memantulkan wibawa. Wibawa kebapaan yang diselimuti kharisma. Aku menggosok-gosok kelopak mataku. Mengkedip-kedipkannya. Berkali-kali. Sekali lagi. Berkali-kali. Sekali lagi. Tak berhenti. Sepertinya, aku mengenal sosok itu.
Aku tak keliru. Itu sosok Drs Djabanten Damanik yang pernah menjadi Bupati Simalungun sampai dua periode. Aku mengenalnya dan sangat kenal sekali. Selain karena dia pernah menjadi Bupati Simalungun, kami sempat bertetangga di Kompleks PN Kertas Pematangsiantar. Menurutku, rumahnya di belakang rumahku. Tapi menurut dia, rumahku di belakang rumahnya. Tak ada di antara kami yang mengalah. Padahal yang sebenarnya, rumah kami saling membelakangi.
“Pak Djabanten. Apa kabar Pak ? Lama kita tak bertemu”, kataku sambil berdiri dan menyalaminya akrab dan mesra. Kuguncang-guncangkan tangannya ketika tangannya yang kekar itu kujabat erat. Pak Djabanten hanya memandangiku. Sorot matanya tajam dan garang. Tegas dan jelas. Ciri khas seorang Drs Djabanten Damanik, putra Sipolha di Tepian Pantai Danau Toba.
Beberapa jenak kami saling berdiam diri. Kupandangi Pak Djabanten. Dipandanginya aku. Kami saling memandang. Pak Djabanten diam. Aku juga diam. Kami saling diam-diaman. Di luar, halilintar masih sesekali membahana dan hujan jatuh ke bumi. Keras. Deras.
“Kemana Bapak selama ini ?”, kataku lagi mencoba memecah kebisuan yang beberapa jenak menyelimuti kami.
Pak Djabanten masih tetap diam. Dipandanginya lagi aku dengan sorot matanya yang garang, jelas dan tegas serta penuh wibawa. Dipandanginya mulai dari ujung kakiku sampai ujung rambutku. Aku jadi kikuk. Seperti serba salah. Kilat menyambar diikuti petir yang menggetarkan dinding kamar kerjaku.
“Aku pergi. Aku sudah pergi. Ke tempat Yang Maha Tinggi. Dimana dendam, iri, dengki dan sakit hati tak ada lagi”, katanya tiba-tiba dan berdiri sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celananya, kiri dan kanan. Aku diam dan Pak Djabanten merasa aman untuk melemparkan tanya.
“Bagaimana Simalungun sekarang ?”, katanya masih tetap dengan sorot mata yang garang, jelas, tegas dan penuh wibawa kebapaan.
Aku katakan pada Pak Djabanten, Simalungun sudah berubah sejak ditinggalkannya. Bupati Simalungun yang sekarang, JR Saragih, kataku, gemar dan hobby pada perubahan. Karena itu, selama beberapa bulan ini saja masa pemerintahannya, sudah banyak yang dirubahnya. Berubah-ubah demi dan atas nama perubahan. Dan demi serta atas nama perubahan pula sudah banyak sekali yang diubah-ubah. Hingga, kataku, aku pun jadi ragu apa yang dimaksud dengan kata perubahan. Sampai sekarang aku belum pernah membaca kamus.
Pak Djabanten mengernyitkan keningnya. Dipandanginya aku dalam dan tajam. Dikeluarkannya sebatang rokok dari sakunya, dan dihembuskannya asapnya lepas dan bebas ke udara yang lepas dan bebas pula. Masih seperti dulu. Pak Djabanten mengisap Gudang Garam Filter kegemarannya. Dan aku merasa aman untuk meneruskan ceritaku.
Kuceritakan pada Pak Djabanten, Kantor Bupati Simalungun yang pembangunannya diawali pada masa pemerintahannya dulu, sekarang sudah ditinggalkan. Ini tentu, kataku, merupakan bahagian dari perubahan tadi. Padahal, kataku lagi, pembangunannya dibiayai dengan dana puluhan miliar rupiah. Soal kenapa tidak ditempati lagi, kan banyak sekali alasan yang bisa untuk dikedepankan, kataku. Termasuk, banyak kantor yang dipindah dan ini artinya juga diubah, kataku. Bahkan, ada ruas jalan yang diubah di kompleks perkantoran Pemkab Simalungun di Sondi Raya, dijadikan lokasi pendirian kantin, kataku lagi.
Pak Djabanten tertawa. Tapi tawanya hambar. Kering bahkan tandus. Tak terkesan ada yang lucu hingga membuatnya tertawa. Dan aku pun merasa Pak Djabanten justru mentertawakanku. Namun karena tawa Pak Djabanten kurasa cuma ingin mentertawakanku, aku pun balik tertawa. Kami tertawa-tawa. Aku dan Pak Djabanten tertawa. Kami mempertawakan diri kami sendiri. Dan barangkali, banyak orang mempertawakan kami. Tertawa.
Pak Djabanten berdiri. Berkeliling di ruang kamar kerjaku yang sempit dan pengap. Di luar hujan masih saja berderai. Petir sambung menyambung didahului kilat yang menyambar masuk ke ruangan kami. Arus listrik belum juga tersambung. Dan malam pun terus merangkak dengan damainya.
Sebagai pakar pemerintahan dan salah seorang penggagas ide otonomi daerah, Pak Djabanten menjelaskan banyak hal kepadaku. Dia menerangkannya bagai seorang dosen yang cerdas dan lihai, sementara aku mendengarkannya bagai seorang mahasiswa yang dungu, dongok dan goblok
Kata Pak Djabanten, sebenarnya seorang Kepala Daerah harus mampu berperan sebagai koordinator pembangunan, motivator pembangunan, maneger pembangunan, sekaligus pembangun masyarakat. Sebagai koordinator pembangunan kata Pak Djabanten, Kepala Daerah harus mampu mensinkronkan dan menyelaraskan gerak para pelaksana pembangunan agar dana yang dikeluarkan untuk pembangunan dapat lebih hemat dan efisien. Tugas ini harus dilakukan seorang Kepala Daerah katanya, karena pelaksanaan pembangunan yang tidak sikron pada akhirnya akan merugikan masyarakat. Bukan hanya karena penghamburan dana, tetapi juga pelayanan kepada masyarakat menjadi terhambat.
Sebagai motivator pembangunan, Kepala Daerah itu kata Pak Djabanten diperlukan karena tidak semua warga masyarakat menyadari perannya untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Sebahagian anggota masyarakat justru harus dipacu dan dimotivasi dengan berbagai cara agar mau menyumbangkan tenaga, dana dan pikirannya untuk berkiprah dalam pembangunan. Upaya memotivasi juga tidak dilakukan dengan sambil lalu. Tetapi harus dengan perencanaan yang mantap dan matang, serta aktivitas yang terus menerus.
Sebagai maneger pembangunan, seorang Kepala Daerah katanya harus mampu menggali berbagai potensi sumber daya agar menjadi kekuatan riel untuk mendukung pembangunan. Dalam rangka inilah katanaya lagi, seorang Kepala Daerah harus mampu membaca peta kekuatan yang ada di wilayahnya. Dimana, menurut Pak Djabanten, kekuatan-kekuatan itu baik fisik maupun sosial dikerahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sebagai pembangun masyarakat, kata Pak Djabanten seorang Kepala Daerah harus mempunyai kemampuan untuk mengaktualisasikan potensinya sendiri, seerta mempunyai prakarsa dan kreativitas yang bermanfaat bukan untuk dirinya saja. Tapi untuk semua masyarakat yang dipimpinnya. Kepala Daerah, harus menciptakan iklim dimana masyarakat bisa mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya. Baik potensi sosial intelektual, mental spiritual , maupun fisiknya secara optimal.
Di luar alam masih saja tidak bersahabat dan dingin mulai merambat. Aku pun asyik terus dengan pemaparan Pak Djabanten yang kupikir sangat memikat.
Seorang Kepala Daerah, menurut Pak Djabanten harus mampu memerankan tiga prinsip yang menjadi dasar bagi seorang pemimpin. Pertama, dia harus seorang yang konsisten, kedua dia juga harus konsekwen dan ketiga dia harus memiliki sikap dan karakter mengayomi. Konsisten artinya tetap teguh pada pendiriannya dalam bagaimana pun keadaannya. Konsekwen artinya, dia sanggup menerima resiko dari pendiriannya. Meskipun, katanya, dia harus tetap menyadari sikap konsekwennya itu perlu dipegang teguh apabila dia yakin bahwa pendiriannya itu benar dan akan membawa kebaikan pada yang dipimpinnya.
Dalam memerankan prinsip yang ketiga, mengayomi, menurut Pak Djabanten seorang Kepala Daerah harus memeberi perlindungan dan keteguhan. Sehinga, semua pihak yang dipimpinnya selalu merasa aman dan tenteram dalam perlindungannya. Dia mengayomi yang pada dasarnya mengandung rasa tanggung jawab, yakni kesediaan menanggung segala akibat yang dijalankan oleh pengikutnya dalam rangka memenuhi perintah-perintah atau ajakan si Bupati. Untuk mencegah kemungkinan tertimpanya beban berat akibat tindakan-tindakan yang merugikan si Bupati sekaligus untuk mencegah penyimpangan dalam pelaksanaan tugas, seluruh pihak harus dibimbing agar tindakannya tidak menyimpang dari tujuan yang ditetapkan.
“Selain, seorang Kepala Daerah harus memiliki sifat-sifat adil, arif, bijaksana, penuh prakarsa, percaya diri, ulet, jujur, berani, mawas diri, berani mengambil keputusan, dan komunikatif”, kata Pak Djabanten. Dia kulihat lega sekali setelah mengucapkan kata itu dan aku masih saja diam karena terpana pada pernyataannya.
Pak Djabanten menambahkan, seorang Bupati harus benar-benar memperhatikan semua lapisan yang dipimpinnya. Dia juga harus peka untuk membaca keinginan-keinginan dan memberi rasa keadilan kepada segenap lapisan yang dipimpinnya. Prinsip konsisten dan pendirian yang konsekwen dilaksanakannya sepanjang semua pihak menganggap bahwa prinsip dan pendirian yang dianut Bupati itu sesuai dengan aspirasi yang dipimpinnya. Jadi, Bupati Simalungun yang sekarang harus konsisten dan konsekwen bukan dengan menggunakan tolok ukur kebenaran menurut versinya. Tapi dia, kata Pak Djabanten, harus melihatnya dari kacamata seluruh anak negeri dan seluruh stafnya.
Kata Pak Djabanten, seorang Kepala Daerah harus memiliki prinsip dan berpegang teguh pada pencapaian tujuan. Tapi dalam prakteknya, dia juga harus menyesuaikan berbagai hal agar pencapaian tujuan itu bisa lebih efektif. Dia pun merupakan seorang administrator pembangunan yang menanagani dan meneggerakkan serta menegarahkan pembangunan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan. Sementara, dia juga kata Pak Djabanten, harus menyadari bahwa sasaran pembangunan merupakan hasil konsensus dari seleuruh unsur yang ada di tengah-tengah anak negeri yang dipimpinnya.
Praktek menunjukkan, katanya, kondisi lapangan dalam memimpin akan memudahkan si pemimpin dalam mempengaruhi perilaku masyarakat yang dipimpinnya. Lebih-lebih dalam masyarakat modren yang cara berpikirnya kritis, perlu ada pendekatan-pendekatan khusus agar arahan-arahan yang ddiberikan masuk dalam logika mereka. Di samping itu, perlu juga memperhatikan struktur masyarakat, tradisi dan kondisi lingkungan sosial mau pun geografis dimana si pemimpin bertugas. Karena itulah, Bupati Simalungun yang sekarang menurut Pak Djabanten perlu terus menerus berdialog dan berintegrasi dengan masyarakatnya. Agar melalui dialog dan integrasi itu menghasilkan konsensus-konsensus menganai tujuan dan arah gerak masyarakat itu sendiri, katanya.
“Bupati Simalungun yang sekarang harus menyadari bahwa dalam proses semua itu, tugas utamanya adalah mengarahkan dan meluruskan apabila ada arahan yang menyimpang dari arahan yang lebih besar. Disini dibutuhkan seni kepemimpinan, dimana dia menyusun komposisi yang pas antara pencapaian tujuan dengan kondisi riel masyarakat. Sekaligus menampung aspirasi yang berkembang dalam masyarakat”, kata Pak Djabanten.
Pak Djabanten kemudian diam. Ketika mendadak petir membahana, aku kaget dan tersentak, sedang Pak Djabanten tetap tenang bahkan tenang sekali dan kalem. Sorot matanya tajam sekali mengarah kepadaku, dan dipandangi begitu aku pun jadi merasa kikuk dan salah tingkah.
Bupati Simalungun yang sekarang, harus mampu menghantarkan seluruh anak negerinya ke alam kesejahteraan, kata Pak Djabanten melanjutkan. Meski pun, katanya, ada dua tantangan besar yang dihadapinya. Pertama, dampak dari era globalisasi dan kedua, perubahan cara berpikir masyarakat Simalungun sekarang yang merupakan hasil perubahan sosial karena pembangunan nasional.. Jadi jangan menganggap keadaan itu masih sama dengan masa beberapa tahun sebelumnya.
Bupati Simalungun yang sekarang, katanya, harus menyadari dampak globalisasi yang sememang dapat memperlemah wawasan kebangsaan. Sementara, perubahan cara berpikir menuntut tidak saja hak-hak fisik tetapi juga menyangkut hak-hak sipil warga yang mencakup hak-hak sosial (minta dihargai) dan hak-hak politis (diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan)
Tantangan-tantangan tersebut mengharuskan Bupati Simalungun yang sekarang harus tetap konsisten dengan pendirian yang menyangkut keutuhan negara. Namun, dia harus lebih aspiratif dalam upaya mencapai tujuan nasional. Dengan demikian dia pun tetap bersikap integratif dan mengembangkan pola-pola kepamongan. Prinsip-prinsip utama baginya adalah keberpihakan kepada seluruh anak negeri yang dipimpinnya. Sehingga dia bersedia mengasuh, melayani dan membimbing dengan sikap arif untuk mencapai tujuan bersama.
Di luar hujan masih terus saja berderai. Berderai dan terus berderai. Aku tak tahu dari mana saja air begitu banyak tercurah ke bumi. Yang aku tahu, malam terus merangkak dan sekarang sudah menjadi garang. Angin tidak hanya berhembus sepoi, tapi bagaikan berang melibas daun-daunan. Entah mengapa, aku ingat pada peristiwa lahirnrya ungkapan Habonaran do Bona di Bumi Simalungun. Ngeri. Bulu kudukku merinding. Pikiranku pun menerawang pada almarhum Radjamin Purba yang pernah memimpin Simalungun, pada almarhum Pdt J Wismar Saragih, pada Haji Ulakma Sinaga. Juga pada Raja Kerajaan Purba, Pangultopultop. Padahal, semuanya tidak pernah aku kenal secara fisik. Aku cuma pernah mendengar kisah-kisah mereka dari tokoh dan tetua Simalungun seperti D Kenan Purba. Padahal, Pak Kenan Purba sendiri sudah lama sekali mati.
Aku beranjak dari dudukku. Dengan sangat hati-hati aku katakan pada Pak Djabanten, bahwa Bupati Simalungun yang sekarang, JR Saragih, tak perlu digurui apalagi diingatkan. Dia itu, kataku, bukan orang sembarangan dan bukan sembarangan orang. JR Saragih, kataku, tidak cuma seorang cerdas dan brilian, tapi juga punya ide cerdas dan cemerlang. Apalagi, dia merupakan seorang doktor. Doktor dalam bidang disiplin ilmu pemerintahan pula, kataku.
Wajah Pak Djabanten berubah. Tak lagi cerah seperti sejak tadi aku diceramahinya. Aku menyesal mengucapkan kalimat-kalimat yang barusan kusampaikan. Mendadak Pak Djabanten menghardikku keras dan garang. Katanya, biar cerdas, brilian dan berotak cemerlang, semua kita harus saling mengingatkan. Tak ada yang pintar kalau jalan sendiri-sendiri katanya, dan siapa pun harus diingatkan agar tidak tergelincir. Aku diam termangu dan membenarkannya. Apalagi, kata Pak Djabanten kritik diperlukan dalam pembangunan.
Tiba-tiba aku terpelanting dari kursiku. Tubuhku menghempas ke lantai. Bagian punggungku terasa nyeri. Ketika kugosok-gosok kelopak mataku, arus listrik sudah kembali tersambung di rumahku. Hujan pun telah reda. Petir tak lagi membahana. Hanya deraian air Bah Bolon di belakang rumahku yang terdengar mengalir deras. Menghempas.
Sudah dini hari. Selamat pagi !
____________________________________ Ramlo R Hutabarat - 081361706993
Aku dan Orang-orang Kampungku
Ramlo R Hutabarat
Kampungku di Kelurahan Partali Toruan, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Sebenarnya, lebih tepat kalau kusebut tanah asal leluhurku. Sebab, aku lahir dan dibesarkan di Indonesia, sama dengan Bapakku yang (sudah) dilahirkan di Sidikalang dan merantau kesana kemari karena tugas yang diembannya dulu. Tapi aku pernah tinggal disana, waktu aku sekolah di STM – HKI Tarutung pada jurusan mesin umum. Lantas, waktu aku bekerja sebagai Wartawan SIB, aku pernah juga bertugas di Tapanuli Utara, 1984 – 1986. Makanya, tak terlalu salah kalau kusebut kampungku di Kelurahan Partali Toruan, Tarutung. Oke ?
Setiap orang bisa sampai ke kampungku dari berbagai ruas jalan di empat arah mata angin. Dari arah Timur, kampungku bisa ditempuh dari Sipoholon di ruas jalan Trans Sumatera. Belok kiri begitu melewati Aek Rangat, menyusur pemukiman penduduk yang berada di tengah persawahan. Dari arah Barat, bisa ditempuh dari Jembatan Aek Situmandi di Desa Hutagalung Harean, belok kanan menuju kota Tarutung. Beberapa gedung kantor pemerintahan terlihat di tengah persawahan dibangun pemerintah, tentunya. Aku tak tahu kenapa justru pemerintah yang merubah fungsi sawah menjai areal perkantoran.
Dari arah Utara, artinya dari arah kota Tarutung, siapa saja bisa sampai ke kampungku setelah melewati Jembatan Aek Ristop di Huta Baginda. Di sisi kiri jalan raya, akan terlihat Gereja Katolik yang megah dan anggun lengkap dengan kompleks sekolah yang dibangun di sekitarnya. Arsitektur Gereja Katolik itu menarik perhatianku karena dibuat dengan ornamen Batak yang unik dan khas. Melewati Gereja Katolik, ada pomp bensin (SBPU) yang merupakan satu-satunya di kota Tarutung yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara.
Dari arah Selatan, semua orang bisa juga sampai ke kampungku setelah meliuk-liuk menuruni punggung Bukit Barisan di kawasan Siarangarang. Panorama yang amat menakjubkan akan terlihat jika ke kampungku melalui jalur ini. Jelang tiba di kawasan Aek Rangat, sejauh-jauh mata memandang akan terlihat Gunung Martimbang yang berdiri kokoh menjulang ke angkasa dengan perkasa. Gunung Martimbang sejak bumi ini ada, sudah mengkawal anak negeri Tarutung dengan gagahnya. Gunung ini juga yang setiap saat memberi kami air panas dan dimanfaatkan banyak anak negeri untuk menambah pendapatannya.
Kampungku menjadi berbentuk kelurahan ketika sepupuku Chungking Hutabarat menjadi kepala desa disana. Aku tak ingat secara pasti tahun berapa itu, tapi agaknya sekira pertengahan 1980-an. Chungking memang pintar dan cerdas dan selalu memanfaatkan peluang begitu terbuka lebar. Waktu itu dia menjadi Ketua KNPI Tapanuli Utara dan segala macam jabatan serta kedudukan yang diembannya.Posisinya yang menguntungkan dimanfaatkannya meningkatkan status desa kami menjadi kelurahan.
Hampir semua sepupuku di kampungku hidup dari hasil pertanian dalam arti luas. Perut bumi kampungku memang ramah kalau diolah dan dijamah. Ada sawah disana, ada lahan pertanian kering. Karena sistem pengairan yang belum teknis, orang-orang kampungku mengolah sawah masih sekali setahun. Tapi begitu padi disawah dipanen, orang-orang kampung memanfaatkan lahan sawah untuk ditanami cabai, sayuran dan tanaman holtikultura lainnya. Makanya, sebenarnya, hampir tak ada waktu luang sepanajang tahun bagi orang-orang kampungku.
Dulu mulai akhir 1960-an hingga akhir 1970 orang-orang kampungku mengekploitasi batu kapur yang banyak di kawasan Aek Raangat. Pebukitan di kawasan Dusun Aek Rangat digempur dari segala macam arah. Ketika pebukitan menjadi rata dengan bumi, orang-orang kampungku belum puas. Perut bumi pun dikeruk sampai dalam supaya diambil batu kapurnya. Sesekali bumi kampungku gerah dan marah juga. Pernah perut bumi yang dikeroyok menumpahkan kemarahannya, dan menimpa seorang sepupu sampai mati. Longsoran batu kapur membuat sepupuku tadi tak bisa bernapas dan …. Mati. Dikubur.
Laki-laki di kampungku, umumnya bekerja juga sebagai tukang. Bisa tukang batu, tukang kayu dan juga tukang bengkel. Begitu proyek-proyek pemerintah mulai ditender dan dikerjakan kontraktor, banyak laki-laki di kampungku yang mandah keluar daerah. Dulu waktu Tapanuli Utara masih meliputi Humbang Hasundutanm Tobasa dan Samnosir, laki-laki dari kampungku banayak yang mandah kesana karena bertukang. Banyak di antara mereka justru mendapat jodoh dari daerah tempatnya bertukang. Seorang sepupuku bernama Gordon Hutabarat, dulu menjadi tukang di Ramba Siala Kecamatan Garoga. Nasib baik dia menjadi SH (Sonduk Hela) disana sampai sekarang. Dia rajin dam tekun, bekerja keras dan berhemat, akhirnya sekarang sudah menjadi orang yang kaya (sekali) Kabarnya kebun karetnya tak terhitung lagi entah sudah berapa juta centimeter.
Dulu, banyak perempuan di kampungku yang kerjanya martonun. Mereka sepanjang hari sepanjang minggu dan bulan, bahkan sepanjang hidupnya hanya martonun dan martonun. Benang bahan baku martonun mereka beli sekali seminggu dari Pekan Tarutung waktu hari onan. Sekalian, mereka menjual hasil tonunannya dan sekalian pula maronani. Membeli bahan-bahan dapur atau ragam bahan kecantikan. Sampo apalagi conditioner tidak mereka beli, tentu. Persoalannya, waktu itu bahan kecantikan semacam itu belum ada, dan perempuan di kampungku umumnya menggunakan kelapa untuk memebersihkan rambutnya.
Tapi sekarang, perempuang di kampungku tak banyak lagi yang martonun. Kalau ada pun, paling satu-satu dan tidak cukup serius seperti masa lalu. Penyebabnya, sekarang sudah ada industri ulos di kota-kota besar. Partonun di kampungku kalah bersaing dengan industri ulos pabrikan itu. Apalagi, bahan baku untuk membuat ulos semakin hari semakin mahal. Tak seimbang (lagi) dengan ulos yang dihasilkan jika ditonun. Meski pun sudah tentu, ulos buatan tangan yang ditonun lebih berkualitas dari ulos pabrikan.
Lain dulu, lain sekarang, tentu. Dulu orang-orang kampungku mengenal istilah marsiadapari. Sawah dikerjakan secara bersama-sama. Hari ini di sawah si A, besok boleh jadi di sawah si B. Pengolahan sawah, dimulai dari mangombak, manggole, mangaresres. Lantas marsuan, marbabo dan akhirnya manggotil. Manggotil sekaligus juga dilakukan dengan mardege yang umumnya merupakan bagian pekerjaan anak-anak muda. Mardege dilakukan pada malam hari dengan diterangi lampu petromaks yang di kampungku populer disebut strongking. Kadang kalau tak ada minyak lampu, alat penerangan yang digunakan hanya sinar bulan yang redup. Tapi kalau memanfaatkan sinar bulan, suasananya menjadi sanagat romantis.
Mardege harus diselesaikan dalam hitungan malam saja. Tidak pernah dilanjutkan keesokan harinya, sebab biasanya busuk-busukan dibuat sebesar yang mungkin dikerjakan dalam satu malam (saja) Proses manarsari merupakan bagian pekerjaan perempuan. Proses pengangkutan padi ke rumah, merupakan bagian laki-laki. Padi dimasukkan ke dalam panuhukan besar dan diangkut melalui pematang-pematang sawah yang sempit dan liicin. Kadang kalau tarsulandit, si pembawa padi kejeblos ke sawah.
Orangtua pemilik sawah, biasanya hanya punya urusan memasak makanan doang. Setelah siap, makanan dibawa ke sawah untuk disantap para pardege. Di tengah sawah, di tengah malam, bukan main lahapnya makan. Biar gulamo natinutung dan sedikit cabai, habislah semua makanan itu. Padahal biasanya, kalau musim mardege lompam selalu enak-enak. Tak jarang pmbunuhan pun dilaklukan. Boleh jadi ayam beberapa ekor atau anak ni pinahan lobu.(Bersambung)
____________________________________________________________________
Ramlo R Hutabarat
HP : 0813 6170 6993
_______________________________________________________________________
Kampungku di Kelurahan Partali Toruan, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Sebenarnya, lebih tepat kalau kusebut tanah asal leluhurku. Sebab, aku lahir dan dibesarkan di Indonesia, sama dengan Bapakku yang (sudah) dilahirkan di Sidikalang dan merantau kesana kemari karena tugas yang diembannya dulu. Tapi aku pernah tinggal disana, waktu aku sekolah di STM – HKI Tarutung pada jurusan mesin umum. Lantas, waktu aku bekerja sebagai Wartawan SIB, aku pernah juga bertugas di Tapanuli Utara, 1984 – 1986. Makanya, tak terlalu salah kalau kusebut kampungku di Kelurahan Partali Toruan, Tarutung. Oke ?
Setiap orang bisa sampai ke kampungku dari berbagai ruas jalan di empat arah mata angin. Dari arah Timur, kampungku bisa ditempuh dari Sipoholon di ruas jalan Trans Sumatera. Belok kiri begitu melewati Aek Rangat, menyusur pemukiman penduduk yang berada di tengah persawahan. Dari arah Barat, bisa ditempuh dari Jembatan Aek Situmandi di Desa Hutagalung Harean, belok kanan menuju kota Tarutung. Beberapa gedung kantor pemerintahan terlihat di tengah persawahan dibangun pemerintah, tentunya. Aku tak tahu kenapa justru pemerintah yang merubah fungsi sawah menjai areal perkantoran.
Dari arah Utara, artinya dari arah kota Tarutung, siapa saja bisa sampai ke kampungku setelah melewati Jembatan Aek Ristop di Huta Baginda. Di sisi kiri jalan raya, akan terlihat Gereja Katolik yang megah dan anggun lengkap dengan kompleks sekolah yang dibangun di sekitarnya. Arsitektur Gereja Katolik itu menarik perhatianku karena dibuat dengan ornamen Batak yang unik dan khas. Melewati Gereja Katolik, ada pomp bensin (SBPU) yang merupakan satu-satunya di kota Tarutung yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara.
Dari arah Selatan, semua orang bisa juga sampai ke kampungku setelah meliuk-liuk menuruni punggung Bukit Barisan di kawasan Siarangarang. Panorama yang amat menakjubkan akan terlihat jika ke kampungku melalui jalur ini. Jelang tiba di kawasan Aek Rangat, sejauh-jauh mata memandang akan terlihat Gunung Martimbang yang berdiri kokoh menjulang ke angkasa dengan perkasa. Gunung Martimbang sejak bumi ini ada, sudah mengkawal anak negeri Tarutung dengan gagahnya. Gunung ini juga yang setiap saat memberi kami air panas dan dimanfaatkan banyak anak negeri untuk menambah pendapatannya.
Kampungku menjadi berbentuk kelurahan ketika sepupuku Chungking Hutabarat menjadi kepala desa disana. Aku tak ingat secara pasti tahun berapa itu, tapi agaknya sekira pertengahan 1980-an. Chungking memang pintar dan cerdas dan selalu memanfaatkan peluang begitu terbuka lebar. Waktu itu dia menjadi Ketua KNPI Tapanuli Utara dan segala macam jabatan serta kedudukan yang diembannya.Posisinya yang menguntungkan dimanfaatkannya meningkatkan status desa kami menjadi kelurahan.
Hampir semua sepupuku di kampungku hidup dari hasil pertanian dalam arti luas. Perut bumi kampungku memang ramah kalau diolah dan dijamah. Ada sawah disana, ada lahan pertanian kering. Karena sistem pengairan yang belum teknis, orang-orang kampungku mengolah sawah masih sekali setahun. Tapi begitu padi disawah dipanen, orang-orang kampung memanfaatkan lahan sawah untuk ditanami cabai, sayuran dan tanaman holtikultura lainnya. Makanya, sebenarnya, hampir tak ada waktu luang sepanajang tahun bagi orang-orang kampungku.
Dulu mulai akhir 1960-an hingga akhir 1970 orang-orang kampungku mengekploitasi batu kapur yang banyak di kawasan Aek Raangat. Pebukitan di kawasan Dusun Aek Rangat digempur dari segala macam arah. Ketika pebukitan menjadi rata dengan bumi, orang-orang kampungku belum puas. Perut bumi pun dikeruk sampai dalam supaya diambil batu kapurnya. Sesekali bumi kampungku gerah dan marah juga. Pernah perut bumi yang dikeroyok menumpahkan kemarahannya, dan menimpa seorang sepupu sampai mati. Longsoran batu kapur membuat sepupuku tadi tak bisa bernapas dan …. Mati. Dikubur.
Laki-laki di kampungku, umumnya bekerja juga sebagai tukang. Bisa tukang batu, tukang kayu dan juga tukang bengkel. Begitu proyek-proyek pemerintah mulai ditender dan dikerjakan kontraktor, banyak laki-laki di kampungku yang mandah keluar daerah. Dulu waktu Tapanuli Utara masih meliputi Humbang Hasundutanm Tobasa dan Samnosir, laki-laki dari kampungku banayak yang mandah kesana karena bertukang. Banyak di antara mereka justru mendapat jodoh dari daerah tempatnya bertukang. Seorang sepupuku bernama Gordon Hutabarat, dulu menjadi tukang di Ramba Siala Kecamatan Garoga. Nasib baik dia menjadi SH (Sonduk Hela) disana sampai sekarang. Dia rajin dam tekun, bekerja keras dan berhemat, akhirnya sekarang sudah menjadi orang yang kaya (sekali) Kabarnya kebun karetnya tak terhitung lagi entah sudah berapa juta centimeter.
Dulu, banyak perempuan di kampungku yang kerjanya martonun. Mereka sepanjang hari sepanjang minggu dan bulan, bahkan sepanjang hidupnya hanya martonun dan martonun. Benang bahan baku martonun mereka beli sekali seminggu dari Pekan Tarutung waktu hari onan. Sekalian, mereka menjual hasil tonunannya dan sekalian pula maronani. Membeli bahan-bahan dapur atau ragam bahan kecantikan. Sampo apalagi conditioner tidak mereka beli, tentu. Persoalannya, waktu itu bahan kecantikan semacam itu belum ada, dan perempuan di kampungku umumnya menggunakan kelapa untuk memebersihkan rambutnya.
Tapi sekarang, perempuang di kampungku tak banyak lagi yang martonun. Kalau ada pun, paling satu-satu dan tidak cukup serius seperti masa lalu. Penyebabnya, sekarang sudah ada industri ulos di kota-kota besar. Partonun di kampungku kalah bersaing dengan industri ulos pabrikan itu. Apalagi, bahan baku untuk membuat ulos semakin hari semakin mahal. Tak seimbang (lagi) dengan ulos yang dihasilkan jika ditonun. Meski pun sudah tentu, ulos buatan tangan yang ditonun lebih berkualitas dari ulos pabrikan.
Lain dulu, lain sekarang, tentu. Dulu orang-orang kampungku mengenal istilah marsiadapari. Sawah dikerjakan secara bersama-sama. Hari ini di sawah si A, besok boleh jadi di sawah si B. Pengolahan sawah, dimulai dari mangombak, manggole, mangaresres. Lantas marsuan, marbabo dan akhirnya manggotil. Manggotil sekaligus juga dilakukan dengan mardege yang umumnya merupakan bagian pekerjaan anak-anak muda. Mardege dilakukan pada malam hari dengan diterangi lampu petromaks yang di kampungku populer disebut strongking. Kadang kalau tak ada minyak lampu, alat penerangan yang digunakan hanya sinar bulan yang redup. Tapi kalau memanfaatkan sinar bulan, suasananya menjadi sanagat romantis.
Mardege harus diselesaikan dalam hitungan malam saja. Tidak pernah dilanjutkan keesokan harinya, sebab biasanya busuk-busukan dibuat sebesar yang mungkin dikerjakan dalam satu malam (saja) Proses manarsari merupakan bagian pekerjaan perempuan. Proses pengangkutan padi ke rumah, merupakan bagian laki-laki. Padi dimasukkan ke dalam panuhukan besar dan diangkut melalui pematang-pematang sawah yang sempit dan liicin. Kadang kalau tarsulandit, si pembawa padi kejeblos ke sawah.
Orangtua pemilik sawah, biasanya hanya punya urusan memasak makanan doang. Setelah siap, makanan dibawa ke sawah untuk disantap para pardege. Di tengah sawah, di tengah malam, bukan main lahapnya makan. Biar gulamo natinutung dan sedikit cabai, habislah semua makanan itu. Padahal biasanya, kalau musim mardege lompam selalu enak-enak. Tak jarang pmbunuhan pun dilaklukan. Boleh jadi ayam beberapa ekor atau anak ni pinahan lobu.(Bersambung)
____________________________________________________________________
Ramlo R Hutabarat
HP : 0813 6170 6993
_______________________________________________________________________
Kiat Memerangi Kemiskinan (Studi Kasus Kabupaten Humbang Hasundutan)
Ramlo R Hutabarat
Anak negeri Kabupaten Humbang Hasundutan, secara umum masih hidup dengan berselimutkan kemiskinan. Saya tidak menyebutnya belum sejahtera atau masih terbelakang. Kata miskin tentunya lebih tegas dan lebih jelas. Tak perlu diterjemahkan lagi ini itu. Kalau disebut miskin, secara umum orang banyak segera tahu apa dan bagaimana maksudnya. Saya memang tak membiasakan diri untuk berkata manis-manis, kalau yang manais itu hanya di bibir. Misalnya, saya tak suka menyebut terjadi kasus kurang gizi, kalau yang dimaksud adalah busung lapar. Saya juga tak suka mengatakan harga BBM disesuaikan, kalau maksudnya harga BBM dinaikkan. Kalau hancur berantakan, jangan disebut retak-retak kecil.
Kemiskinan anak negeri Kabupaten Humbang Hasundutan, gampang disaksikan dengan mata telanjang di sekujur tubuh buminya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang normatif dan standart saja masih teramat banyak di antara mereka yang Senin – Kamis. Disi adong, disi habis. Mau membiayai pendidikan putra-putrinya, ngutang. Mau memulai mengolah usaha pertaniannya, ngutang, Bahkan, kalau mendadak sakit dan harus ke dokter, ngutang. Oalah. Untuk membiayai upacara penguburan orang tuanya pun mesti ngutang dulu.
Tidak boleh diingkari, produksi berbagai ragam komoditas di daerah ini tambah tahun tambah pula angkanya. Terutama misalnya, tanaman holtikultura. Tomat, sayuran sampai cabai dan kentang, boleh jadi produksinya melimpah ruah. Tapi karena harga jualnya lebih kerap melorot tajam hingga ke titik nadir, semua tidak menghasilkan uang yang cukup. Apalagi jika dibandingkan dengan ongkos produksi yang terus menerus meninggi. Alhasil, meski pun anak negeri setiap hari setiap saat membanting tulang, semua tak mampu untuk memenuhi kebutuhan.
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, justru punya hobby aneh. Uang anak negeri di APBD, tiap tahun digunakan untuk banyak hal yang tidak berkaitan langsung dengan peningkatan pendapatan rakyat. Untuk segala macam pesta-pestalah, misalnya untuk biaya peringatan Hari Jadi Kabupaten Humbang Hasundutan, untuk biaya Pesta Tahun Baru, termasuk untuk biaya Pesta Danau Toba. Belum lagi untuk biaya kegiatan PKK yang dinilai terlalu banyak jika dibanding dengan yang dihasilkannya. Sementara, dalam pandangan saya PKK itu hanya sekadar Perempuan Kurang Kerjaan.
Missi pemerintahan Mddin Sihombing Bupati Humbang Hasundutan yang sekarang, cukup manis untuk didengar. Point ketiga bunyinya : Meningkatkan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian. Tapi sepanjang yang saya cermati lewat Buku APBD Kabupaten Humbang Hasundutan dari tahun ke tahun, point tadi tidak diimbangi dengan sasaran yang jelas dan nyata Tahun Anggaran 2006 misalnya, dari Rp 255.010.671.227 Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, hanya Rp 7.307.324.026 (2, 87 persen) yang diperuntukkan bagi Dinas Pertanian. Padahal, hampir 90 persen anak negeri kabupaten itu hidup dari sektor pertanian. Sementara sektor pertanian memiliki kontribusi terbesar (61 persen) PDRB daerah itu.
Pemkab Humbang Hasundutan, agaknya gemar sekali membelanjakan uang anak negerinya untuk bidang pekerjaan umum. Tahun Anggaran 2006 misalnya, ada Rp 68.552.791.740 yang dikucurkan untuk sektor ini (26, 88 persen dari APBD) Di banyak lokasi memang, ragam infrastrukur yang dibangun. Meski pun, banyak di antaranya yang tidak bisa dinikmati anak negeri. Pembukaan ruas jalan dari kawasan Hutaraja ke Aek Silang di Kecamatan Doloksanggul misalnya, mengkuras dana bermiliar-miliar rupiah. Tapi sampai sekarang tak pernah juga digunakan sebagai lintasan umum. Semua kendaraan termasuk truk-truk pengangkut balok-balok untuk PT TPL di Porsea, masih (tetap) melintas membelah jantung kota Doloksanggul Akibatnya gampang ditebak. Ruas jalan yang sudah dibuka tadi awalnya ditumbuhi rumput, selanjutnya pada ilalang dan selanjutnya malah bisa tertutup (lagi)
Sampai sekarang saya lihat, sektor pertanian yang menjadi andalan anak negeri (tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) masih terlalu diabaikan bahkan terkesan dianaktirikan. Padahal, sektor ini sangat strategis untuk dikembangkan. Apalagi sebenarnya, Kabupaten Humbang Hasundutan masih memiliki lahan yang luas sekali untuk diolah. Lahan-lahan tadi tersebar dan menyebar di semua kecamatan yang ada. Mulai dari Kecamatan Baktiraja sampai ke Kecamatan Parlilitan. Mulai dari Kecamatan Sijamapolang hingga ke Kecamatan Pollung yang berbatasan dengan Kabupaten Samosir. Tapi apa mau dikata, anak negeri masih saja miskin tak karu-karuan.
Pemkab Humbang Hasundutan agaknya lebih cenderung hobby menggunakan uang anak negerinya untuk berbagai belanja pegawai sampai kesannya wah dan hura-hura. Membangun gedung-gedung kantor pemerintah dengan megah dan mentereng, Pemkab gemar sekali supaya merasa beteng. Dilengkapi pula dengan ragam fasilitas mobilier yang mahal dan mewah. Belum lagi pengadaan kendaraan dinas pejabat buatan tahun tinggi. Kondisi yang begini mau tidak mau membawa konsekwensi tingginya biaya pemeliharaan dan biaya perawatan.
Dalam soal fasilitas untuk staf Pemkab, Humbang Hasundutan saya lihat number one dibanding Tapanuli Utara, Toba Samosir dan Samosir. Pemkab Humbang Hasundutan malah menurut saya, terkesan boros dan royal. Agaknya, Pemkab berupaya keras dan terus menerus mensejahterakan stafnya. Bukan malah mensejahterakan anak negerinya.
Setahun setelah Kabupaten Humbang Hasundutan dibentuk sebagai suatu daerah otonomi baru (2004), jumlah penduduk miskin disini ada 12.711 kepala keleuarga atau 20, 11 persen dari jumlah penduduk yang ada. Tapi pada 2005, justru penduduk miskin bertambah menjadi 15.715 kepala keleuarga atau 63, 09 persen dari jumlah penduduk. Meski pun – memang – (berdasarkan data BPS), pada 2006 jumlah penduduk miskin menciut menjadi 56, 26 persen.
Ukuran kemiskinan antara lain dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manausia (IPM) Ini dicerminkan oleh Angka Harapan Hidup, Angka Melek Huruf dan Kemampuan Daya Beli Masyarakat. Untuk takaran Sumatera Utara, IPM Kabupaten Humbang Hasundutan berada atau menduduki posisi ke 21 dari 26 kabupaten/ kota yang ada di daerah ini. Kalau dibanding dengan 3 kabupaten lainnya eks Tapanuli Utara dulu, IPM Kabupaten Humbang Hasundutan malah menduduki posisi pencorot. Tahun 2007 misalnya, Kabupaten Toba Samosir 75, 34, Kabupaten Samosir 73,08, Kabupaten Tapanuli Utara 72, 96, sementara Kabupaten Humbang Hasundutan hanya 70, 88.
Menurut kawan saya Ebenezer Lumbangaol yang putra asli Humbang Hasundutan, tinggi rendahnya IPM dipengaruhi oleh 4 hal. Masing-masing produktivitas mendapatkan dan menciptakan lapangan pekerjaan, pemerataan terhadap akses sumber daya ekonomi, kesinambungan dan pembaharuan sumber daya dan pemberdayaan masyarakat. Di luar itu, masih memang kata Ebenezer sebagai syarat tambahan, masing-masing kebebasan politik, ekonomi dan sosial, kesempatan menjadi kreatif dan produktif, serta kesempatan menikmati kehidupan yang sesuai dengan harkat rohani dan jasmani.
Kata Ebenezer lagi, pembangunan ekonomi merupakan syarat utama pemebangunan manusia. Karena didalamnya terjamin peningkatan produktivitas dan peningkatan pendapatan melalui penciptaan lapangan kerja. Jadi, semakin baik pembangunan ekonomi, semakin tinggi pula IPM.
Pembangunan ekonomi Kabupaten Humbang Hasundutan, dapat dilihat dari besaran Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Untuk 2006 misalnya, Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki PDRB sebesar Rp 1, 5 triliun yang jika meniadakan faktor inflasi maka besarnya adalah Rp 800 miliar. Jumlah ini sama dengan 0, 96 persen dari PDRB Sumatera Utara. Suatu pencapaian yang tidak seimbang dengan luas Kabupaten Humbang Hasundutan yang mencapai 3, 25 persen dari luas Propinsi Sumatera Utara.
PDRB sebesar itu disumbangkan oleh tiga sektor yakni pertanian 61 persen, perdagangan 14 persen dan jasa 13 persen. Bernada menekan, Ebenezer menegatakan, angka-angka ini menunjukkan bahwa penggerak utama ekonomi kabupaten ini adalah sektor pertaanian. Karena itulah dia beranggapan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Humbang Hasundutan terletak pada sejauh mana sektor pertanian digerakkan.
Masih menurut Ebenezer Lumbangaol, jika dilihat dari kelompok sektor, maka kontributor terbesar PDRB Kabupaten Humbang Hasundutan adalah sektor primer (62 persen), sekunder (18 persen) dan tersier (20 persen) Sektor primer adalah produksi yang diperoleh secara langsung (kemenyan, tomat, andaliman, kopi, dan sebagainya) Sektor sekunder adalah proses pengolahan bahan baku primer (balsem kemenyan, saos cabai, saos tomat, bubuk andaliman, bubuk kopi, dan sebagainya) Sementara sektor tersier adalah jasa-jasa perdagangan (toke kemenyan, tengkulak cabai, tengkulak tomat, tengkulak kopi dan sebagainya)
Dominasi sektor primer yang hanya menghasilkan bahan baku menunjukkan bahwa struktur ekonomi Kabupaten Humbang Hasundutan belum dapat digolongkan sebagai ekonomi produktif, katanya. Karena, katanya lagi, struktur ekonomi yang tidak memberi nilai tambah.
Karena bertumpu pada kegiatan produksi itu pula, tidak mengherankan jika pertumbuhan ekonomi Kabupaten Humbang Hasundutan tidak tergolong tinggi. Untuk 2006, laju pertumbuhan ekonomi daerah itu adalah 5, 77 persen meski pun menurut versi Pemkab Kabupaten Humbang Hasundutan 6, 32 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata Sumatera Utara yang mencapai 6, 18 persen. Apalagi kalau mau dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Kesimpulannya adalah, anak negeri Kabupaten Humbang Hasundutan masih miskin, dan tugas kita adalah memerangi kemiskinan sampai ke akar-akarnya. Kemiskinan memang harus diberantas, diberangus, sebab kemiskinan merupakan musuh kita yang utama. Gubernur Sumatera Utara non aktif Syamsul Arifin sendiri yang sekarang di penjara bilang : Rakyat tidak boleh miskin. Tidak boleh !
Lantas apa yang bisa dilakukan agar rakyat bisa sejahtera artinya tidak miskin(lagi) seperti anak negeri di Kabupaten Humbang Hasundutan ?
Kawan saya Ebenezer Lumbangaol tadi mengatakan : Yang utama sekali adalah kreativitas dan produkivitas. Semakin kreatif dan produktif sebuah masyarakat, semakin sejahtera pula mereka, katanya berteori.
Menurut Ebenezer, kreativitas dan produktivitas muncul dari sebuah paradigma ide teologis tentang kreasi dan produksi. Bagi orang Kristen, kata Ebenezer, ide teologis ini adalah dasar rasionalisasi dan modernisasi. Manusia adalah co-creator, rekan sekerja Allah yang diberi mandat memelihara seluruh ciptaan (kreativitas) dan menghasilkan (produktivitas) apa yang diperlukan untuk kesejahteraan hidupnya bersama manusia di sekelilingnya. Orang Kristen, terpanggil untuk mengusahakan kesejahteraan.
Paradigma ide teologis selanjutnya membentuk karakter dan etos kerja. Dua hal ini menurut Ebenezer merupakan syarat rasionalisasi usaha-usaha ekonomi yang produktif dan kreatif pula. Modernisasi yang dimulai di Eropah dan mencapai puncak di Amerika tidak akan menjadi keniscayaan seandainya mereka tidak memiliki rasionalisasi atas ideologi, karakter dan etos kerja Alkitabiah mengenai penciptaan dan pemeliharaan. Kajian sosiolog Max Weber mengenai etika Protestanisme dan semangat kapitalisme, jelas menunjukkan kaitan erat antara iman dengan etos kerja yang menjadi dasar terbentuknya kapitalisme moderen di Eropah dan Amerika.
“Jadi membangun sebuah masyarakat yang sejahtera, harus dibarengi dengan pembentukan karakter dan etos kerja yang mendukungnya”, kata Ebenezer.
Kalau begitu, saya pikir Pemkab Humbang Hasundutan tak perlu uring-uringan lagi (kedepan) Teori yang diajukan kawan saya Ebenezer Lumbangaol gampang dan praktis untuk diwujudnyatakan dalam bentuk sikap dan tindakan. Anak negeri kabupaten itu harus dibebaskan dari kemiskinan yang melilit kehidupannya seperti selama ini. Mereka tidak boleh (lagi) miskin dan hanya mampu meratapi kemiskinannya. Pemimpin, menurut saya, harus mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Bukan malah mensejahterakan diri dari rakyat yang dipimpinnya !
____________________________________________________________________
Ramlo R Hutabarat
HP : 0813 6170 6993
__________________________________________________________________
Anak negeri Kabupaten Humbang Hasundutan, secara umum masih hidup dengan berselimutkan kemiskinan. Saya tidak menyebutnya belum sejahtera atau masih terbelakang. Kata miskin tentunya lebih tegas dan lebih jelas. Tak perlu diterjemahkan lagi ini itu. Kalau disebut miskin, secara umum orang banyak segera tahu apa dan bagaimana maksudnya. Saya memang tak membiasakan diri untuk berkata manis-manis, kalau yang manais itu hanya di bibir. Misalnya, saya tak suka menyebut terjadi kasus kurang gizi, kalau yang dimaksud adalah busung lapar. Saya juga tak suka mengatakan harga BBM disesuaikan, kalau maksudnya harga BBM dinaikkan. Kalau hancur berantakan, jangan disebut retak-retak kecil.
Kemiskinan anak negeri Kabupaten Humbang Hasundutan, gampang disaksikan dengan mata telanjang di sekujur tubuh buminya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang normatif dan standart saja masih teramat banyak di antara mereka yang Senin – Kamis. Disi adong, disi habis. Mau membiayai pendidikan putra-putrinya, ngutang. Mau memulai mengolah usaha pertaniannya, ngutang, Bahkan, kalau mendadak sakit dan harus ke dokter, ngutang. Oalah. Untuk membiayai upacara penguburan orang tuanya pun mesti ngutang dulu.
Tidak boleh diingkari, produksi berbagai ragam komoditas di daerah ini tambah tahun tambah pula angkanya. Terutama misalnya, tanaman holtikultura. Tomat, sayuran sampai cabai dan kentang, boleh jadi produksinya melimpah ruah. Tapi karena harga jualnya lebih kerap melorot tajam hingga ke titik nadir, semua tidak menghasilkan uang yang cukup. Apalagi jika dibandingkan dengan ongkos produksi yang terus menerus meninggi. Alhasil, meski pun anak negeri setiap hari setiap saat membanting tulang, semua tak mampu untuk memenuhi kebutuhan.
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, justru punya hobby aneh. Uang anak negeri di APBD, tiap tahun digunakan untuk banyak hal yang tidak berkaitan langsung dengan peningkatan pendapatan rakyat. Untuk segala macam pesta-pestalah, misalnya untuk biaya peringatan Hari Jadi Kabupaten Humbang Hasundutan, untuk biaya Pesta Tahun Baru, termasuk untuk biaya Pesta Danau Toba. Belum lagi untuk biaya kegiatan PKK yang dinilai terlalu banyak jika dibanding dengan yang dihasilkannya. Sementara, dalam pandangan saya PKK itu hanya sekadar Perempuan Kurang Kerjaan.
Missi pemerintahan Mddin Sihombing Bupati Humbang Hasundutan yang sekarang, cukup manis untuk didengar. Point ketiga bunyinya : Meningkatkan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian. Tapi sepanjang yang saya cermati lewat Buku APBD Kabupaten Humbang Hasundutan dari tahun ke tahun, point tadi tidak diimbangi dengan sasaran yang jelas dan nyata Tahun Anggaran 2006 misalnya, dari Rp 255.010.671.227 Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, hanya Rp 7.307.324.026 (2, 87 persen) yang diperuntukkan bagi Dinas Pertanian. Padahal, hampir 90 persen anak negeri kabupaten itu hidup dari sektor pertanian. Sementara sektor pertanian memiliki kontribusi terbesar (61 persen) PDRB daerah itu.
Pemkab Humbang Hasundutan, agaknya gemar sekali membelanjakan uang anak negerinya untuk bidang pekerjaan umum. Tahun Anggaran 2006 misalnya, ada Rp 68.552.791.740 yang dikucurkan untuk sektor ini (26, 88 persen dari APBD) Di banyak lokasi memang, ragam infrastrukur yang dibangun. Meski pun, banyak di antaranya yang tidak bisa dinikmati anak negeri. Pembukaan ruas jalan dari kawasan Hutaraja ke Aek Silang di Kecamatan Doloksanggul misalnya, mengkuras dana bermiliar-miliar rupiah. Tapi sampai sekarang tak pernah juga digunakan sebagai lintasan umum. Semua kendaraan termasuk truk-truk pengangkut balok-balok untuk PT TPL di Porsea, masih (tetap) melintas membelah jantung kota Doloksanggul Akibatnya gampang ditebak. Ruas jalan yang sudah dibuka tadi awalnya ditumbuhi rumput, selanjutnya pada ilalang dan selanjutnya malah bisa tertutup (lagi)
Sampai sekarang saya lihat, sektor pertanian yang menjadi andalan anak negeri (tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) masih terlalu diabaikan bahkan terkesan dianaktirikan. Padahal, sektor ini sangat strategis untuk dikembangkan. Apalagi sebenarnya, Kabupaten Humbang Hasundutan masih memiliki lahan yang luas sekali untuk diolah. Lahan-lahan tadi tersebar dan menyebar di semua kecamatan yang ada. Mulai dari Kecamatan Baktiraja sampai ke Kecamatan Parlilitan. Mulai dari Kecamatan Sijamapolang hingga ke Kecamatan Pollung yang berbatasan dengan Kabupaten Samosir. Tapi apa mau dikata, anak negeri masih saja miskin tak karu-karuan.
Pemkab Humbang Hasundutan agaknya lebih cenderung hobby menggunakan uang anak negerinya untuk berbagai belanja pegawai sampai kesannya wah dan hura-hura. Membangun gedung-gedung kantor pemerintah dengan megah dan mentereng, Pemkab gemar sekali supaya merasa beteng. Dilengkapi pula dengan ragam fasilitas mobilier yang mahal dan mewah. Belum lagi pengadaan kendaraan dinas pejabat buatan tahun tinggi. Kondisi yang begini mau tidak mau membawa konsekwensi tingginya biaya pemeliharaan dan biaya perawatan.
Dalam soal fasilitas untuk staf Pemkab, Humbang Hasundutan saya lihat number one dibanding Tapanuli Utara, Toba Samosir dan Samosir. Pemkab Humbang Hasundutan malah menurut saya, terkesan boros dan royal. Agaknya, Pemkab berupaya keras dan terus menerus mensejahterakan stafnya. Bukan malah mensejahterakan anak negerinya.
Setahun setelah Kabupaten Humbang Hasundutan dibentuk sebagai suatu daerah otonomi baru (2004), jumlah penduduk miskin disini ada 12.711 kepala keleuarga atau 20, 11 persen dari jumlah penduduk yang ada. Tapi pada 2005, justru penduduk miskin bertambah menjadi 15.715 kepala keleuarga atau 63, 09 persen dari jumlah penduduk. Meski pun – memang – (berdasarkan data BPS), pada 2006 jumlah penduduk miskin menciut menjadi 56, 26 persen.
Ukuran kemiskinan antara lain dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manausia (IPM) Ini dicerminkan oleh Angka Harapan Hidup, Angka Melek Huruf dan Kemampuan Daya Beli Masyarakat. Untuk takaran Sumatera Utara, IPM Kabupaten Humbang Hasundutan berada atau menduduki posisi ke 21 dari 26 kabupaten/ kota yang ada di daerah ini. Kalau dibanding dengan 3 kabupaten lainnya eks Tapanuli Utara dulu, IPM Kabupaten Humbang Hasundutan malah menduduki posisi pencorot. Tahun 2007 misalnya, Kabupaten Toba Samosir 75, 34, Kabupaten Samosir 73,08, Kabupaten Tapanuli Utara 72, 96, sementara Kabupaten Humbang Hasundutan hanya 70, 88.
Menurut kawan saya Ebenezer Lumbangaol yang putra asli Humbang Hasundutan, tinggi rendahnya IPM dipengaruhi oleh 4 hal. Masing-masing produktivitas mendapatkan dan menciptakan lapangan pekerjaan, pemerataan terhadap akses sumber daya ekonomi, kesinambungan dan pembaharuan sumber daya dan pemberdayaan masyarakat. Di luar itu, masih memang kata Ebenezer sebagai syarat tambahan, masing-masing kebebasan politik, ekonomi dan sosial, kesempatan menjadi kreatif dan produktif, serta kesempatan menikmati kehidupan yang sesuai dengan harkat rohani dan jasmani.
Kata Ebenezer lagi, pembangunan ekonomi merupakan syarat utama pemebangunan manusia. Karena didalamnya terjamin peningkatan produktivitas dan peningkatan pendapatan melalui penciptaan lapangan kerja. Jadi, semakin baik pembangunan ekonomi, semakin tinggi pula IPM.
Pembangunan ekonomi Kabupaten Humbang Hasundutan, dapat dilihat dari besaran Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Untuk 2006 misalnya, Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki PDRB sebesar Rp 1, 5 triliun yang jika meniadakan faktor inflasi maka besarnya adalah Rp 800 miliar. Jumlah ini sama dengan 0, 96 persen dari PDRB Sumatera Utara. Suatu pencapaian yang tidak seimbang dengan luas Kabupaten Humbang Hasundutan yang mencapai 3, 25 persen dari luas Propinsi Sumatera Utara.
PDRB sebesar itu disumbangkan oleh tiga sektor yakni pertanian 61 persen, perdagangan 14 persen dan jasa 13 persen. Bernada menekan, Ebenezer menegatakan, angka-angka ini menunjukkan bahwa penggerak utama ekonomi kabupaten ini adalah sektor pertaanian. Karena itulah dia beranggapan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Humbang Hasundutan terletak pada sejauh mana sektor pertanian digerakkan.
Masih menurut Ebenezer Lumbangaol, jika dilihat dari kelompok sektor, maka kontributor terbesar PDRB Kabupaten Humbang Hasundutan adalah sektor primer (62 persen), sekunder (18 persen) dan tersier (20 persen) Sektor primer adalah produksi yang diperoleh secara langsung (kemenyan, tomat, andaliman, kopi, dan sebagainya) Sektor sekunder adalah proses pengolahan bahan baku primer (balsem kemenyan, saos cabai, saos tomat, bubuk andaliman, bubuk kopi, dan sebagainya) Sementara sektor tersier adalah jasa-jasa perdagangan (toke kemenyan, tengkulak cabai, tengkulak tomat, tengkulak kopi dan sebagainya)
Dominasi sektor primer yang hanya menghasilkan bahan baku menunjukkan bahwa struktur ekonomi Kabupaten Humbang Hasundutan belum dapat digolongkan sebagai ekonomi produktif, katanya. Karena, katanya lagi, struktur ekonomi yang tidak memberi nilai tambah.
Karena bertumpu pada kegiatan produksi itu pula, tidak mengherankan jika pertumbuhan ekonomi Kabupaten Humbang Hasundutan tidak tergolong tinggi. Untuk 2006, laju pertumbuhan ekonomi daerah itu adalah 5, 77 persen meski pun menurut versi Pemkab Kabupaten Humbang Hasundutan 6, 32 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata Sumatera Utara yang mencapai 6, 18 persen. Apalagi kalau mau dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Kesimpulannya adalah, anak negeri Kabupaten Humbang Hasundutan masih miskin, dan tugas kita adalah memerangi kemiskinan sampai ke akar-akarnya. Kemiskinan memang harus diberantas, diberangus, sebab kemiskinan merupakan musuh kita yang utama. Gubernur Sumatera Utara non aktif Syamsul Arifin sendiri yang sekarang di penjara bilang : Rakyat tidak boleh miskin. Tidak boleh !
Lantas apa yang bisa dilakukan agar rakyat bisa sejahtera artinya tidak miskin(lagi) seperti anak negeri di Kabupaten Humbang Hasundutan ?
Kawan saya Ebenezer Lumbangaol tadi mengatakan : Yang utama sekali adalah kreativitas dan produkivitas. Semakin kreatif dan produktif sebuah masyarakat, semakin sejahtera pula mereka, katanya berteori.
Menurut Ebenezer, kreativitas dan produktivitas muncul dari sebuah paradigma ide teologis tentang kreasi dan produksi. Bagi orang Kristen, kata Ebenezer, ide teologis ini adalah dasar rasionalisasi dan modernisasi. Manusia adalah co-creator, rekan sekerja Allah yang diberi mandat memelihara seluruh ciptaan (kreativitas) dan menghasilkan (produktivitas) apa yang diperlukan untuk kesejahteraan hidupnya bersama manusia di sekelilingnya. Orang Kristen, terpanggil untuk mengusahakan kesejahteraan.
Paradigma ide teologis selanjutnya membentuk karakter dan etos kerja. Dua hal ini menurut Ebenezer merupakan syarat rasionalisasi usaha-usaha ekonomi yang produktif dan kreatif pula. Modernisasi yang dimulai di Eropah dan mencapai puncak di Amerika tidak akan menjadi keniscayaan seandainya mereka tidak memiliki rasionalisasi atas ideologi, karakter dan etos kerja Alkitabiah mengenai penciptaan dan pemeliharaan. Kajian sosiolog Max Weber mengenai etika Protestanisme dan semangat kapitalisme, jelas menunjukkan kaitan erat antara iman dengan etos kerja yang menjadi dasar terbentuknya kapitalisme moderen di Eropah dan Amerika.
“Jadi membangun sebuah masyarakat yang sejahtera, harus dibarengi dengan pembentukan karakter dan etos kerja yang mendukungnya”, kata Ebenezer.
Kalau begitu, saya pikir Pemkab Humbang Hasundutan tak perlu uring-uringan lagi (kedepan) Teori yang diajukan kawan saya Ebenezer Lumbangaol gampang dan praktis untuk diwujudnyatakan dalam bentuk sikap dan tindakan. Anak negeri kabupaten itu harus dibebaskan dari kemiskinan yang melilit kehidupannya seperti selama ini. Mereka tidak boleh (lagi) miskin dan hanya mampu meratapi kemiskinannya. Pemimpin, menurut saya, harus mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Bukan malah mensejahterakan diri dari rakyat yang dipimpinnya !
____________________________________________________________________
Ramlo R Hutabarat
HP : 0813 6170 6993
__________________________________________________________________
Langganan:
Postingan (Atom)